Sidang Lanjutan Suap Transmart: Dua Saksi Cabut Berita Acara Pemeriksaan

KPK Putar Rekaman CCTV Pemeriksaan

Salah satu terdakwa kasus suap proyek Transmart Walikota Cilegon nonaktif Iman Ariyadi (tengah) saat menjalani sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, di Pengadilan Tipikor Serang, Kota Serang, Rabu (21/3).

SERANG – Keterangan berita acara pemeriksaan (BAP) terkait rencana penyerahan sisa dana sponsorship sebesar Rp1,152 miliar kepada Walikota Cilegon nonaktif Tubagus Iman Ariyadi dicabut oleh Bendahara Cilegon United (CU) Wahyu Ida Utama. Dia berdalih pengakuan itu dibuat di hadapan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lantaran merasa lelah.

“Karena sudah sore, saya ingin cepat pulang, saya iya-iya kan saja. Sudah pusing ngurusin tim (CU-red), dipanggil berulang kali KPK. Secara psikologis tertekan, saya sudah capek,” ungkap Wahyu di Pengadilan Tipikor Serang, Rabu (21/3).

Pernyataan itu disampaikan setelah pemeriksaan terhadap penyidik KPK Ardian Rahayudi. Kehadiran Ardian Rahayudi sebagai saksi verbalisan itu merupakan buntut kesaksian Wahyu Ida Utama di persidangan, Rabu (7/3).

Saat bersaksi untuk Walikota Cilegon nonaktif Tubagus Iman Ariyadi, mantan kepala Dinas Penamanan Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Cilegon Akhmad Dita Prawira dan Hendri pada Rabu (7/3) lalu, Wahyu membantah pernah memberikan keterangan akan menyerahkan uang yang diterima CU kepada Iman Ariyadi. “Saya ngomongnya melaporkan. Melaporkan (bukan menyerahkan-red),” ucap Wahyu di hadapan majelis hakim yang diketuai Efiyanto.

Atas keputusan pencabutan tersebut, Efiyanto mengingatkan ancaman pidana kepada sales PT Yokogawa itu bila terbukti memberikan keterangan palsu. “Ada ancaman pidananya,” tegas Efiyanto.

PUTAR CCTV

Sebelumnya, Ardian mengaku sebagai penyidik yang memeriksa Wahyu Ida Utama. Pemeriksaan berlangsung selama lima jam di lantai dua gedung KPK. “Berjalan biasa saja (tidak ada ancaman-red). Seingat saya tidak ada (ungkapan ancaman-red),” kata Ardian.

Menurutnya, pertanyaan yang diajukan dapat dimengerti oleh Wahyu. Dia menyangkal telah mengarahkan jawaban yang dilontarkan Wahyu. “Tidak ada pertanyaan yang mengarahkan,” kata Ardian.

Ardian memastikan keterangan saksi yang tertuang dalam BAP dibuat sesuai jawaban Wahyu. Bahkan, Wahyu diberikan cukup waktu membaca hasil pemeriksaan sebelum ditandatangani. “Saat akhir pemeriksaan, kami serahkan hasil pengetikan. BAP sudah dibaca dan seingat saya dibaca sangat lama,” kata Ardian.

Namun, Ardian mengaku tidak dapat mengingat apakah Wahyu meminta revisi atas hasil pemeriksaan. “Saya tidak ingat revisinya,” kata Ardian.

Ardian juga mengaku tidak dapat mengingat apakah ada pernyataan langsung dari Wahyu mengenai rencana penyerahan uang dari CU kepada Iman Ariyadi. “Saya tidak ingat satu per satu jawaban,” ucap Ardian.

Supaya mengetahui suasana saat pemeriksaan Wahyu, JPU memutar rekaman dua slide dari tujuh slide circuit closed television (CCTV) atau kamera pengintai yang disiapkan. Berdasarkan rekaman itu, terlihat sosok Wahyu dan Ardian di sebuah ruangan berukuran sekira 3×3 meter.

Suara kedua orang dalam rekaman tersebut terdengar samar. Rekaman suasana pemeriksaan tersebut beberapa kali diputar ulang.

Namun, saat pernyataan mengenai penyerahan uang terdengar cukup jelas. Wahyu mengamini rencana penyerahan uang kepada Iman Ariyadi. Bahkan, Wahyu sempat mengoreksi nilai uang yang akan diserahkan kepada Iman Ariyadi. “Iya, Rp1,1 (miliar-red),” ucap Wahyu dalam rekaman tersebut.

Penasihat hukum Iman Ariyadi melalui majelis hakim sempat meminta salinan rekaman pemeriksaan itu kepada JPU. Tetapi, permintaan itu ditolak oleh JPU dengan alasan bersifat rahasia. “Kalau majelis hakim memintanya untuk kepentingan perkara ini kami akan berikan,” kata ketua tim JPU Chaerudin.

Persidangan itu rencananya juga menghadirkan saksi verbalisan untuk Manajer CU Yudhi Aprianto. Soalnya, Yudhi juga mencabut keterangan yang sama di BAP pada persidangan dua pekan lalu. Yudhi beralasan pengakuan itu dibuat lantaran merasa tertekan.

Pemeriksaan itu tidak dapat dilaksanakan lantaran penyidik yang memeriksa Yudhi berhalangan hadir. JPU menyebutkan penyidik KPK tersebut sedang mengikuti pendidikan di Australia hingga 2020.

Namun, JPU mengusulkan agar persidangan tersebut tetap memutar rekaman saat pemeriksaan Yudhi. Usulan tersebut ditolak oleh masing-masing penasihat hukum ketiga terdakwa. “Majelis hakim memutuskan untuk didengarkan (rekaman-red). Keberatan penasihat hukum akan dicatat dalam berita acara persidangan,” kata Efiyanto. (Merwanda/RBG)