Seribuan Dus Kosmetik Ilegal Disita di SPBU Pulomerak

Kepala BPOM RI Penny K Lukito (kiri) menunjukkan barang bukti kosmetik ilegal yang disita BPOM Serang di Kantor BPOM Serang, Kota Serang, Selasa (27/3).

SERANG – Tim gabungan berhasil menggagalkan penyelundupan 1.055 dus kosmetik ilegal merek RDL Hydroquinon Tretinoin Babyface dari Sumatera di salah satu SPBU di Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, Minggu (25/3). Barang ilegal itu diangkut menggunakan satu unit mobil jasa ekspedisi.

Tim terdiri atas Balai POM Serang, Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Merak, Polsek Pulomerak, Balai Karantina Pertanian Klas II Cilegon, dan Stasiun Karantina Perikanan.

Kepala BPOM RI Penny K Lukito mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan pihaknya, pengiriman kosmetik ilegal itu diduga dari wilayah Sumatera dengan tujuan Jakarta melalui Pelabuhan Merak. “Setiap dus berisi 128 botol. Diperkirakan nilai keekonomian temuan kosmetik ilegal ini mencapai lebih dari Rp 5 miliar,” ujar Penny saat ekspose hasil penangkapan kosmetik ilegal di kantor Balai POM di Serang, Selasa (27/3).

Kasus tersebut masih dalam penyelidikan BPOM Serang. Penny menargetkan, akan mengungkap siapa saja yang terlibat akan peredarannya dalam waktu cepat. Dari hasil pemantauan petugas, produk kosmetik ilegal tersebut diedarkan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia dan produk itu mengandung bahan berbahaya.

“Produk kosmetik ilegal ini kita sita. Sebagai tindak lanjutnya, kami sedang melakukan investigasi kepada pemilik atau penanggung jawab produk dengan dugaan pelanggaran terhadap Pasal 169 dan Pasal 197 UU Nomor 36 Tahun 2019 tentang Kesehatan. Ancamannya, hukuman pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar,” ungkapnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten Babar Suharso yang hadir dalam ekspose mengaku akan mengerahkan petugas untuk merazia produk tersebut di seluruh wilayah Banten. Kata dia, produk tersebut tidak boleh beredar tanpa izin. Apalagi produk itu memiliki bahan berbahaya bagi kesehatan masyarakat. “Kalaupun boleh, itu obat dan harus melalui resep dokter. Kita akan melacak peredarannya, walaupun di Banten hingga saat ini belum ditemukan. Kita segera akan memeriksa produk ini di rumah kecantikan dan toko-toko yang menjual obat,” ujarnya. (Riko Budi S/RBG)