Setelah 100 Tahun Teori Relativitas Einstein, Datanglah Corona

Ilustrasi Pixabay

Oleh: Dodo Widarda

Tahun 1915, setelah Einstein mengemukakan apa yang dikenal orang sebagai “teori relativitas umum” telah lahir sebuah pandangan baru tentang struktur ruang dan waktu, yang sama sekali sangat berbeda dengan pandangan ruang dan waktu yang absolut dari cara pandang fisika Newton. Kosmologi Einstein tidak lagi memandang waktu sebagai sesuatu yang absolut, tetapi derajatnya sama dengan ruang yang relatif.

Penulissan ruang dan waktu, tidak lagi tepat, tetapi ruang-waktu sebagai sebuah struktur dinamis, yang mempengaruhi serta dipengaruhi apa yang terjadi di alam semesta ini. Terkait dengan visi Einstein tidak mengherankan bagi fisikawan India yang datang belakangan, Fritchop Capra dalam The Turning Point (2000), bahwa teori relativitas Einstein telah memaksa kita untuk menerima ruang-waktu sebagai konsep relatif, yang direduksi peran subyektif elemen-eleman bahasa yang digunakan oleh pengamat tertentu untuk menggambarkan fenomena alam. Kalau ruang-waktu menjadi relatif, lalu di mana posisi fisika yang diklaim sebagai ilmu pasti itu?

Awal abad ke-20, adalah juga saat-saat para fisikawan Interpretasi Copenhagen menghadapi sebuah kebingungan serta sok mengahadapi kondisi paradoks sejumlah penemuan sains, sampai fisikawan besar seperti Niels Bohr menyatakan,”Anyone who has not been shocked by quantum physics has not understood it.”(Seseorang yang tidak sok dengan fisika kuantum, tidak memahaminya). Niehl Bohr, Louis de Broglie, Erwin Schrodinger, Wolfgang Pauli, Werner Heisenberg, serta Paul Dirac adalah fisikawan-fisikawan berusaha memecahkan teka-teki Teori Kuantum, serta membuat mereka mengalami kebingungan tak berujung. Teori Kuantum jauh melampaui teori relativitas Einstein dalam menghempaskan pandangan fisika klasik yang telah dipandang sebagai ilmu pasti.

Fisika sebelumnya dipandang sebagai ukuran kebenaran mutlak dari ilmu alam yang mewarisi semangat dua imam modernitas: Rene Descartes (1566-1650) serta Isaac Newton, (lahir, 1642) ditambah cara berpikir positivistik dari Auguste Comte (1798-1857). Namun yang datang kemudian, fisika yang diposisikan pada kedudukan tinggi pada ilmu alam, yang memberi legitimasi bagi pandangan tunggal ala positivisme, mengalami penghancuran konstruksi dari bangunannnya sendiri.

Teori Relitivitas Umum menggoncang sendi-sendi fisika, terkait dengan “alam kabir” (jagat besar) seperti hubungan antara galaksi di alam semesta ini. Sementara Teori Kuantum menganhancurkannya dengan penjelasan detail dari “alam shagir” (jagat kecil) realitas partikel sub-atomik. Hasil kajian para fisikawan internasional ini, sangat bertolak belakang dengan pandangan postivisme tentang alam semesta: eksperiemn atom adalah realitas paradoks yang membuat para ilmuwan bersedih, putus as serta sebuah kesadaran baru muncul bahwa untuk menggambarkan fenomena atom saja, konsep-konsep dasar serta seluruh dari cara berpikir mereka, tidaklah memadai untuk mendeskprisikannya. Awal abad 20 itu telah membuktikan, bahwa unit-unit materi sub atom seperti proton, elektron, dan neutron yang mengelilingi nukleus bersifat abstrak. Dan memiliki aspek ganda. Kalau fisika itu ilmu pasti, aspek ganda itu tidak mesti ada. Faktanya menunjukkan, bahwa melalui hipotesis dari Broglie, serta dibuktikan melalui eksperimen C.J. Davidson serta L.H. Germer bahwa kaitan antara partikel dengan gelombang: gelombang dapat bersifat sebagai partikel serta partikel dapat bersifat sebagai gelombang. Dengan pandangan dualitas tersebut, semesta yang tadinya dipandang memiliki hukum-hukum yang tetap serta pasti, sudah tamat riwayatnya.

Sebagai peminat Filsafat Ilmu, saya sangat terpesona dengan temuan yang menjadi “keajaiban” abad ke-20 tersebut. Lewat teori dari para fisikawan, terlahir sebuah pemahaman tentang segala hal yang relatif melalui eksperimen ilmiah serta pergulatan mereka untuk menyibak tabir struktur dasar dari adanya semesta. Di tengah keputusasaan mereka, saya mengikuti renungan-renungan dari sisi saya yang dalam Filsafat Agama, masuk pada katagori seorang theist, bukan atheist. Dari sisi keimanan saya, lewat kerja ilmiah mereka yang berusaha saya rekontstruki di dalam pikiran, saya seperti menyaksikan sebuah film yang sedang diputar, ketika Allah Swt, sedangkan menunjukkan “af’al-Nya” (perbuatan-Nya) untuk mematahkan kecenderungan berpikir empiris positivistik yang dipandang sebagai puncak pencapaian manusia dalam sains. Pada abad ke-20 saya menyaksikan dasar-dasar dari teori sains yang runtuh, sekaligus di atas pergulatan para fisikawan lewat eksperimen-eksperimen super canggih mereka, Allah sebagai realitas wajib al-wujud yang seringkali ditolak keberadaannya lewat cara berpikir ilmiah, sedang menunjukkan sifat ilmu-Nya yang tidak terbatas. Sedangkan manusia, baru berpikir pada tingkat partikel sub-atom yang mumkin al-wujud saja, sudah tidak mampu untuk memikirkannya.

Lewat eksperimen para ilmuwan, saya menyaksikan kemahamutlakan Allah, dibalik realitas, baik pada alam kabir maupun alam shagir, yang serba relatif seperti dibuktikan lewat “titik balik” sains yang sudah kita paparkan. Sifat ilmu dari Allah, berkaitan dengan ekperimen sejumlah ilmuwan yang mengkonsentrasikan dan mendedikasikan hidupnya untuk pengembangan ilmu pengetahuan ini, mengingatkan saya pada sebuah ayat di dalam Al-Qur’an: “ Dan di atas orang-orang yang berilmu pengetahuan, ada Dzat yang lebih mengetahui.” (QS. Yusuf:76).

COVID 19
Seratus tahun berselang setelah kemunculan teori relativitas Einstein serta Interperetasi Copenhagen yang telah meruntuhkan teori saiins yang dianggap mapan selama ratusan tahun, mulai tanggal 23 Februari 2019, tiba-tiba seluruh dunia terhenyak akan ancaman sebuah virus mematikan dengan nama Covid 19. Bukan hanya kalangan ilmuwan yang dibuat bingung, tapi seluruh warga dunia, yang melintasi batas-batas kenegaraan, dibuat panik, bingung, takut, mengalami ancaman hantu kecemasan pada saat datangnya virus yang secara tiba-tiba menjadi ancaman global ini. Ini adalah tahun-tahun awal dari abad ke-21. Adakah angka 21 ini berkorelasi dengan 20 sifat wajib Allah, 20 sifat mustahil Allah, serta 1 sifat “wenang” dari Allah Swt. Semua berada dalam kewenangan-Nya semata, mengenai cara-cara manusia berada di dunia. “Semua terserah padamu, merah hitam tanah kami, pucat pasi wajah bumi,”demikian menurut penggalan lagu dari Ebit G. Ade.

Kalau abad ke-20, para ilmuwan Interpretasi Copenhagen, dibuat putus asa oleh temuan dari sifat paradoks dari partikel sub-atom, maka para awal abad ke-21, masyarakat manusia dibuat panik oleh Virus Corona yang katanya terbentuk dari mutasi genetik, antara gen ular serta kelelawar. Dunia kini mengalami kondisi tidak terbayang dari sebelumnya. Cemas, panik, serta menghadapi situasi paradoks. Padahal hantu kecemasan itu muncul akibat ulah sebuah virus saja. Belum lekang dari ingatan pernyataan presiden China, Xi Jinping, 1 Oktober 2019, pada perayaan HUT China ke-70: “Tak aka nada kekuatan yang bisa menggoyahkan bangsa ini.” Tapi, sendi-sendi kekuatan China itu ternyata runtuh karena serangan virus yang berawal dari Wuhan. Setelah melalui penelusuran pemerintah China, terungkap bahwa kasus pertama Virus Corona itu terjadi pada 17 November 2019. Serta para ilmuwan China baru menyadari bahwa mereka benar-benar berhadapan dengan sebuah virus yang ganas serta mematikan, pada Medio Desember 2019 yang kelabu. Penyebaran virus yang mulai menyerang Wuhan pada Januari 2020, sangat misterius serta tidak terdeteksi, sampai menjadi wabah yang mengglobal dua bulan kemudian.

Terlepas dari asal-muasal Virus Corona yang menyerang setiap negara di dunia termasuk Amerika Serikat dengan korban yang sangat besar setelah China serta Italia, bagi orang yang terbuka mata hatinya, pasti akan melihat ada af’al Allah dan bekerjanya tentara-tentara langit, dibalik dari penyebaran Virus Corona ini yang membuat rasa kemanusiaan kita—umat manusia di seluruh dunia—disatukan pada akhirnya pada sikap kerendahhatian, bahwa sikap jumawa itu tidak ada artinya sama sekali, bahwa manusia, ilmu serta teknologi yang dibangga-banggakan itu tidak ada artinya di hadapan sebuah virus kecil, yang sebenarnya ia mahkluk Allah saja, serta digerakkan oleh qudrat serta iradat-Nya. Teori Relativitas Einstein serta penemuan Mekanika Kuantum pada bentuk mikroorganisme partikel-perteikel sub-atom pada awal abad ke-20, hanya membingungkan serta membuat putus asa kalangan para fisikawan internasional saja. Sementara si kecil Corona pada awal abad ke-21, telah membuat panik kalangan ilmuwan serta medis di seluruh dunia, dan juga segenap lapisan masyarakat, dari kalangan intelektual sampai kalangan biasa.

PENUTUP
Pada tahun 1937, seorang visioner serta futurolog, Vitirim Sorokin, telah menyatakan terjadinya keruntuhan kebudayaan indrawi. Kebangkitan era indrawi, didahului oleh berkuasanya kebudayaan ideasional selama kebangkitan Kristen Abad Pertengahan dan oleh perkembangan berikutnya dari tahap idealistik selama renaisans di Eropa.
Kemunduran perlahan dari masa ideasional inilah yang memungkinankan bangkitnya periode indrawiyang kemudian berkembang pada tahap empirisme serta positivism ala Comte pada abad ke-17, ke-18, ke-19, suatu era yang ditandai sistem nilai pencerahan pandangan-pandangan ilmiah ala Descartes- Newton ditambah perkembangan teknologi sebagai buah dari Revolusi Industri.

Pada abad ke-20, nilai-nilai dan pemikiran indrawi mengalami sebuah kemunduran yang telak dengan sebuah ramalan dari Sorokin, bahwa perubahan-perubahan dan sejumlah pergolakan sosial, sebagai masa senja dari kebudayaan indrawi. Meminjam istilah Prof. Dr. Ian Hacking—Guru Besar Sejarah Filsafat Ilmu dan Teknologi Universitas Toronto Canada—yang terjadi itu adalah The End of Positivisme. Pada abad ke-21, saat nilai-nilai kebudayaan indrawi serta cara pandang yang tunggal untuk melihat realitas tetap dibela dengan gigih oleh para pendukungnya, serta perlombaan capaian dalam bidang teknologi, menjadi kebanggaan kolektif sebuah bangsa, tiba-tiba kita dihadapkan pada pergolakan sosial, yang sama sekali tidak pernah terbayang sebelumnya.

Mungkin, dunia memasuki masa akhir dari rentang 15 milyar tahun, jika dihitung dari teori terjadinya Big Bang. Tapi kita saksikan, di tengah dari gejala kecemasan global, matahari masih bersinar. Bunga-bunga masih tumbuh bermekaran di halaman rumah. Kehidupan belum benar-benar berhenti, masih datang generasi-generasi baru, pelanjut dari kehidupan ini di masa depan. Saya sendiri tidak pernah panik, apalagi risau dengan apa yang terjadi sekarang. Kiamat itu pasti terjadi. Namun tentunya hal itu tidak menghalangi untuk terus berbuat kebaikan, baik terhadap sesama, maupun terhadap semesta, tempat bagi kita untuk senantiasa bisa hidup bersama.

Tugas manusia, dalam situasi apapun, adalah—seperti dalam filosofi Sunan Kalijaga, “mamayu hayuning bawono” (memperelok tata kehidupan di buana), serta sesuai dengan sabda Nabi: “Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat maka hendaklah dia menanamnya.” (HR. Imam Ahmad) (*)

Penulis adalah Direktur Iranian Corner Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati, Bandung serta aktivis Nahdlatul Ulama.