ilustrasi (foto: istimewa)

Warga Desa Karang Gayam, Kecamatan Blega, Bangkalan, kehilangan sosok kepala desa (Kades). H Dhofir selaku pemimpin di desa tersebut meninggal Kamis (11/5). Pria 43 tahun itu menjadi korban penganiayaan setelah melaksanakan salat Duhur.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 12.00. Saat itu, Dhofir melaksanakan salat Duhur di sebuah musala, tepatnya di sebelah timur SPBU Blega. Setelah itu, dia keluar menuju warung di depan musala.

Tak berselang lama, dia dihampiri dua orang yang mengendarai sepeda motor. Orang yang membonceng di belakang turun dan langsung membacok sang Kades berulang-ulang dengan senjata tajam (sajam). Korban pun mengalami luka serius.

Perut korban robek sepanjang 20 sentimeter. Selain itu, kepala bagian belakang robek sepanjang 15 sentimeter. Terdapat luka sepanjang 17 sentimeter di dada kanan dan luka robek 10 sentimeter di pergelangan tangan kiri. Bukan hanya itu, tiga jari tangan kanan putus.

Ketika itu, korban masih bisa bangun. Dia kembali masuk ke musala, lalu keluar beberapa saat kemudian. Sementara itu, kedua pelaku melarikan diri.

Warga sekitar pun berdatangan untuk memberikan pertolongan. Korban langsung dilarikan ke Puskesmas Blega. Namun, nyawa korban tak tertolong. Sekitar pukul 13.10, jenazah korban dibawa ke rumah duka untuk dikebumikan di tempat pemakaman umum (TPU) desa.

Hari itu juga, aparat kepolisian berhasil mendeteksi orang yang diduga sebagai pelaku. Mereka adalah kakak beradik Zulton dan Mohammad Mahdi Muzekki, 17. Petugas baru menangkap Mahdi. Dia diringkus di Desa Gigir, Kecamatan Blega. Sementara itu, Zulton lolos dari sergapan polisi. ”Satu pelaku berhasil kami amankan. Kami masih memburu pelaku lain,” terang Kapolsek Blega AKP Hartanta.

Diduga, pelaku melakukan penganiayaan karena dendam saat pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades). Pada pemilihan tersebut, Dhofir yang keluar sebagai pemenang bersaing dengan H Riadi, orang tua pelaku. ”Dugaan awal, motifnya karena pilkades,” tutur Hartanta. (bam/luq/c18/ano)