Setahun, 150,9 Ribu Orang Tinggalkan Profesi Petani

Ilustrasi

SERANG – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Banten yang didapat dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), ada 150.900 orang yang meninggalkan profesi petani dalam waktu satu tahun. Pada Agustus 2018, jumlah penduduk yang bekerja pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan berjumlah 704.100 orang. Sementara pada Agustus tahun ini menurun menjadi 553.200 orang atau turun 21,4 persen.

Kepala BPS Provinsi Banten Adhi Wiriana mengatakan, meskipun tidak lagi menjadi petani, tetapi 150.900 orang itu belum tentu alih profesi. “Bisa saja menganggur atau menjadi TKI (tenaga kerja Indonesia-red), atau pekerja industri. Ini yang kami tidak dapat infonya beralih profesi ke mana,” ujar Adhi melalui telepon seluler, Minggu (8/12).

Adhi mengatakan, saat ini, tenaga kerja di Banten masih didominasi oleh sektor industri 24,09 persen dan sektor perdagangan 20,91 persen. Sedangkan pertanian secara luas, termasuk kehutanan, perikanan, dan peternakan hanya 9,94 persen.

Kata dia, berdasarkan pengecekan yang dilakukan melalui indepth study, ada beberapa alasan petani meninggalkan profesinya. Antara lain kemarau panjang, kurang menguntungkan karena sistem ijon atau dijual ke tengkulak, serta keuntungan yang relatif lama karena menunggu tiga sampai empat bulan sebelum panen untuk padi. “Sedangkan kalau menjadi pekerja indutsri, mereka bisa gajian bulanan atau bahkan dua mingguan,” terang Adhi.

Selain itu, ia menambahkan, anak-anak petani yang sekolahnya semakin tinggi justru ingin meninggalkan pertanian. Selama ini orangtuanya mendorong sekolah tinggi agar tidak susah seperti petani sebagaimana orangtuanya.

Ia mengungkapkan, ratusan ribu orang yang meninggalkan profesi petani tentu akan berpengaruh pada produksi padi di Banten walau tidak signifikan. “Mungkin juga disebabkan teknologi, dengan adanya hand tractor mengganti buruh tani, sehingga produksi masih cenderung bertahan di samping bibit unggul,” terang Adhi.

Kata dia, Banten berada posisi sembilan besar yakni 1.603.550 ton gabah kering giling tahun 2018, sedangkan untuk tahun ini akan dirilis tahun depan. Adhi mengatakan, agar petani tidak meninggalkan profesinya maka harus ada keberpihakan pada petani di antaranya merevitalisasi lembaga keuangan untuk menyaingi tengkulak. “Kalau dulu ada KUD sekarang BUMDes. Pembukaan lahan pertanian yang cukup bagi petani seperti halnya transmigrasi tetapi sifatnya lokal,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, hal itu terjadi saat musim kemarau karena sawahnya kering dan mundurnya musim tanam. “Mereka sekarang sudah kembali lagi karena mau memasuki musim tanam baru,” terangnya.

Ia mengatakan, ratusan ribu orang itu tidak meninggalkan profesi tapi mereka berhadapan dengan mundurnya musim tanam. Mayoritas para petani yang ada di Banten adalah petani penggarap. “Makanya saat mundurnya musim tanam dan saat kemarau, mereka tidak jadi petani dulu,” ungkapnya.

Kata dia, pendapatan para petani penggarap dalam semusim rerata sekira Rp4 juta. Untuk itu, pemerintah membuat banyak program untuk tambahan pendapatan petani seperti program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera yang berisi bantuan ayam, kandang, dan pakannya. Selain itu, ada juga program Peternakan Sentra Rakyat berbasis itik petelur dengan penguatan pembuatan pakan ternak sehingga mampu memsuplai telor itik ke Banten Lama dan sekitarnya.

“Program ini sudah berjalan di Banten dengan harapan akan membantu perekonomian para petani,” tutur Agus. (nna/alt/ags)