Anak-anak Kampung Ciseke, Desa Batukuwung, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang berangkat ke sekolah.

Senin (5/2), sekira pukul 06.30 WIB, anak-anak Kampung Ciseke, Desa Batukuwung, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, berseragam merah putih berjejer di halaman rumah salah satu warga. Mereka berteduh menunggu hujan yang lama tak reda-reda. Wajah mereka tampak ceria, bergurau antar-sesama teman, tas sekolah dan peralatan tulis digendongnya.

Beberapa dari mereka hanya membawa sandal jepit, beberapa lagi ada yang membawa sepatu sekolah. Sepatu dan sandal itu tidak langsung mereka pakai dari rumah, mereka menentengnya dan berjalan ke sekolah tanpa alas kaki. “Percuma bawa sepatu juga Kak (menyebut Radar Banten-red). Pasti kotor, mendingan bawa sandal,” kata Bayu, siswa kelas II SDN Suarna asal Kampung Ciseke.

Bayu mengatakan, ia beserta teman-temannya setiap hari berjalan kaki untuk berangkat ke sekolah. Mereka harus melewati akses jalan becek dengan jalan setapak di tengah persawahan. “Kalau ada motor yang lewat, kita ikut. Kalau enggak ya jalan saja,” ujarnya.

Sekira pukul 06.45 WIB, hujan pun mulai reda. Bayu dan teman-temannya bergegas berangkat ke sekolah. Mereka mempercepat langkah kakinya untuk datang tepat waktu ke sekolah. Sandal dan sepatu masih ditenteng di tangannya. Meskipun hujan masih gerimis rintik-rintik, tak menyurutkan semangat mereka untuk tetap sekolah. “Kalau enggak sekolah nantinya enggak belajar,” ucap Bayu.

Sekira pukul 08.30 WIB, mereka bertolak ke rumah masing-masing. Sandal dan sepatu masih ditenteng di tangannya. Kali ini, raut wajah mereka kusut, dan tampak tidak bersemangat. Seragam dan tas yang mereka kenakan semuanya basah tersimpah air hujan. Mereka mengaku sudah sampai di sekolah. Namun, guru di sekolah menyuruh untuk pulang karena kondisi mereka basah-basahan. “Disuruh pulang sama Ibu Guru,” kata Bayu lagi, yang dibenarkan oleh anak-anak lain.

Menurut Bayu, setiap turun hujan anak-anak Kampung Ciseke selalu diliburkan oleh pihak sekolah. Namun, mereka tidak pernah meliburkan diri. Mereka tetap berangkat ke sekolah meskipun harus basah-basahan. Guru-guru di sekolah juga sudah memaklumi kondisi anak-anak Kampung Ciseke. “Kata guru juga enggak apa-apa. Sekolah pakai sandal juga enggak dimarahi soalnya becek,” terang Bayu.

Sepulang sekolah, Bayu dan teman-temannya bermain di halaman perkampungan yang kumuh dan sempit. Menjelang sore, anak-anak Kampung Ciseke berangkat ke musala untuk ikut salat berjamaah. Setelah itu, mereka bergegas mengaji ke salah satu ustadz di kampung itu. “Kalau habis Magrib ngaji Alquran,” ucap Bayu.

Ketua RT Kampung Ciseke Kasnari mengatakan, semangat pendidikan di daerahnya memang sangat tinggi. Semua anak-anak, tidak ada satu pun yang tidak sekolah. “Dari SD, SMP, sampai SMA, semuanya sekolah. Cuma enggak ada yang kuliah karena soal biaya,” katanya.

Menurut Kasnari, anak-anak SD menempuh sekolah dengan berjalan kaki sejauh lebih dari dua kilometer. Sementara, akses ke sekolah SMP dan SMA lebih dari empat kilometer. “Kalau anak SD semuanya jalan kaki. Kalau anak SMP, SMA, kadang pakai motor, kalau hujan besar, jalan kaki. Soalnya jalannya enggak bisa dilewati,” terangnya.

Dikatakan Kasnari, semangat pendidikan ditekankan oleh orangtua masing-masing. Meskipun kebanyakan warga Kampung Ciseke berpendidikan rendah, mereka ingin mengubah nasibnya melalui anak-anaknya. “Anak-anak kita biar pinter, mengubah nasib orangtuanya,” pungkasnya.

Kampung Ciseke berada di antara perbatasan cagar alam Rawa Danau di Kecamatan Padarincang. Berjarak dua hingga tiga kilometer dari jalan utama Palima-Cinangka, jalan menuju perkampungan itu hanya tersedia seluas satu meter saja. Akses menuju Kampung Ciseke terbilang sangat sulit. Bisa dikatakan, hanya orang-orang yang sudah mahir berkendara saja yang mampu melintas di jalan itu. Jalan dengan luas satu meter yang beralaskan tanah liat, menjadikan jalan itu licin dan sangat berbahaya. Di samping kanan-kiri jalan, terbentang sawah dan perkebunan. (Abdul Rojak/RBG)

BAGIKAN