Sepenggal Cerita Mbak Sri ‘Utusan Tuhan’

Sri Hartatik, warga di Pekalongan, Jawa Tengah yang mengaku sebagai utusan Tuhan. Foto: Radar Pekalongan/JPG
Sri Hartatik, warga di Pekalongan, Jawa Tengah yang mengaku sebagai utusan Tuhan. Foto: Radar Pekalongan/JPG

Sri Hartatik (48), warga Desa Kalilembu, Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan akhir-akhir ini meramaikan pemberitaan media. Bekas guru berstatus PNS itu mengaku telah menerima wahyu dan mendeklarasikan diri sebagai utusan Tuhan.

Sebagaimana dilaporkan Radar Pekalongan (Jawa Pos Group), Sri memang sudah berniat tobat. Namun, masih ada pertanyaan tentang asal-usul Sri menyusun sebuah kitab bernama Na’sum.

Sri yang tak mau disebut sebagai nabi memang mengaku mendapat bisikan-bisikan gaib. Bahkan Sri saat salat pun tetap menerima bisikan-bisikan gaib yang akhirnya ia susun menjadi Alkitab Na’sum.

“Ayat-ayat itu terus muncul sampai sekarang,” katanya. “Kadang salat dan wiridan muncul ayat,” katanya saat ditemui Radar Pekalongan, belum lama ini.

Sedangkan soal Alkitab Na’Sum, kata Sri, merupakan wahyu yang lengkap. Sebab, katanya, kitab itu terdiri dari Taurat, Zabur, Injil dan Al Quran.

Selain itu juga ada kitab dunia dan kitab kebersihan diri. “Kitab ini juga berisi ajakan, himbauan dan pengumuman-pengumuman. Ada yang sudah menanyakan ke sini untuk sekedar tanya,” tandasnya.

Ia juga membeber perbedaan antara Alkitab Na’sum dengan Alquran. Menurut Sri, di dalam Alquran ada tujuh neraka. Sedangkan dalam Alkitab Na’sum ada 17 neraka.

Ia bahkan membanggakan kitab yang ditulisnya. Salah satunya adalah untuk menyembuhkan penyakit. “Kitab ini cocok untuk menyembuhkan orang yang terkena guna-guna,” katanya.

Namun, Sri tetap tak mau mengaku nabi. Padahal dengan kitab itu pula Sri membuka praktik penyembuhan.

“Saya juga tidak pernah ngaku-ngaku sebagai nabi. Bisa dicek ke pasien saya, apakah saya pernah ngaku-ngaku sebagai nabi. Saya hanya utusan. Kalau utusan belum tentu nabi, kalau nabi sudah tentu utusan,” tegasnya.

Sri juga mengaku tak pernah mengajak orang lain untuk menjadi pengikutnya. Kalaupun ada yang membawa Alkitab Na’sum, katanya, hal itu karena pasiennya.

“Saya juga tidak pernah ngajak orang untuk mengikuti ini. Terserah percaya atau tidak. Kalaupun tidak percaya, saya juga tidak rugi,” ucapnya.

Sri pun mengaku masih tetap menjalankan salat. Namun, ia memang tak menghadap kiblat. “Kalau salat wajib sama semua, hanya saya memang salatnya menghadap timur sesuai petunjuk tahun 2013 lalu,” paparnya. (jpg/ara/jpnn)