Setahun Pascatsunami, Wisata Selat Sunda Masih Memprihatinkan

SERANG – Pada 22 Desember 2019 tepat setahun tragedi tsunami Selat Sunda. Hingga kini dampaknya masih terasa bagi bisnis pariwisata.

Ketua PHRI Provinsi Banten Achmad Sari Alam mengungkapkan, setahun pascatsunami, kondisi kawasan wisata masih memprihatinkan. Hal ini bisa dilihat dari okupansi atau tingkat hunian hotel selama setahun terakhir yang masih di bawah 30 persen. “Banyak hotel dan penginapan yang merumahkan karyawan. Setahun terakhir ini belum bisa bangkit kembali,” ungkap Sari Alam, Sabtu (21/12).

Okupansi rendah, lanjut dia, pengelola hotel tidak bisa berbuat banyak meskipun kondisi kawasan Selat Sunda sudah terbilang aman. Masyarakat masih ada trauma sehingga enggan berkunjung ke daerah pantai. “Meskipun di waktu-waktu liburan panjang kondisinya belum ada peningkatan,” tuturnya.

Ia menjelaskan, dampak lainnya dialami para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menggantungkan pendapatan dari wisatawan. Mereka yang mengais rejeki di objek wisata pantai kini sudah kehilangan mata pencaharian.

Ia menambahkan, kondisi ini bukan hanya menurunkan pendapatan hotel, restoran, dan UMKM, juga memberikan pengaruh pada pendapatan pajak daerah. Pajak daerah yang disetorkan dari sektor pariwisata di kawasan Selat Sunda mulai dari Anyar, Cinangka, Carita hingga Tanjung Lesung turun drastis. Bahkan ada yang tidak mampu membayar pajak.

Untuk itu, dia meminta pemda agar menggelar kegiatan di hotel di kawasan Selat Sunda supaya ada pemasukan bagi hotel. “Jika keterpurukan ini terus dibiarkan bisa gulung tikar terutama hotel kecil-kecil,” katanya.

Pada momen akhir tahun ini, Sari Alam berharap okupansi hotel dan kunjungan wisatawan meningkat. (skn/aas)