Siang itu, Sumi (32), nama samaran, baru pulang dari pasar. Selepas menamatkan pendidikan di tingkat SMP, tak ada lagi kegiatan sehari-hari selain berdagang makanan ringan. Diberi modal ala kadarnya oleh kedua orangtua, ia membangun bisnis secara mandiri. Mulai dari membuka warung sampai melayani pembeli, Sumi mengerjakannya sendiri.

    Belum sempat mengusap keringat yang mengucur di dahi, sang ibu sudah memanggil dari dalam rumah. Sumi pun bergegas masuk, didapatinya ruang tengah yang sesak oleh beberapa tamu dari desa sebelah. Diperkenalkanlah Sumi, ia pun melempar senyum sambil terlihat malu-malu.

    “Sumi ini anak kedua kami, kakaknya sudah menikah. Insya Allah kalau anak bapak dan Sumi anak saya berjodoh, kita bisa menikahkan mereka secepatnya,” begitu kata Sumi meniru ucapan sang ibu saat memperkenalkannya kepada tamu waktu itu. Oalah, jadi ini ceritanya lagi dijodohkan ya, Teh?

    “Ya begitulah, Kang. Ini tuh sudah sering terjadi berkali-kali. Orangtua ingin banget menikahkan saya sama orang lain, padahal saya maunya sama Kang Jamal!” curhat Sumi kepada Radar Banten.

    Jamal (35), bukan nama sebenarnya, ialah petani miskin yang sejak lama menjalin kasih dengan Sumi. Namun karena faktor ekonomi, ditambah kepergian sang ibu menjadi TKI yang tak jelas kabarnya, membuat kehidupan Jamal tak dihargai orang kampung. Tak ayal, orangtua Sumi pun tak pernah merestui hubungan keduanya. Ya ampun, sedih amat sih Teh.

    “Kita kalau kangen ketemuannya di sawah, Kang. Itu pun ngumpet-ngumpet. Soalnya kalau ketahuan tetangga atau keluarga, pasti bakal dimarahi habis-habisan saya,” terang Sumi. Oh begitu toh, kalau pacaran di sawah biasanya ngapain saja Teh?

    “Ih kepo banget sih, Kang. Atuh biasa saja, kayak orang pacaran pada umumnya. Memang mau ngapain? Paling juga ngobrol ngalor-ngidul,” kata Sumi sambil ketawa-ketiwi.

    Seperti diceritakan Sumi, Jamal lelaki yang dikaguminya sejak SMP. Entah mengapa, di saat wanita lain sangat menaruh harap pada lelaki-lelaki berpenampilan modis anak kepala desa dan lain sebagainya, Sumi justru lebih senang memperhatikan tingkah Jamal yang sederhana dan apa adanya.

    Memiliki tubuh atletis lantaran sering bekerja keras mengangkut padi atau jadi kuli, Jamal semakin membuat Sumi klepek-klepek. Ya, meski dari segi tampang dan penampilan tidak terlalu menjanjikan, sikap baik dan pantang menyerah yang dimiliki Jamal menjadi alasan kuat bagi sang kekasih untuk memilihnya.

    Sumi pun bukan wanita biasa, di mata keluarga, ia anak kebanggaan orangtua lantaran perawan satu-satunya. Kakak dan adik-adiknya semua lelaki. Jadi, wajar bila ayah dan ibunya bersikap selektif memilihkan pasangan untuk sang buah hati. Tidak cuma ganteng dan baik saja, tapi juga harus kaya.

    Sumi mengaku, ia sebenarnya merasa tak nyaman akan sikap orangtua dan keluarga. Menempatkan materi di urutan pertama, bukanlah menjadi perhitungan Sumi dalam kehidupannya. Asal sederhana tapi bikin bahagia, begitulah yang menjadi impiannya di masa depan. Subhanallah, Teh Sumi memang luar biasa.

    “Ah lebay amat sih, Kang. Saya mah biasa saja, cuma kan waktu sekolah dulu pernah baca cerita pendek gitu tentang penderitaan istri yang menikah sama lelaki kaya, jadi saya takut kalau sama yang kaya, takut enggak bahagia,” tutur Sumi.

    Singkat cerita, tiga minggu setelah kejadian perkenalan itu, keluarga sang lelaki kembali mendatangi rumah Sumi. Kali ini mereka datang dengan membawa kepastian, meski sang lelaki belum mengenal Sumi secara mendalam, tapi keyakinan kedua keluarga menjadi keputusan.

    Dua minggu sebelum Ramadan di 2010, Sumi menikah dengan lelaki pilihan orangtua. Meski awalnya sempat mengelak, tetapi ia tak bisa bertindak saat sang ibu menangis merutuki keadaan. Menjadi anak perempuan satu-satunya, bukanlah hal mudah. Terpaksa, Sumi pun menuruti kemauan sang ibu tercinta. Ya ampun.

    Di awal pernikahan, Sumi mencoba menjadi istri yang baik. Melayani suami dengan sepenuh hati, ia membiasakan diri untuk mencintai lelaki yang baru dikenalnya. Sang suami pun selalu menjaga sikap, memberi kesan baik dan penuh kasih sayang, ia membeli perabotan rumah dan perhiasan untuk sang istri. Widih.

    Maklumlah, sang suami memang terlahir dari keluarga kaya. Ayahnya menjadi salah satu pengusaha terkaya di salah satu kampung di Kota Serang. Pokoknya, kalau hanya untuk membahagiakan istri dengan materi, bukan sesuatu yang sulit diwujudkan. Tinggal minta ke papah, semua masalah selesai.

    “Waktu itu saya akui sih saya sempat merasa enggak salah pilih. Soalnya, keluarga dan orangtua juga ikut senang, nama baik kita jadi naik di mata orang-orang kampung,” aku Sumi.

    Dua tahun kemudian, kesempurnaan hidup mereka bertambah dengan kehadiran anak pertama. Sumi dan sang suami menjadi semakin mesra. Tak hanya itu, kedua keluarga pun menjadi semakin harmonis. Pokoknya, rumah tangga mereka serasa diselimuti awan kebahagiaan.

    Namun apalah daya, memang dunia itu ibarat roda. Kadang berada di atas, kadang juga di bawah. Sumi mulai merasakan gonjang-ganjing kekacauan di keluarga sang suami. Entah bagaimana awalnya, keluarga sang suami terlilit utang. Satu per satu harta kekayaan dijual untuk menutup lubang.

    Hingga semua sawah serta tanah pun ludes dijual, rumah tangga Sumi pun ikut terkena imbasnya. Parahnya, bukannya berjuang mempertahankan hidup, sang suami malah sering keluar malam sambil mabuk-mabukkan. Bukan hanya itu, mungkin lantaran stres menghadapi masalah, sikap sang suami menjadi sering marah-marah.

    Setiap kali pulang ke rumah, pasti keributan menjadi hal utama yang dilakukan. Di dalam situasi seperti itu, Sumi pun terkadang tak bisa mengontrol emosi. Ia ikut memarahi suami dan tak henti-hentinya menyesali diri. Yang membuat Sumi tak habis pikir, mertua dan keluarga sang suami seolah tak peduli pada nasib rumah tangganya.

    “Kesal saya, Kang. Mereka tuh kayak enggak peduli. Mau saya ribut sama suami, mau saya kabur, semuanya pada biasa saja. Kayak enggak diperhatikan begitu,” curhatnya.

    Hingga akhirnya, Sumi menuntut perceraian. Sang suami pun mengabulkannya. Rumah tangga yang dibangun dengan cinta karena harta, ternyata tak mampu bertahan melawan badai kehidupan. Mereka berpisah untuk selamnya. Sumi menjanda, sang lelaki pun asyik menikmati kehidupan yang tak jelas arah dan tujuan.

    Hebatnya, tiga tahun menghilang dari kampung halaman. Sumi dikagetkan dengan kondisi Jamal yang berubah seratus delapan puluh derajat. Ia yang dulu miskin, menjadi lelaki berkecukupan tapi tetap bertingkah sederhana. Kabarnya, Jamal kedatangan sang ibu tercinta dari negeri perantauan yang membawa bekal tabungan.

    Tak lama kemudian, Sumi pun menikah dengan Jamal dan sampai saat ini mereka hidup bahagia. Waw, ini sih cerita kayak di sinetron saja. Hidup memang penuh kejutan. Selamat ya Kang Jamal dan Teh Sumi. Semoga langgeng sampai mati. Amin. (daru-zetizen/zee/ira/RBG)