Sering Cekcok, Neneng Tewas Dibogem Roy

TIGARAKSA – Sering cekcok dan bertengkar lantaran masalah ekonomi, Neneng Nurmaya (35) tewas dibogem (tangan kosong,-red) oleh pelaku HG alias Roy (33) di rumah kontrakannya di Perumahan Taman Adiyasa, Blok J, Desa Cikasungka, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang. Diketahui, keduanya sudah tinggal bersama selama satu bulan tanpa ikatan pernikahan dan tanpa diketahui keluarga korban.

Hal itu diungkapkan Kasatreskrim Polres Kota Tangerang Wiwin Setiawan yang menceritakan kronologi kejadian. Korban merupakan warga Kampung Panunggulan, Desa Mekarbaru, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang. Keduanya juga masing-masing membawa satu orang anak dari pernikahan sebelumnya di rumah kontrakan tersebut. Lantaran HG alias Roy hanya seorang pekerja serabutan, saat di rumah korban sering marah-marah lantaran kebutuhan ekonomi. “Pelaku (HG alias Roy-red) merasa tertekan dengan tuntutan yang sering dilontarkan oleh korban. Puncak kekesalan Roy akhirnya mengelapkan matanya dengan melakukan penganiyaan pemukulan terhadap korban hingga tewas,” kata Wiwin, Selasa (31/7).

Lanjut cerita Wiwin, saat pagi hari, anak korban yang mencoba membangunkan ibunya yang dikira masih tertidur itu lama tidak terbangun, dan menyadari bahwa ibunya telah meninggal. “Anaknya langsung memanggil tetangga yang langsung berdatangan. Sementara itu, pelaku sudah melarikan diri membawa serta anaknya,” tuturnya.

Karena kematian korban dianggap janggal oleh keluarga, kemudian membuat laporan ke Polres Kota Tangerang. Saat itu juga tim langsung melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap pelaku berdasarkan ciri-ciri yang diberikan anak korban. Pelaku kemudian tertangkap setelah polisi mendapat laporan dari seorang warga Desa Gembong, Balaraja, Kabupaten Tangerang berinisial T yang mengatakan bahwa anaknya yang bernama Marsati (24) janda yang memiliki satu anak perempuan berusia 7 tahun dibawa lari seorang pria bernama Roy. “Nah dari laporan warga Gembong itu menunjukkan adanya kesamaan ciri-ciri antara pelaku pembunuhan Neneng dengan pelaku yang membawa lari Marsati. Penyidik memiliki keyakinan bahwa Roy yang dimaksud adalah satu orang yang sama,” terangnya.

Dari serangkaian penyelidikan dan pendalaman, polisi akhirnya berhasil mengendus dan membekuk keberadaan pelaku HG alias Roy di daerah Pandeglang. HG alias Roy pun dibekuk Unit Jatanras Polres Kota Tangerang di Jalan Perintis Kemerdekaan, Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang pada Minggu, (29/7) lalu. Sedangkan saat diminta menunjukan tempat persembunyian guna mencari barang bukti dan keberadaan Marsati, pelaku melakukan perlawanan dan berusaha melarikan diri. Petugas langsung lakukan tembakan peringatan dengan tindakan tegas dan terukur terhadap kaki sebelah kanan pelaku.

Dalam penangkapan itu, Unit Jatanras Polres Kota Tangerang mengevakuasi Marsati dan anak perempuannya serta seorang anak laki-laki pelaku di rumah kontrakan di daerah Labuan, Pandeglang. Atas perbuatannya, pelaku digelandang ke Mapolresta Tangerang guna penyidikan lebih lanjut. Pelaku dijerat Pasal 351 dan 388 KUHP dengan ancaman hukuman di atas 10 tahun penjara. Sedangkan anak pelaku sudah dikembalikan ke keluarga, dan saat ini dalam perawatan sang nenek.

Sementara itu pengamat ekonomi yang juga Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta Mukhaer Pakkanna mengatakan, pelaku melakukan pembunuhan karena dasar kemiskinan. Tapi hal itu tak dibenarkan. Menurutnya kemiskinan adalah persoalan struktural di antaranya mulai dari faktor sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak. “Dia (pelaku-red) nekat karena adanya persoalan struktural yang tak bisa dipenuhi olehnya untuk keluarga. Ditambah tekanan psikologis makanya pelaku kalap mata,” katanya.

Sedangkan Ustad Alwani salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Tangerang menuturkan, terkait dengan status warga tanpa ikatan pernikahan yang hidup satu kontrakan mestinya yang punya kontrakan harus selektif dalam menerima calon pengontrak. “Kepekaan pemilik terhadap data otentik calon pengontrak harus menjadi yang utama. Jangan terkelabui dengan adanya seorang anak,” tuturnya. (Mulyadi/RBG)