Ilustrasi

Minten (44) nama samaran mengaku, kalau bicara urusan cinta, ia memiliki banyak pengalaman sewaktu muda, baik yang bahagia maupun menderita. Maklumlah, dengan penampilan anggun ditambah kecantikan yang memesona, bukan perkara sulit bagi Minten menarik hati lelaki idaman.

Terlahir dari keluarga sederhana, ia menjadi anak yang paling disayang keluarga. Soalnya, Minten anak terakhir dari empat bersaudara dan anak perempuan satu-satunya. Apa yang diminta pasti terlaksana. Hingga usia beranjak dewasa, penyeleksian dalam menentukan calon pendamping hidup pun dilakukan.

Silih berganti lelaki mengisi hari-hari, tetapi belum ada yang mampu membuat Minten yakin untuk memilih. Sampai suatu hari, dipertemukan secara tak sengaja dengan salah satu teman kakaknya, Minten jatuh cinta pada pandang pertama. Lelaki itu tak lain ialah Tuple (40) bukan nama sebenarnya.

Meminta bantuan pada sang kakak, Minten dan Tuple sukses menjalin cinta. Dengan peristiwa kebetulan tak disengaja itu, lantaran sama-sama suka, mereka menjalin asmara. Meski awalnya sempat tak enak pada sang kakak, dengan meminta izin baik-baik, keduanya pun direstui berpacaran. Widih, tapi kan itu usianya tiga tahun lebih muda, suka sama yang berondong ya, Teh?

“Ya elah, Kang. Zaman sekarang mah enggak pandang usia. Mau beda tiga atau sepuluh tahun, tapi kalau sudah cinta mah susah. Ya, selera saya memang lelaki yang lebih muda,” akunya kepada Radar Banten.

Enam bulan lebih menjalin cinta, saling belajar dan memahami karakter masing-masing, keduanya sepakat menuju jenjang pernikahan. Status Tuple yang bisa dibilang anak orang kaya, tak disia-siakan Minten untuk cepat-cepat menuju tahap yang lebih serius.

 Tuple sendiri bukan lelaki biasa. Selain terlahir dari keluarga berada, ayah pegawai salah satu bank swasta dan ibu pengusaha, ia memiliki posisi yang bagus di tempatnya bekerja. Dengan gaji yang lumayan besar, ia tak perlu pusing memikirkan persiapan pernikahan.

Mempertemukan kedua keluarga, prosesi lamaran pun terlaksana. Hebatnya, tiga bulan kemudian mereka melangsungkan pernikahan. Mengikat janji sehidup semati, Tuple dan Minten resmi menjadi sepasang suami istri. Dengan ekonomi yang mumpuni, Tuple tampak berhasil membahagiakan sang istri.

Membeli rumah dan kendaraan pribadi, bahtera rumah tangga keduanya bersiap mengarungi lautan kehidupan nan penuh misteri. Dengan keadaan ekonomi mumpuni, mereka mendapat apresiasi besar dari keluarga. Menyambut hangat penuh manja setiap kali berkunjung ke rumah, Minten menjadi anak yang dibanggakan. Wajarlah ya, entah karena nasib baik atau memang sudah takdir Tuhan, Minten mendapat suami mapan. Beuh, ini sih namanya rezeki anak bungsu.

“Ya alhamdulillah, Kang. Soalnya kan dibanding sama kakak-kakak saya, mereka tuh kebanyakan merintis dulu dari bawah,” curhatnya.

Seiring berjalannya hari, rumah tangga keduanya berjalan lancar. Sang suami sibuk bekerja, Minten pun telaten mengurus rumah dan melayani Tuple. Hingga setahun usia pernikahan, hadirlah anak pertama, membuat hubungan mereka semakin mesra.

Meski semua terkesan baik-baik saja, nyatanya tidak dengan perasaan Minten yang gelisah. Semua bermula ketika beberapa tetangga membincangkan hal yang tengah panas waktu itu. Ya, maklumlah ibu-ibu, pasti tahu segala hal yang berbau tak sedap. Sambil merendahkan suara, mereka asyik berbagi cerita. Wih, memang pada ngomongin apa sih, Teh?

“Katanya, saya harus hati-hati. Sekarang lagi zamannya WhatsApp dan media sosial lainnya, kita sebagai istri harus pintar-pintar jaga suami.” begitu kata Minten meniru ucapan tetangga. Loh, apa hubungannya WhatsApp dan jaga suami?

“Ya, maksudnya takut suami diem-diem selingkuh terus chatting-an sama cewek lain gitu, Kang!” terang Minten.

Parahnya, seolah sengaja membuat Minten semakin tak nyaman, para tetangga itu mengompori dengan mengatakan bahwa posisi suami Minten yang punya banyak uang, pasti mudah mengundang perselingkuhan. Katanya, banyak juga kejadian suami selingkuh lewat medsos. Widih, ngeri amat ya Teh!

“Ya, waktu itu saya sih enggak peduli, Kang. Dulu yang ada dipikiran saya tuh, hal-hal kayak gitu mah enggak mungkin terjadi sama saya dan Kang Tuple. Toh, kita baru saja punya anak, masa sih dia tega,” aku Minten.

Hari demi hari dilalui Minten dan sang suami seperti biasanya. Layaknya pasangan pada umumnya, setiap ada waktu luang, mereka menyempatkan diri liburan. Ke pantai, puncak, dan tempat rekreasi lainnya, Minten dan Tuple tampak harmonis.

Hingga memasuki tahun kedua pernikahan, semua memang tak ada yang berubah. Tuple tetap dengan sikapnya yang lembut dan perhatian pada anak istri. Minten pun menjadi ibu dan istri yang baik. Pokoknya, rumah tangga mereka berjalan sempurna seolah tak ada masalah.

Pada suatu hari tak seperti biasanya dengan wajah tegang tapi dipaksakan tersenyum, sang kakak datang bertamu ke rumah mencari Tuple. Lantaran sang suami baru pulang selepas magrib, sang kakak rela menunggunya sedari sore.

Mengobrol sana sini sambil menikmati cemilan dan minuman, Minten dan sang kakak menghabiskan senja dengan canda tawa. Sampai tak terasa, matahari terbenam mendatangkan malam. Selepas salat, Minten izin menidurkan bayinya di kamar, sedangkan sang kakak asyik bermain handphone di ruang tamu.

 Tak lama, terdengar salam sang suami yang baru pulang dan langsung disambut kakaknya. Lantaran sang buah hati masih menangis, Minten memutuskan tak langsung menyambut Tuple. Ia terus berusaha menenangkan bayinya yang tak kunjung tertidur.

Sampai sekian menit kemudian, terdengar suara benturan pintu disertai erangan sang suami. Sontak Minten kaget, ditinggalkannya sang anak yang masih menangis. Ketika membuka pintu, didapatinya Tuple sedang kesakitan sambil memegangi perut. Waduh, kenapa itu Kang Tuple?

“Saya awalnya enggak tahu permasalahannya apa, tapi waktu itu dia dipukul kakak saya sampai tersungkur,” curhat Minten.

Minten naik pitam, dimarahinya sang kakak seraya mengangkat tubuh Tuple. Namun, apalah daya, bagai tersambar petir di siang bolong, Minten kaget bukan kepalang. Mulutnya yang semula berkoar, bungkam dalam sekejap ketika mendengar ucapan kakaknya.

“Kata kakak saya, Kang Tuple punya selingkuhan. Dia dikasih tahu temen sekerja Kang Tuple yang juga temen kakak saya. Bukan cuma itu, kakak saya kasih lihat bukti chatting-an WhatsApp yang mesra-mesraan sama wanita lain,” kata Minten. Astaga, parah amat.

Minten tak kuasa menahan air mata. Malam itu juga, ia pergi ke rumah orangtua bersama kakaknya. Tiga bulan mengurung diri di rumah. Minten mencoba melupakan sang suami. Beruntung, belum ada kata cerai yang keluar dari mulutnya. 

Setelah dilakukan musyawarah keluarga, Tuple meminta maaf dan menjelaskan kalau itu hanya sebatas komunikasi tanpa pernah bertemu secara langsung, Minten pun memaafkan. Mereka kembali menjalani rumah tangga.

Ya ampun, semoga kejadian itu enggak terulang lagi. Sabar ya Teh Minten. (daru-zetizen/zee/dwi)