Setia Sehidup Semati, Suami Istri Ini Kompak Masuk Bui

0
238
Ilustrasi

Ini kisah puluhan tahun silam di sebuah kampung di Kabupaten Serang. Saking lamanya peristiwa ini, sang narasumber beberapa kali memutar otak ketika hendak menyampaikan kisah kepada wartawan. Meski begitu, ia mengakui, kisah cintanya memang nyata terjadi.

Dua puluh tahun menikah, pasutri Rojo (65) dan Michele (64), keduanya nama samaran dikaruniai empat anak. Semakin lama pernikahan bukannya semakin mesra, hubungan mereka malah merenggang. Ibarat tumpukan piring yang diletakkan terlalu dekat, suatu saat pasti saling bergesekan dan terjadi keretakan. Rumah yang saling berdempetan dengan rumah adik dan kakak-kakaknya, menjadi awal sumber permasalahan yang terjadi. Waduh, kok bisa begitu ya, Kang?

“Ya biasalah, namanya juga tetanggaan sama saudara, ada saja ribut-ribut mah,” kata Rojo kepada Radar Banten.

Hari demi hari dilalui Rojo tak secerah seperti awal menjalani pernikahan. Ia sadari, kini istrinya mengalami banyak perubahan. Mulai dari tak ramah kepada tetangga sampai sering adu mulut hanya karena masalah sepele. Meski ia mencoba untuk melupakannya, perlahan tapi pasti Rojo larut dalam keterpurukan.

Tak ayal hal itu berdampak buruk bagi kinerjanya, hingga perusahaan tempat ia bekerja pun tak mau lagi menerima dirinya karena sudah tidak seproduktif dahulu. Weleh-weleh, atuh jangan loyo gitu dong, Kang?

“Saya enggak loyo, cuma suka kepikiran gitu. Ini istri sama keluarga kok enggak pernah akur, sebenarnya apa salah saya?” keluhnya meratapi kegelisahan.

Hidup sebagai seorang penganggur membuat Rojo semakin tak karuan. Setiap malam yang dilakukannya hanya berjudi dan mabuk-mabukan. Meski ia terlahir dari keluarga berada, punya banyak tanah dan aset lainnya, tetap saja menganggur jadi hal yang menakutkan baginya. Frustrasi yang dialami semakin tak menentu, barang-barang elektronik yang dimilikinya sedikit demi sedikit terkuras untuk menutupi utang-utangnya karena kalah berjudi.

Beruntung, meski sudah terbawa pengaruh miras, lantaran pola pikir Rojo yang selalu dididik dengan baik, ia pun sadar akan keterpurukan yang dialami. Dengan meminta bantuan beberapa teman, ia mencoba bekerja di perusahaan travel di Jakarta. Harapan baru pun muncul di angannya.

“Waktu itu saya sudah bertekad semangat kerja, pokoknya enggak bakal sia-siain kesempatan itu,” katanya.

Di sisi lain, Rojo yang saat itu mulai kembali sibuk bekerja, hanya pulang seminggu sekali. Bahkan sampai sebulan sekali. Terlalu lama tidak ditemani suami, membuat Michele gelap mata. Bukan lantaran tak bahagia, tapi sifat keserakahan terhadap suatu benda membuatnya masuk ke dalam lubang kehancuran.

Keluarga besar Rojo memiliki perekonomian yang bagus, berbeda dengan saudara-saudara Michele, semua kakak-kakaknya adalah orang tak mampu. Ada bisik-bisik tetangga yang mengatakan bahwa Michele selalu dihasut oleh kakaknya untuk mengambil barang-barang milik keluarga Rojo. Barang curian tersebut kemudian dijual dan hasilnya dibagi rata.

Sebagai suami, Rojo tak menaruh curiga berlebih kepada istrinya. Hari-hari dilalui tanpa ada kendala. Hingga suatu hari, peristiwa itu terjadi. Seorang tetangga yang tak lain adalah kakak Rojo sendiri, menggedor pintu rumah dan berteriak menuduh Michele mengambil sesuatu dari rumahnya. Waduh, ambil apa tuh, Kang?

“Saya lupa pokoknya waktu itu keluarga saya pada nyalahinnya ke saya. Kan bingung,” curhatnya.

Apa mau dikata, Rojo pun tidak tahan hati karena kelakuan istri, banyak omongan-omongan miring tentang Michele. Pertengkaran hebat tak bisa dihindari. Air mata Michele pun tak sanggup membendung kesedihan. Keesokan harinya, Michele langsung mengemasi barang-barang dari rumah yang sudah puluhan tahun dilalui bersama suami.

Tapi, Rojo tak tinggal diam, bagaimana pun, Michele tetap istrinya yang masih ia cintai dan sayangi. Ia tarik kembali semua tas yang kadung berada di depan pintu. Meski tidak terjadi keributan hebat, pagi itu Rojo dan Michele menitikkan air mata. Suasana haru tercipta antara keduanya.

Dan peristiwa tak disangka pun datang. Menjelang siang ketika keduanya sudah mulai tenang, sang tetangga datang dengan membawa aparat kepolisian berjaket hitam, Michele dibawa untuk dimintai keterangan. Rojo pun naik pitam, ia tak menyangka kakaknya sendiri tega melaporkan sang istri ke polisi. Aih-aih, ngeri amat ya.

“Duh, waktu itu saya ngamuk ke meraka. Atuh masalah kayak begini mah bisa diselesaikan secara kekeluargaan, ini main lapor-lapor saja,” tukasnya emosi.

Beruntung, setelah Rojo mengamuk, sang kakak menarik kembali laporannya. Meski sempat mendekam di bui selama tiga hari, akhirnya Michele dibebaskan. Sesampainya di rumah, seolah tak terima atas perlakuan keluarga sang suami, tanpa basa-basi, Michele pergi ke rumah orangtua. Rojo tak bisa mencegahnya.

Nahas, berharap bisa memperbaiki hidupnya dengan kembali bekerja, nasib sial seolah tak pernah bosan menghampirinya. Tak lama setelah membebaskan sang istri, kini Rojo yang harus mendekam di penjara karena perusahaan travel tempatnya bekerja tersandung kasus penipuan. Oalah, kok bisa gitu, Kang?

“Mungkin waktu itu memang nasib saya lagi buruk. Jadi, ternyata teman yang ngajak saya itu penipu, saya ikut-ikutan dipenjara deh,” akunya mengenang masa lalu.

Akhirnya, mungkin merasa tak tega melihat Rojo menderita di dalam penjara. Seluruh keluarga pun mengadakan musyawarah. Beberapa kali perwakilan keluarga mendatangi kantor polisi untuk melakukan negosiasi. Tak hanya itu, mereka pun menyewa pengacara demi kebebasan Rojo.

Dengan warisan berupa tanah seluas sekitar tiga hektare dijualnya untuk membiayai pengacara dan melakukan semua usaha membebaskan Rojo dari bui. Hingga hampir enam bulan proses dilalui, Rojo pun bebas dan kembali menghirup udara segar. Ia dipeluk seluruh keluarga termasuk kakaknya yang melaporkan sang istri. Tak ayal, Michele pun kembali diterima oleh keluarga.

Meski begitu, tak bisa dimungkiri, kehidupan Rojo dan Michele pun menjadi tak menentu. Pekerjaan tak ada, sedangkan ia masih harus mengurus empat anaknya.

Tapi hikmahnya, setelah bertubi-tubi cobaan datang menerjang, hubungan Rojo dan Michele justru semakin harmonis. Michele menjadi menuruti apa kata suami, Rojo pun jadi jauh lebih menyayangi istri. Cie…

Semoga langgeng terus ya Kang Rojak dan Teh Michele! Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)