Kepala Balai Pengelola Tahura Banten Asep Mulya Hidayat

SERANG – Taman Hutan Rakyat (Tahura) Banten di Carita, Pandeglang, dua bulan lalu ditutup karena sedang dalam perbaikan akibat longsor dan jalannya rusak. Setelah Lebaran, hutan ini akan kembali dibuka untuk wisatawan.

“Tapi beberapa pekan lalu ada saja pengunjung yang masuk tanpa izin. Mereka masuk bersama guide lokal. Banyak dari mereka ngeyel. Tujuannya ke Curug Gendang dan Curug Putri. Kedua tempat itu memang menarik banyak orang, tapi kondisi Tahura sedang ditutup. Kalau ada pengunjung yang masuk, kami khawatir akan terjadi apa-apa, karena jalan rusak dan rawan longsor,” kata Kepala Balai Pengelola Tahura Banten Asep Mulya Hidayat, Kamis 23/6).

Asep mengatakan, saat ini Tahura dijadikan tempat wisata, namun fungsi utamanya sebagai hutan konservasi jangan dilupakan. Jika Tahura rusak, daerah sekitarnya akan terkena dampak. “Kami yang bertanggungjawab atas terjaga dan terawatnya Tahura Banten. Sekarang sedang dipasang handrail agar pengunjung bisa pegangan ketika melewati tanjakan. Area longsor dirapikan. Pokoknya Tahura sedang ditata. Buka lagi habis Lebaran. Kalau ada guide yang ketahuan membawa masuk pengunjung ke Tahura tanpa izin akan kami kenakan sanksi,” katanya.

Asep menuturkan, Tahura dibuka untuk umum, tapi ada peraturannya. Masyarakat yang berkunjung ke Tahura harus melapor ke petugas supaya identitasnya diketahui. Tujuannya agar ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, petugas dapat mengenalinya secara langsung. Pengunjung juga diimbau tidak membuang sampah sembarangan dan melakukan aksi corat-coret.

“Pengunjung juga diberi tahu titik mana saja yang rawan terjadi longsor. Tidak ada salahnya melapor ke petugas di lokasi. Petugas Tahura ada 14 orang. Ada juga yang berjaga di depan gerbang. Pengunjung juga tidak perlu bayar, yang penting izin. Kalau ada yang menarik bayaran, laporkan ke kita. Biar ditindak,” tuturnya.

Saat ini pihaknya sedang membina petugas mengenai sadar wisata di hutan konservasi, papan dan spanduk peringatan ditambah. Masyarakat sekitar akan diberdayakan agar area 1.595 hektare tersebut bermanfaat untuk warga.

“Karena pengunjung Tahura sudah mencapai 3.000 orang setiap bulan, sudah pasti area parkir harus representatif. Warung-warung perlu ditata agar jangan di dalam hutan. Nah ini kan perlu penataan. Masyarakat sekitar perlu dilibatkan supaya mereka punya kontribusi ke hutan ini. Mereka juga harus memberi kesadaran bagi para wisatawan,” tambahnya. (Wirda)