Selundupkan ke Lapas, Sipir Jadi Kurir Sabu Napi

0
393 views
Kepala BNN Banten Tantan Sulistyana memusnahkan barang bukti sabu-sabu sebanyak 100 gram disaksikan para perwakilan instansi terkait, di kantor BNN Banten, Cipocokjaya, Kota Serang, Rabu (10/4). Barang bukti tersebut didapat dari tiga tersangka yang salah satunya sipir Lapas Klas I Tangerang.

SERANG – FD (28) diringkus petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Banten, Jumat (22/3). Oknum sipir itu diringkus saat menyelundupkan sabu-sabu ke dalam Lapas Klas 1 Tangerang. FD nekat menjadi kurir narkotika lantaran dijanjikan imbalan uang oleh narapidana (napi). 

FD ditangkap bermula dari informasi penyelundupan sabu-sabu dari Cianjur, Jawa Barat ke Lapas Klas 1 Tangerang. Setelah diselidiki, Jumat (22/3), petugas mendapati dua lelaki mendatangi Lapas Klas 1 Tangerang. Keduanya terlihat mencurigakan. Dua lelaki berinisial AH (43) dan YS (34) disergap petugas saat berada di parkiran Lapas. Keduanya sempat mengelak telah membawa narkotika.

Namun, AH dan YS tak bisa mengelak saat paket sabu-sabu 100 gram ditemukan petugas dari tangan keduanya. Diakui AH dan YS, sabu-sabu tersebut dipesan warga binaan berinisial HB (46). Petugas meminta keduanya memancing HB. AH kemudian mengirimkan pesan singkat kepada HB. Isinya, pesanan HB telah diletakkan di dekat salah satu mobil di parkiran Lapas.

Namun, sosok FD yang terlihat keluar dari dalam Lapas. FD berjalan mendekati mobil yang dimaksud dan mengambil paket sabu-sabu itu. Saat akan kembali ke dalam lapas, FD diciduk. “Kurir (AH dan YS-red) tidak bisa masuk. Untuk menghubungkan kurir ke dalam (lapas-red) pakai oknum sipir FD,” ujar Kepala BNNP Banten Brigjen Pol Tantan Sulistyana usai pemusnahan barang bukti sabu 100 gram di kantor BNNP Banten, Rabu (10/3).

FD tak berkutik. Dia memilih buka mulut. FD mengaku diminta oleh napi berinisial MM membawa sabu-sabu itu ke dalam Lapas. MM sendiri diperintahkan oleh HB. “Dia (FD-red) baru pertama kali (selundupkan sabu-red),” kata Tantan.

Diduga sabu-sabu itu akan diedarkan di dalam lapas. Tetapi, Tantan enggan menyimpulkan dugaan tersebut. Dalihnya, kasus itu masih dalam pengembangan. “Kalau pesan banyak jaringannya pasti ada. Lagi diproses pengembangannya, mudah-mudahan bisa berkembang ke yang lain karena kami inginkan ke atasnya (bandar besar-red),” kata Tantan.

Sementara, Kasubbid Pelayanan Tahanan Kesehatan dan Rehabilitasi Kanwil Kemenkumham Banten Hannibal menegaskan, bagi pegawai yang terlibat jaringan peredaran narkotika atau mengonsumsi narkotika bakal dijatuhi sanksi. “Yang jelas pimpinan akan melakukan tindakan sedemikian rupa, mungkin saja pemecatan,” kata Hannibal .

Tindakan tegas itu sejalan dengan instruksi Menteri Hukum dan HAM RI Yasonna Laoly. “Instruksi Pak Menteri (Yasonna-red) tidak ada ampun, dipecat,” kata Hannibal .

Hannibal mengaku Kanwil Kemenkumham Banten telah melakukan upaya preventif melalui kerja sama dengan BNNP Banten dalam bentuk sosialisasi dan pemeriksaan urine. “Kami sudah melakukan sosialisasi terus menerus. Kalau kita bicara oknum ini yang sulit,” tutur Hanadil. (mg05/nda/ags)