Ilustrasi : JPNN

Berbeda dari hari-hari biasanya, Enyeh (34) nama samaran tampak memoles bedak lebih tebal di wajahnya. Sambil sesekali membuka cermin kecil yang ia gengam, wanita berambut hitam lurus sebahu itu celingukkan menanti seseorang. Setiap ada ibu-ibu lewat, ia pura-pura tak melihat meski tahu mereka tengah mencibirnya. Aih, memangnya kenapa sih, Teh?

“Biasalah, Kang. Namanya orang mah suka ikut campur urusan orang lain. Ya, bagus sih mereka ngingetin, tapi kan ini hak saya, terserah saya,” katanya kepada Radar Banten.

Setelah diamati, wajar saja orang-orang bersikap seperti itu. Ya, penampilan Enyeh memang tak biasa. Seolah tak menyia-nyiakan kelebihan bentuk tubuhnya yang seksi, ia tanpa risih menggunakan pakaian minim dan tak berhijab pula. Padahal, lingkungan sekitar rumah dan warga kampungnya termasuk wilayah yang kental akan keagamaannya.

Tak lama kemudian, seorang anak kecil berlari ke arahnya sambil menengadahkan tangan. Enyeh berjongkok dan menggendongnya. Ia mengaku, itu adalah anaknya hasil dari pernikahan dengan Aloy (39), bukan nama sebenarnya. Tak lama kemudian, datanglah lelaki yang ditunggu. Enyeh tampak gugup menurunkan sang anak dari gendongannya.

Enyeh tersenyum-senyum menyambut sang lelaki yang tampak lebih muda darinya. Seraya mengambil uang dua ribuan dari kantong celana, ia meminta sang anak pergi bermain. Dan ternyata, dari percakapan mereka, diketahuilah kalau sang lelaki bukan Aloy.

Enyeh angkat bicara, ingatannya melayang jauh ke lima tahun lalu. Saat ia berusia 29 tahun dan Aloy 34 tahun. Katanya, hubungan asmara mereka bak adegan-adegan drama di film Korea. Romantis dan penuh kenangan indah yang diciptakan berdua.

Dipertemukan melalui peran seorang teman, Enyeh dan Aloy menikmati masa-masa pendekatan yang indah. Katanya, saat itu mereka sering kirim dan membalas surat. Terkadang di malam minggu, Aloy datang membawa bunga dan sebungkus gorengan untuk keluarga sang wanita. Widih romantis amat sih makannya gorengan.

“Ya, waktu itu mah dia belum kerja. Jadi, dibawain bunga sama gorengan juga sudah bersyukur. Seenggaknya dia ada usaha,” kata Enyeh.

Dan tibalah malam di mana sang ayah ikut duduk di hadapan Enyeh dan Aloy. Sambil menyeruput kopi hitam, sang ayah mempertanyakan keseriusan Aloy terhadap putrinya. Hebatnya, seolah punya keberanian tingkat dewa, Aloy pun dengan tegas menjawab akan segera membawa keluarga ke rumah Enyeh. Seminggu kemudian, prosesi lamaran pun dilakukan.

Singkat cerita, dengan pesta pernikahan pun digelar meriah. Orang-orang datang mengucap selamat pada kedua mempelai. Pokoknya, hari itu tak mungkin bisa dilupakan oleh mereka. Mengikat janji sehidup semati, Aloy dan Enyeh resmi menjadi sepasang suami istri.

Setahun kemudian, lahirlah anak pertama, membuat hubungan mereka bahagia. Aloy semakin semangat bekerja, Enyeh pun merasa sempurna sebagai seorang wanita. Mereka pasangan serasi yang bahagia. Meski tinggal di rumah mertua, Aloy mampu beradaptasi dan diterima keluarga Enyeh.

Namun, kepercayaan yang diterima ternyata disia-siakan begitu saja. Di saat sang ayah mertua jatuh sakit dan tak berdaya, Aloy berulah dengan jarang pulang dan menunjukkan sikap aslinya. Sering kasar kepada Enyeh dan membentak, ia bertingkah semau hati.

“Duh, Kang. Enggak kuatnya tuh, dia sudah tidak menghargai keluarga saya. Mukul, bentak, ngamuk semaunya. Kan saya yang sakit sekaligus malu ke keluarga dan tetangga,” akunya.

Hingga akhirnya malam itu keributan antara mereka sudah tak lagi bisa dikatakan hal wajar. Bentakan bahkan pukulan seolah biasa. Aloy pun pergi dan tak pulang selama sebulan lebih. Lantaran tak kuat mempertahankan rumah tangga yang tak jelas, mereka pun bercerai.

Menjalani hari seorang diri, Enyeh mengaku sedih. Terlebih ketika melihat anaknya menangis meminta uang jajan, air matanya tak mampu terbendung. Namun, penyesalan itu tak berlangsung lama. Mungkin karena Enyeh memang terbiasa merawat diri, pasca bercerai, penampilannya semakin aduhai. Ia pun dilamar lelaki yang baru dikenal.

Singkat cerita, menikahlah Enyeh dengan suami baru yang tak ingin ia sebut namanya itu. Mengadakan pesta sederhana dan ala kadarnya, Enyeh dipinang untuk kedua kalinya. Lagi-lagi, secepat perkenalan dan pernikahannya itu. Tiga bulan kemudian ia kembali menelan pahitnya perpisahan. Aih kok bisa, Teh?

“Ah, saya frustrasi, Kang. Dia cuma penasaran doang ke saya. Sudah menikah mah kayak orang enggak kenal. Dia malah pergi dan nikah sama wanita lain,” tukas Enyeh. Astaga.

Akhirnya, Enyeh merasa ia wanita paling menderita di dunia. Apalah daya, seolah mencari pelarian atas penderitaan masalah hidupnya, ia memilih menjalani hidup seorang diri. Katanya, selain lebih bebas dan bahagia, ia juga seolah menjadi seperti remaja, yang bisa menikmati cinta tanpa harus ada beban. Aih, maksudnya bagaimana, Teh?

“Ya, laki-laki yang tadi datang itu pacar saya. Kita pacaran kayak anak remaja, lebih asyik dan seru,” katanya.

Tak hanya itu, Enyeh mengaku, dengan penampilan menarik disertai wajah cantik dipoles make-up tebal, ia sering berganti pacar sesuka hati. Tak jarang, dari hubungannya itu ia bisa memberi uang jajan kepada anaknya. Katanya, kebanyakan lelaki yang dipacarinya adalah anak muda. Waduh, serius nih, Teh?

“Ya begitulah, Kang. Lumayan bisa lampiasin kesedihan dari pengalaman pahit dulu. Yang penting kan saya tetap bisa jaga diri,” akunya.

Oalah, ya terserah Teh Enyeh saja. Tapi, semoga suatu saat nanti Teh Enyeh mendapat jodoh baru yang baik dan langgeng. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)