Wagub Banten Andika Hazrumy (tengah) bersama Kepala DPMPTSP Banten Wahyu Wardhana (kanan) saat dialog investasi awal 2018, Senin (27/8).

SERANG – Berdasarkan laporan kegiatan penanaman modal (LKPM) yang diterima Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Banten, realisasi nilai investasi Provinsi Banten periode semester I tahun 2018 sebesar Rp29,99 triliun dengan 2.055 proyek. Sebagian besar investasi itu berada di Kota Cilegon.

Berdasarkan LKPM, realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) di Provinsi Banten semester I tahun 2018 menempati urutan ketiga tertinggi nasional, hanya kalah oleh Jawa Barat dan DKI Jakarta. Realisasi PMA tercatat sebesar Rp21,97 triliun dengan 1.518 proyek. Sementara, realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) di Banten tertinggi ketujuh nasional, dengan nilai investasi mencapai Rp8 triliun dengan 537 proyek.

Hal itu terungkap dalam dialog investasi awal 2018 yang digelar DPMPTSP di pendopo gubernur Banten, KP3B, Kota Serang, Senin (27/8). Menurut Kepala DPMPTSP Banten Wahyu Wardhana, realisasi investasi tersebut merupakan indikator dan keberhasilan Provinsi Banten sebagai salah satu tujuan investasi nasional. “Kami terus berkomitmen mempromosikan potensi investasi di Banten, salah satunya sektor pariwisata yang menjadi perhatian pemerintah,” kata Wahyu.

Ia melanjutkan, untuk mendorong pertumbuhan investasi, DPMPTSP Banten tidak sekadar mengandalkan potensi alam dan letak geografis semata, tetapi juga meningkatkan rasio kemudahan berusaha melalui layanan perizinan terpadu PTSP.

Pada semester I 2018, sektor dengan nilai investasi tertinggi pada PMA adalah industri logam dasar, barang logam, mesin, dan elektronik sebesar Rp4,99 triliun (196 proyek). Selanjutnya, industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi Rp4,73 triliun (178 proyek); perumahan, kawasan industri dan perkantoran Rp4 triliun (63 proyek); listrik, gas, dan air Rp2,14 triliun (19 proyek); serta industri karet, barang dari karet, dan plastik Rp1,21 triliun (95 proyek).

Sementara pada investasi PMDN, sektor dengan nilai investasi tertinggi juga terjadi pada industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik dengan nilai investasi sebesar Rp1,84 triliun (108 proyek), transportasi, gudang, dan telekomunikasi Rp1,49 triliun (13 proyek); perdagangan dan reparasi Rp1,08 triliun (28 proyek); industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi Rp1 triliun (68 proyek); serta listrik, gas, dan air Rp556,80 miliar (19 proyek).

Menanggapi iklim investasi di Banten yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy berkomitmen untuk terus meningkatkan pelayanan terhadap calon investor baru. “Sebagai daerah tujuan investasi di tanah air, ada banyak potensi investasi di Banten yang bisa dijual kepada para investor di delapan kabupaten kota terutama sektor pariwisata. Selain itu, sektor budaya juga potensial untuk dikembangkan termasuk kawasan Banten Lama yang saat ini direvitalisasi di Kota Serang,” ujarnya.

Andika menambahkan, Pemprov Banten meyakini wisata religi Banten Lama dapat menarik wisatawan yang pada akhirnya akan memberikan multiplier effect pada sektor lain. Andika melanjutkan, sejauh ini pekerjaan revitalisasi Banten Lama telah mengalami perkembangan sejak ditandatanganinya MoU antara Pemprov Banten dengan Pemkot dan Pemkab Serang pada Juli 2018. Perkembangan dimaksud, antara lain kanal di sekitar kawasan yang selama ini diketahui kumuh dan kotor serta menjadi tempat usaha liar, kini sudah mulai dilakukan perbaikan dan pembangunan untuk fasilitas wisata air. Lalu, daerah depan masjid diperbaiki sehingga lebih rapi dan tertata, serta ditambahkan fasilitas terminal wisata yang lebih representatif untuk menampung wisatawan yang datang berkunjung.

“Tentu saja aksesibilitas dalam hal ini sangat penting sebagai penunjang kegiatan investasi. Oleh karenanya, kita berharap pembangunan yang masuk dalam proyek strategis nasional seperti Tol Serang-Panimbang akan memberikan dampak bagi pertumbuhan investasi di Banten,” ungkapnya. (den/aas/dwi)