TANGERANG – Waspada merebaknya penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan chikungunya mulai diberlakukan Pemkot Tangerang.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Tangerang Henny Herlina mengatakan, mulai merebaknya kasus DBD di wilayah luar lantaran gejala alam, adanya peralihan musim dari kemarau ke musim hujan. “Ini namanya musim pancaroba,” kata Henny, Jumat (29/1)

Kata dia, lewat musim pancaroba menyuburkan jentik-jentik nyamuk yang menyebabkan penyakit DBD dan chikungunya. Karena itu, pencegahannya tidak lain PSN dan kegiatan 3M plus, harus masif. Selain itu, masyarakat juga harus melakukan pola hidup bersih dan sehat.

Sementara, sampai akhir Januari ada lima kasus DBD di Kota Tangerang. Sedangkan, total kasus DBD pada 2015 sebanyak 518. Kasus tertinggi berasal dari Kecamatan Cipondoh sebanyak 77 kasus dan terendah dari Kecamatan Neglasari sebanyak 8 orang.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Tangerang Indri Bevi menambahkan, warga agar cepat melapor bila ada yang terkena DBD. Pelaporan bisa dilakukan ke RT/RW setempat dan langsung ke puskesmas. “Kemudian bila di wilayahnya positif DBD maka dilakukan fogging,” ujarnya.

Sementara di wilayah kerja Puskesmas Ciledug sampai akhir Januari ada dua orang yang terkena kasus DBD. Mereka yang terkena itu sudah sembuh. Namun penularan penyakit itu bukan di wilayah Ciledug. “Setelah kita lakukan epidemologi ternyata bukan di sini,” kata Kepala Puskesmas Ciledug Iradani Yupitaningrum.

Diketahui, seluruh pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), camat dan lurah dalam evaluasi rutin di ruang Akhlakul Karimah, Puspem Kota Tangerang, Senin (26/1) lalu.

Pemkot Tangerang mengeluarkan surat edaran (SE) tentang Kewaspadaan Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD dan Chikungunya. Surat edaran itu bernomor 900/189-Dinkes/2016 yang disampaikan kepada camat dan lurah se-Kota Tangerang.

Dalam isi surat edaran itu kurang lebih berisi agar melakukan koordinasi dengan berbagai pihak tingkat kecamatan dan kelurahan supaya melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Kemudian, melaksanakan  kegiatan  menguras, menutup, mengubur dan menyemprot yang berpotensi menjadi sarang nyamuk (3M plus), serta pemantauan jentik nyamuk.

Pun, mengoptimalkan peran kader juru pemantau jentik (jumantik), peyuluhan DBD dan segera melaporkan bila ada warga yang terkena penyakit DBD. (iws/dai)