Sepenggal Cerita Personel Polisi Penjaga Arus Mudik: Harus Lebaran di Jalan

Bukan karena Tak Sayang Keluarga

Petugas kepolisian berjaga di pos pantau posko mudik di depan Alun-alun Barat, Kota Serang, Senin (11/6).

Bukan tidak ingin berkumpul bersama keluarga. Bukan tidak ingin mengantar istri dan anak ke pusat perbelanjaan. Namun, itu harus dikesampingkan karena bertugas menjaga keamanan pemudik.

RIKO BUDI S – SERANG

Ipda Ade Komarudin, yang saat ini bertugas sebagai Kepala Unit Laka Polres Serang Kota, sejak 2014 lalu merasakan Lebaran dengan berteman suara knalpot dan asap kendaraan. Termasuk tahun ini, ia pun kembali tidak dapat berlebaran di rumah bersama keluarga. Ia harus melaksanakan tugas di jalan.

“Di sisi lain saya pengin berkumpul bersama anak dan istri di rumah saat Lebaran, tetapi jujur hal itu saya abaikan. Bukan karena saya tidak sayang mereka. Tapi, mereka juga sudah mengerti bahwa inilah tugas bapaknya, suaminya. Kami punya tanggung jawab sebagai petugas untuk mengamankan arus mudik,” ujar Ade saat ditemui Radar Banten di Posko Pengamanan Arus Mudik di depan Alun-alun Barat, Kota Serang, Senin (11/6).

Ade mengakui, terkadang ia juga dihinggapi perasaan sedih tatkala harus menolak secara halus permintaan anak-anaknya untuk menemani berbelanja perlengkapan Lebaran di pusat perbelanjaan. Kemudian ia memberikan pemahaman kepada anak dan istrinya sehingga akhirnya mereka dapat mengerti.

“Selama bulan puasa ini, jujur saya belum pernah mengantarkan anak dan istri ke mal karena memang waktunya terbentur tugas. Paling anak istri ke mal naik taksi online, saya hanya tahu saja bahwa keluarga saat ini sedang jalan, dibagi tugas sama istri,” katanya.

Pria kelahiran Ciamis, Jabar, yang menikahi wanita asal Kota Serang ini bercerita, sepulang ke rumah sehabis bertugas, anak-anaknya selalu menyambut dengan riang. Ia memaklumi bahwa waktu yang diberikan kepada keluarganya tidak terlalu luang.

“Anak saya dua orang. Yang satu kelas V SD, yang satunya usia lima tahun. Pada saat saya di kantor kalau malam anak telepon, saya tanya kenapa belum tidur, jawabnya menunggu ayah pulang. Hati kecil sih sedih, tapi itu ya tanggung jawab,” ucapnya.

Ade menuturkan, bertugas sebagai polisi lalu lintas sudah bukan rahasia umum lagi jika waktunya lebih banyak di jalan. Baik itu pengaturan lalu lintas dan penegakan hukum lalu lintas. “Pelaksanaan apel saja sudah mulai dari jam enam. Kemudian aktivitas sehari-sehari mulai dari pengaturan lalu lintas dan sebagainya. Sampai dengan malam hari hingga situasi sepi, landai baru kita pulang,” ungkapnya.

Apalagi, ditambahnya pelaksanaan Operasi Ketupat pada Ramadan ini. Dengan begitu, tugas polantas dan polisi umum lainnya menjadi bertambah. “Kenapa demikian? Karena pada pelaksanaan Operasi Ketupat ini kami ditugaskan untuk benar-benar melayani masyarakat, baik masyarakat lokal dan luar daerah atau pemudik,” katanya.

Pelaksanaan Operasi Ketupat, sambung Ade, dimulai pada H-7 hingga H+7 Lebaran. H-7 siaga arus mudik kemudian H+7 Lebaran pengamanan menuju dan di arus wisata. “Saya belum pernah seharian merasakan full berada di rumah saat Lebaran. Kalau tidak di jalan, kami berada di pos pengamanan. Dari tahun ke tahun seperti itu, waktu masih bintara bertugas di Polda tahun 2014,” tuturnya.

Kata dia, ada beberapa tempat yang harus mendapatkan pengamanan khusus. Di antaranya, jalur wisata religi Banten Lama di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, kemudian jalur menuju Anyar yang melalui Palima-Ciomas. “Animo masyarakat melalui jalan itu sangat luar biasa. Ini merupakan PR (pekerjaan rumah) bagi kami untuk memberikan pelayanan kelancaran berlalu lintas,” ucapnya. (*)