Server Dindik Bermasalah, PPDB Online Terkendala Jaringan

SERANG – Permasalahan server yang lelet masih mendominasi permasalahan yang dirasakan para orangtua siswa ketika mendaftarkan anaknya pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) secara dalam jaringan (daring). 

Ketua Panitia PPDB Online SMKN 4 Kota Serang, Deden Setia mengatakan, kendala yang seringkali dikeluhkan orangtua calon siswa di sekolahnya terkait kesulitan akses website mendaftar. “Kalau keluhan dari calon siswa itu paling terkait jaringan, rebutan akses jaringan,” ujarnya kepada Radar Banten, kemarin.

Pria yang menjabat Wakil Kepala Bidang Kesiswaan itu mengatakan, untuk menyiasati kemudahan akses, pihaknya mengarahkan agar calon siswa bersama orangtuanya meminta pendampingan dari tetangga atau operator warung internet (warnet). “Karena ini sistem tidak bisa apa-apa. Itu kan sistem yang bicara. Itu jadi keluhan umum,” terangnya.

“Kalau pun ada kesulitan, minta tolong ke warnet untuk melakukan pendaftaran. Semua dilakukan berbasis online tidak ada tatap muka,” sambung Deden.

Kata dia, tahun ajaran 2020-2021, SMK 4 Kota Serang mendapatkan kuota penerimaan sebanyak 540 siswa, dengan delapan jurusan. Pendaftaran dilakukan mulai 26 Mei hingga 23 Juni 2020 dilanjutkan dengan pengumuman kelulusan 30 Juni 2020 dan terakhir daftar ulang mulai 1 sampai 10 Juli 2020.

Kepala SMKN 1 Cinangka, Kabupaten Serang, Sunariyah mengatakan, pihaknya mendapat banyak keluhan dari masyarakat terkait jaringan yang lelet. Terlebih lagi, wilayah Kecamatan Cinangka yang banyak daerah pelosok.

Selain itu, kata dia, banyak juga masyarakat yang belum memahami proses PPDB online. Jadi, banyak kesalahan upload berkas yang dilakukan oleh pendaftar. “Makanya kita sediakan fasilitas di sekolah untuk membantu masyarakat yang kesulitan, tentunya pakai protokol Covid-19,” katanya.

Sementara itu, warga Kecamatan Walantaka, Kota Serang Supriyatna mengeluhkan karena tidak bisa mendaftar ke SMAN 1 Ciruas karena tidak terdaftar di zonasi. Padahal, jarak antara lingkungannya ke SMAN 1 Ciruas hanya 100 meter. “Anak-anak kita harus sekolah ke sekolah yang jaraknya lebih dari tiga kilometer,” katanya.

Seharusnya, kata dia, daerah perbatasan bisa bersekolah ke luar daerah asalkan jaraknya lebih dekat. Seperti di Kecamatan Waringinkurung Kabupaten Serang yang bisa bersekolah ke Kota Cilegon, dan di Kecamatan Kopo Kabupaten Serang yang bisa bersekolah ke Kabupaten Lebak. “Kenapa kita enggak bisa sekolah ke Ciruas, padahal itu lebih dekat, kalau daerah lain ko bisa,” ujarnya.

Padahal, kata dia, jika sistem zonasi itu benar-benar diterapkan akan memudahkan masyarakat menyekolahkan anaknya. Karena, akan meminimalisasi pengeluaran biaya sekolah dengan jarak tempuh yang dekat. “Ini harusnya diperbaiki supaya anak-anak kita bisa sekolah lebih dekat,” ucapnya. 

DINDIKBUD BANTAH

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten, M Yusuf mengaku, saat monitoring pihaknya tak mendapatkan permasalahan jaringan. Namun, apabila ada permasalahan jaringan, pihaknya akan kembali melakukan pengecekan ke sekolah-sekolah karena jaringannya ada pada masing-masing sekolah. “Karena tidak semua sekolah seperti itu. Mungkin ada spot-spot yang naik turun,” ujarnya.

Kata dia, aplikasi PPDB dipasang di masing-masing sekolah. “Bukan di Dindikbud. Karena kalau tersentral kami khawatir bisa terjadi pada semua sekolah,” terang Yusuf.

Ia juga mengatakan, sebaiknya para calon peserta didik mencari waktu yang tepat untuk mendaftar agar jaringan lebih mudah. Apalagi waktu pendaftaran selama satu bulan sampai 27 Juni nanti.

Yusuf mengatakan, tidak ada ketentuan yang mendaftar lebih dahulu akan diprioritaskan. “Semua punya kesempatan yang sama. Tahun ini dibuka pendaftaran agak lama agar kendala teknis tidak menjadi masalah,” ujarnya. Selain itu, waktu pendaftaran lebih lama karena kondisi Covid-19 yang tidak bisa bertemu muka dengan pihak sekolah. (nna/jek/fdr)