Setia Menjaga Anak-Istri, Kodir Ketiban Rezeki

Buah kebaikan akan dibalas kebaikan. Hal itu pula yang dirasakan Kodir (38) nama samaran, akan kesetiaannya terhadap setia menemani istrinya, sebut saja Enjum (35) yang mengidap penyakit ganas sejak kecil dan harus rutin menjalani pengobatan tiap bulan berbalas rezeki berlimpah.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Ciruas, Kodir siang itu sedang mengantre di warung fotokopi tak jauh dari rumah sakit ternama di Serang. Sambil menunggu giliran fotokopi, Kodir berkenan diajak berbincang dan menceritakan kisah rumah tangganya bersama istri. Kodir saat ini bekerja di perusahaan cukup ternama di Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang bagian administrasi. Kodir pun membeberkan bahwa ia hidup bersama istri yang mengidap penyakit serius, yakni kanker paru-paru yang sudah dideritanya dari kecil. Bahkan, Kodir juga harus menerima kenyataan bahwa anaknya yang berkebutuhan khusus. Namun, pria bertubuh tinggi kurus itu lapang dada menerima takdirnya dan mampu mengayomi rumah tangga dengan penuh kasih sayang. “Ya kita harus berlajar ikhlas menerimanya, ini ujian,” ucapnya. Subhanallah Bang.

Perjumpaannya dengan Enjum pasca kelulusan SMA. Waktu itu Kodir sedang melamar kerja. Saat mengantre di kantor pos untuk mengirim surat lamaran, Enjum yang berdiri tak jauh darinya, tiba-tiba jatuh pingsan. Kodir langsung memapah Enjum dan membawa ke puskesmas terdekat. Sejak itu Kodir dan Enjum berkenalan dan saling bertukar nomor ponsel. Saat itu Enjum belum menceritakan soal riwayat penyakitnya. Sebulan kemudian Kodir diterima kerja, tidak dengan Enjum. Meski begitu, hubungan pertemanan mereka tetap berjalan. Kodir mengaku salut dengan karakter Enjum yang tetap menunjukkan sikap biasa walaupun dalam keadaan sakit. Kendati begitu, Kodir tidak menyangkal kalau dirinya juga terpesona dengan kecantikan Enjum yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. “Ya Enjum itu memang cantik. Saya waktu itu enggak mikirin dia punya penyakit,” akunya.

Sosok Kodir sendiri cukup rupawan, kulitnya bersih berkaca mata, pakaiannya sopan. Sikapnya juga ramah, baik hati, tidak sombong, dan gemar menabung. Kodir termasuk pekerja keras yang mampu membuat Enjum bahagia. Karena keuletannya bekerja dan bisa dipercaya, Kodir diberikan beasiswa oleh perusahaan untuk melanjutkan pendidikan sarjana. “Ya pulang kerja kuliah sampai malem,” katanya. Selamat ya.

Tiga bulan setelah pertemuannya dengan Enjum, Kodir mulai berani main ke rumah Enjum setiap malam minggu. Mengajak jalan-jalan hingga makan bakso. Seiring waktu keduanya mulai saling memahami karakter masing-masing. Seminggu kemudian, Kodir menyatakan perasaannya yang langsung disambut oleh Enjum. Mereka pun resmi pacaran. Semasa pacaran, Kodir menunjukkan gelagat keseriusannya menjalin hubungan dengan Enjum. Sampai akhirnya, Kodir mendapat sinyal kuat dari kedua orangtua Enjum yang ingin meresmikan hubungan mereka. Kedua orangtua Enjum pun nekat menceritakan penyakit yang diderita Enjum kepada Kodir. Saat itu juga Kodir diberi pilihan dan memutuskan untuk tetap menerima kekurangan Enjum. “Kalau mau silakan menikahinya (Enjum-red), jika enggak, maka saya dilarang main ke rumah dan diminta mengakhiri hubungan dengan Enjum,” ujarnya kala itu.

Namun, Kodir dengan gentel menegaskan akan menerima kekurangan Enjum dan siap meminangnya. Sebulan kemudian, prosesi lamaran dilakukan, Kodir dan Enjum pun menikah. Pesta pernikahan digelar cukup meriah. Keluarga Enjum sengaja merayakannya besar-besaran demi membahagiakan putrinya itu. Setelah resmi menjadi suami, Kodir menunjukkan tanggung jawabnya kepada Enjum, memberikan perhatian dan memanjakan istri. Setiap Enjum dalam kondisi lemah, Kodir tetap sabar merawatnya dengan penuh kelembutan. “Saya anggap ini ibadah. Manusia kan memang enggak ada yang sempurna,” ucap Kodir berbesar hati. Subhanallah ya.

Setahun kemudian, mereka dikaruniai anak pertama yang membuat hidup semakin berwarna. Meski dalam kondisi sakit, Enjum mampu melawan penyakitnya untuk melahirkan si jabang bayi. Sayangnya, Kodir kembali menerima ujian kedua setelah mengetahui bahwa kesehatan buah hatinya juga tak sempurna. “Ya, anak saya terlahir sebagai anak berkebutuhan khusus,” ungkapnya. Sabar ya Bang.

Meski begitu, Kodir tetap menerima kenyataan yang ada. Ia tak pernah sedikit pun mengeluh atau berniat mencari wanita lain yang lebih baik dari Enjum. Setiap hari Kodir kerja keras banting tulang demi membiaya pengobatan istri dan anaknya. Lima tahun kemudian Kodir lulus kuliah. Dengan gelar sarjananya, Kodir naik jabatan sebagai kepala bagian pemasaran. Upah per bulan Kodir meningkat, waktu kerjanya juga lebih fleksibel yang membuatnya lebih banyak waktu mengurus anak istri.

Dari penghasilan yang ia kumpulkan, Kodir akhirnya mampu membeli rumah dan membeli kendaraan pribadi. Kini hidup Kodir jauh lebih sejahtera bersama anak dan istrinya. Menurut Kodir  mendapatkan banyak kemudahan hidup berkat buah kesabaran yang dilakukannya. “Alhamdulillah, saya selalu bersyukur sama apa yang saya punya saat ini, termasuk bisa punya anak dan istri,” ucapnya. Subhanallah, semoga sukses dan sehat selalu ya Bang. Amin. (mg06/zai/ags)