Sepekan, Banten Diguncang 10 Gempa

Ilustrasi (pixabay)

SERANG – Dalam sepekan ini, Banten dan sekitarnya diguncang gempa bumi tektonik sebanyak sepuluh kali. Hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tangerang menunjukkan bahwa kekuatan gempa bumi itu bervariasi.

Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika Klas 1 Tangerang Urip Setiyono mengatakan, kekuatan gempa bumi yang terjadi dari 2,6 magnitudo hingga 4,6 magnitudo dengan kedalaman dangkal kurang lebih 60 kilometer dan menengah kurang lebih 300 kilometer. “Sebaran pusat gempa bumi (episenter) umumnya berada di laut, yaitu pada zona pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia di bagian barat Bengkulu-Lampung hingga selatan Provinsi Banten dan Jawa Barat,” terang Urip melalui press release, Jumat (29/11).

Kata dia, dari sepuluh gempa bumi yang terjadi itu, 80 persennya atau delapan kejadian gempa bumi berkekuatan kurang lebih tiga hingga lima magnitudo. Sedangkan 90 persen gempa bumi terjadi pada kedalaman dangkal kurang lebih 60 kilometer dan sepuluh persen sisanya terjadi di kedalaman menengah kurang lebih 300 kilometer.

“Tidak ada laporan gempa bumi dirasakan maupun merusak selama periode 22-28 November 2019 di wilayah Banten,” ungkapnya. 

Namun, ia mengingatkan, bencana terjadi tidak menunggu kapan manusia siap. Untuk itu, pihaknya mengimbau agar masyarakat mempersiapkan diri dan keluarga untuk mengantisipasinya.

Urip mengungkapkan, sebagian besar kejadian tsunami di Indonesia maupun di dunia disebabkan oleh gempa bumi. Gempa bumi yang membangkitkan gelombang tsunami adalah gempa bumi dengan kekuatan yang besar kurang lebih tujuh magnitudo dan berpusat di laut dengan kedalaman dangkal sehingga menghasilkan goncangan yang kuat.

“Yang membuat kita sulit berdiri dan kepala pusing atau gempa bumi lemah tetapi guncangannya dirasakan lama, yakni lebih dari satu menit dapat memicu tsunami dalam waktu singkat,” terangnya.

Selain itu, ia mengatakan, tsunami juga bisa disebabkan oleh longsoran bawah laut, letusan gunung api di laut, serta jatuhnya meteor ke laut. Salah satu tsunami terbesar dan paling merusak yang disebabkan oleh letusan gunung api adalah saat Gunung Krakatau meletus pada tanggal 26 Agustus 1883. Letusan itu menghasilkan gelombang yang mencapai 41 meter, menghancurkan kota-kota pesisir dan desa-desa di sekitar Selat Sunda serta menewaskan puluhan ribu orang.

Untuk kesiapsiagaan, Urip mengatakan, masyarakat perlu memahami tiga langkah tanggap tsunami, yaitu tanggap gempa, tanggap peringatan, dan tanggap evakuasi. Untuk tanggap tsunami, bisa diawali gempa bumi yang kuat sehingga sulit berdiri dan kepala pusing atau gempa bumi lemah tetapi guncangannya dirasakan lama, yakni lebih dari satu menit dapat memicu tsunami dalam waktu singkat.

“Jauhi pantai dan tepi sungai, serta cari informasi apa yang terjadi,” ujarnya.

Untuk tanggap peringatan, ia menerangkan, masyarakat bisa mendapatkan informasi peringatan dari BMKG melalui TV, radio, atau pengumuman di sekitar. Jika terdengar bunyi sirine, kentongan, atau peralatan lain yang sudah disepakati, segera evakuasi.

Kemudian tanggap evakuasi, yakni setelah gempa bumi atau menerima peringatan tsunami, segera evakuasi ke lokasi yang aman. “Ikuti jalur dan rambu evakuasi, jika ada. Kalau lokasi aman tidak diketahui, larilah sejauh mungkin dari pantai, naiklah ke tempat yang tinggi, yakni perbukitan atau bangunan tinggi,” tutur Urip.

Kata dia, perlu diketahui bersama bahwa tidak disarankan pergi ke pantai untuk mengecek dan melihat datangnya tsunami karena gelombangnya bergerak sangat cepat sehingga berpotensi menghempas. Saat evakuasi, diimbau tidak menggunakan kendaraan karena berpotensi menyebabkan kemacetan dan menghambat proses evakuasi.

“Hindari melakukan evakuasi melalui jembatan. Dan, tsunami tidak selalu  ditandai dengan air laut surut,” ujarnya.

Kata dia, kesiapsiagaan harus selalu dikedepankan meskipun aktivitas kegempaan pada Minggu kelima November cenderung lebih rendah dibandingkan dengan minggu-minggu sebelumnya, mengingat Banten dan sekitarnya berada di jalur kegempaan yang cukup aktif.  “Gempa bumi yang berpotensi menyebabkan kerusakan di Banten dan sekitarnya bersumber dari sekitar Selat Sunda, yaitu sesar Ujung Kulon, Zona Megatrust selatan Banten, serta sesar Semangko,” terang Urip. (nna/alt/ira)