Ilustrasi (JPNN).

Sejak kelahiran anak kedua, aroma keretakan memang sudah tercium di antara Mimi dan sang suami, sebut saja Culay (39) bukan nama sebenarnya.

Layaknya rumah tangga pada umumnya, awal-awal memang terlihat harmonis, tapi lama-kelamaan renggang juga. Tergantung seberapa besar cinta dan sayang keduanya. Kalau cuma mengandalkan cinta ala-ala sambal goreng, ya begini nih jadinya. Rumah tangga berantakan, anak jadi korban.

Parahnya, hal ini juga diakui Mimi terjadi sejak sebelum melangsungkan pernikahan. Ia yang lulusan S-1 di salah satu perguruan tinggi di Kota Serang, dipaksa menikah dengan Culay yang hanya lulusan SMA. Bukan cuma menolak karena gengsi taraf pendidikan, Mimi juga ternyata terlalu menaruh ekspektasi besar terhadap kehidupan masa depan. Ia ingin hidup penuh kemewahan, tetapi hal itu tidak didapatkan. Berharap mendapat suami mapan, ia justru harus menjalani hari-hari keluarga kecilnya bersama Culay, lelaki sederhana yang tak biasa hidup di kota. Oalah.

Seperti diceritakan Mimi, setelah lulus kuliah, kedua orangtua memang menginginkan ia segera menikah. Biasalah, adat orang kampung, kalau sudah mencapai usia dua puluh ke atas, harus segera dinikahkan, khawatir dibilang perawan tua. Awalnya Mimi mengelak lantaran ia masih ingin menikmati masa muda. Namun, dilihat dari kondisi sang ayah yang sudah renta, ia tak bisa berbuat apa-apa. Demi membahagiakan keluarga, akhirnya bersedia juga menikah muda.

Karena saat itu Mimi belum punya pasangan alias jomblo, akhirnya sang ayahlah yang memilih calon. Setelah mencari-cari, dapatlah lelaki gagah anak petani yang juga anak teman sang ayah. Lelaki itu tak lain adalah Culay. Waktu itu ia memang sudah bekerja. Meski tidak kuliah, setidaknya sudah punya penghasilan. Itulah yang menjadi tolok ukur sang ayah. Tidak penting latar pendidikannya apa, yang jelas sudah bekerja dan paham agama.

Singkat cerita mereka pun menikah, dengan pesta sederhana, Mimi membuat keluarganya berlinang air mata, ia pun ikut bahagia. Apalagi, sosok Culay yang santun dan penuh perhatian membuat orang-orang semakin hanyut dalam kebahagiaan.

Sebagai suami, Culay menjalani perannya dengan baik. Meski harus bersabar menghadapi Mimi yang terkadang suka marah walau hanya karena kesalahan sepele, mereka tetap rukun dan harmonis. Keduanya bisa menjaga perasaan satu sama lain.

Akan tetapi, jika hendak menghadiri acara nikahan teman di Serang seolah tak menghargai Culay, Mimi enggan mengajak suami. Waduh, memang kenapa, Teh?

“Enggak apa-apa, kan lebih asyik sama teman-teman, bisa bebas ketawa-ketiwi!” kata Mimi. Oh jadi kalau sama suami, enggak bisa ketawa ya, Teh?

“Ya, enggak juga. Pokoknya harus dibedain mana waktu sama teman dan waktu sama suami!” sanggahnya.

Hari terus berganti, Mimi dan Culay pun sempat mengalami masa krisis perekonomian yang membuat mereka renggang. Culay yang terkadang harus menganggur beberapa bulan lantaran kontrak kerja yang habis dan menunggu lowongan pekerjaan, membuat keuangan morat-marit. Sama halnya dengan Mimi yang waktu itu masih sebagai guru honorer, padahal sudah sejak kuliah aktif mengajar, gajinya hanya cukup untuk makan. Belum lagi kebutuhan lainnya seperti makeup, pulsa, bensin motor, ditambah perlengkapan bayi mereka yang baru lahir. Duh, pokoknya pusing tujuh keliling.

Meski dalam kondisi ekonomi yang sangat minim, kehadiran Culay selalu bisa menguatkan Mimi. Di kala sang istri mengeluh dan dalam keadaan stres berat, Culay hadir sebagai teman curhat dan pemberi semangat. Begitu pun sebaliknya. Pokoknya, mereka berdua saling melengkapi satu sama lain. Cobaan seberat apa pun akan dengan mudah dilewati. Widih, harusnya Teh Mimi beruntung punya suami sesabar Kang Culay.

“Ya, beruntung sih beruntung. Tapi kalau sabarnya sabar enggak punya duit mah, buntung juga saya,” pungkasnya.

Di tengah perjuangan menjalani kehidupan berumah tangga, kabar baik pun datang. Ibarat pepatah yang mengatakan habis gelap terbitlah terang, Mimi mendapat jawaban atas apa yang didambakan selama ini. Ia lolos seleksi PNS yang akan mengubah hidupnya. Akhirnya kini ia bisa bernapas lega lantaran sebentar lagi gaji per bulan tidak lagi kecil. Kebahagiaannya bertambah dengan kelahiran anak kedua, Mimi merasa menjadi wanita paling sempurna di dunia.

Sebagai suami, Culay tentu turut bahagia mendengar kabar baik sang istri. Ya, meski ia sendiri masih menunggu panggilan pekerjaan, Culay tidak berleha-leha. Di waktu senggang ia masih berusaha mencari nafkah dengan mengojek atau berjualan online. Beuh, hebat nih Kang Culay.

Namun, apalah daya, bukannya mendapat dukungan, sang istri malah cenderung mengabaikan apa yang dikerjakan sang suami. Ketika Culay hendak berangkat pagi, ia tak mendapati sang istri. Ketika melihat ke depan rumah, Mimi sudah pergi tanpa pamit. Padahal, Culay ingin sekali mengantar Mimi berangkat kerja.

Tak hanya itu, pernah ketika Culay menyimpan barang dagangan online berupa alat-alat handphone dan lainnya di rumah, semua barangnya tak pernah aman. Pagi ia rapikan, malamnya saat pulang bekerja sudah berserakan di tempat sampah. Saat diselidiki, ternyata semua ulah sang istri. Astaga, jahat amat sih Teh.

“Ya waktu itu saya khilaf, Kang. Dulu tuh masih ada rasa malu gitu. Nganggapnya, masa istrinya PNS, suaminya ngojek dan jualan? Apa kata teman-teman nanti!” keluh Mimi.

Culay yang selalu sabar pun akhirnya tidak tahan dengan tingkah laku sang istri. Keributan tak dapat dihindari. Parahnya, Mimi yang merasa sudah mampu membiayai hidup bersama kedua anaknya akhirnya minta diceraikan. Apa mau dikata, meski telah banyak kenangan indah dilewati bersama, perceraian menjadi jalan satu-satunya. Culay pun hidup sendiri. Sementara Mimi asyik dengan kesibukannya sebagai guru dan ibu dua orang anak tanpa suami. Memamg enggak repot, Teh?

“Repot sih, tapi mau bagaimana lagi. Dijalani sajalah, kan bisa dibantu sama ibu atau sewa pembantu!” katanya.

Meski sudah berstatus cerai, Mimi suka meminta tolong kepada Culay untuk menjaga anaknya di rumah.Tidak hanya itu, bahkan di tiga bulan selanjutnya, Mimi menyuruh Culay menginap. Kesepian nih ceritanya? Dan akhirnya kesaksian pun terjadi, Mimi mengaku masih butuh sosok Culay menjadi kepala keluarga. Akhirnya, mereka pun rujuk dan menjalani bahtera rumah tangga hingga kini. Ya ampun Teh Mimi, sudah berkeluarga masih saja ngandelin gengsi! Ya sudahlah, semoga langgeng sampai mati. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi/RBG)