Sidang Suap Transmart: Saksi PT KIEC Beratkan Iman Ariyadi

Walikota Cilegon nonaktif Tb Iman Ariyadi saat menghadiri sidang lanjutan dugaan suap dengan agenda mendengarkan keterangan saksi di Pengadilan Tipikor Serang, Kota Serang, Kamis (15/2).

SERANG – Tubagus Iman Ariyadi tidak memberikan izin penerbitan perizinan pembangunan Mal Transmart kendati dokumen persyaratan telah dilengkapi. Walikota Cilegon nonaktif itu yang menyebabkan pembangunan mal tidak terlaksana.

Hal itu terungkap dalam sidang lanjutan dugaan suap pengurusan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) pembangunan Mal Transmart di Pengadilan Tipikor Serang, Kamis (15/2). Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK yang diketuai Haerudin menghadirkan lima saksi dari PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC). Mereka adalah mantan direktur pengembangan usaha PT KIEC Tirta Djaja, Direktur Keuangan dan SDM Ani Sriwiyanti Handayani, Manajer Divisi Manajemen dan Sport Service Hendi Rustandi, mantan direktur operasional dan komersial Priyo Budianto, dan Manajer Safety Health and Environment (SHE) Joni.

Kelima saksi itu dihadapkan secara bersamaan untuk memberikan keterangan untuk terdakwa Tubagus Iman Ariyadi, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Cilegon nonaktif Ahmad Dita Prawira dan politikus Partai Golkar Kota Cilegon Hendri.

Dalam keterangannya, Priyo Budianto mengatakan, izin lingkungan sudah dikeluarkan, tetapi harus menunggu arahan dari Iman Ariyadi selaku walikota Cilegon. “Itu yang kami tanyakan kepala dinas (Kepala Dinas Lingkungan Hidup Ujang Iing-red), kenapa kan (persyaratan-red) sudah dipenuhi, kenapa harus menunggu izin walikota?” kata Priyo.

Setelah menanyakan perizinan tersebut, Project Manager PT Brantas Abipraya (BA) Bayu Dwinanto Utomo melaporkan terdapat permintaan Rp2,5 miliar dari Iman Ariyadi melalui Hendri. “Bayu melaporkan kepada kami, manajemen PT KIEC di rapat. Perizinan itu ada permintaan dana Rp2,5 miliar. Informasi tidak dijelaskan secara jelas, intinya pihak pemkot meminta dana melalui Pak Hendri,” kata Priyo.

Lantaran PT BA tidak memiliki cukup dana, Bayu kemudian meminta PT KIEC membantu memenuhi permintaan tersebut. Namun, permintaan tersebut ditolak. “Kami tidak memenuhi itu karena tertuang dalam kontrak kerja, jadi kami tidak bisa membantu,” jelas Priyo.

Pada September 2017, Priyo bersama Dony, Bayu, dan Herman dari perwaklian PT TRI menemui Iman Ariyadi. Tujuannya untuk menanyakan proses perizinan Mal Transmart yang belum keluar. “(Iman Ariyadi-red) Saya pikir tidak ada masalah. Teknisnya bicara dengan Pak Dita,” kata Priyo.

Keterangan yang sama juga disampaikan Joni. Pensiunan TNI ini mengaku sempat menghubungi Kepala DLH Cilegon Ujang Iing terkait SKKLH pada Agustus 2017. Saat itu Ujang mengaku sudah menandatangani SKKLH, tetapi belum dapat diberikan kepada PT KIEC. “Saya telepon Pak Ujang Iing menanyakan progres SKKLH. Kapan selesai dan diantar atau kami yang ambil. Katanya, surat tersebut sudah (Ujang Iing-red) tanda tangani. Tapi, belum bisa dikasihkan ke KIEC, menunggu petunjuk Pak Walikota,” beber Joni.

Sementara itu, Tirta Djaja mengaku pelaksanaan proyek pembangunan Mal Transmart mengalami kendala teknis. Yakni, perubahan rencana tata ruang wilayah (RTRW) dari Kementerian Agararia dan Tata Ruang dan amdal. “Ada kendala teknis yang menentukan, kita harus menunggu. Perubahan RTRW dari kementerian. Perubahan ruang terbuka hijau menjadi ruang niaga. Ada kendala lain, masalah amdal, meskipun dokumen sudah lengkap, itu menunggu rekomendasi Walikota (Iman Ariyadi-red),” kata Tirta Djaja di hadapan majelis hakim yang diketuai Efiyanto.

Lantaran kendala tersebut, Tirta Djaja diminta Direktur Utama (Dirut) PT KIEC  Tubagus Dony Sugihmukti pada 15 September 2017 menemaninya menemui Iman Ariyadi. “Saya menemani Pak Doni ke rumah walikota. Dalam rangka hal-hal terkait perizinan Transmart,” kata Tirta.

Saat bertemu Iman, jelas Tirta, Iman Ariyadi langsung menjelaskan bahwa uang yang diminta tersebut untuk membantu persepakbolaan Cilegon. “Pak Wali bilang, dana yang diperlukan itu bukan untuk walikota pribadi, tapi untuk membantu sepak bola Cilegon. Atas penjelasan itu, Pak Doni meminta segera memasukkan proposal,” jelas Tirta.

Dikatakan Tirta, saat pertemuan itu tidak ada hal lain yang dibicarakan antara Dony dan Iman Ariyadi. “Begitu kami datang, poin itu yang disampaikan,” ujar Tirta.

Tirta meyakini bahwa permintaan uang tersebut terkait perizinan proyek pembangunan Mal Transmart yang tak kunjung keluar. “Sepertinya ya (terkait perizinan-red) karena pas ditanya izin lainnya di luar Transmart, Pak Wali bilang nanti saja, ini yang Transmart saja,” beber Tirta.

Tirta mengaku selain pembangunan Mal Transmart, PT KIEC masih menungu surat perizinan perluasan kawasan industri PT KIEC dan izin operasional Hotel Royal Krakatau dari Pemkot Cilegon. “Salah satunya, perluasan kawasan industri KIEC dan masalah operasional Hotel Royal Krakatau,” kata Tirta.

Ani mengatakan, pada 15 September 2017, seusai bertemu dengan Iman Ariyadi, Dony bersama Dita masuk ke ruangan kerjanya. Saat itu Dony menyampaikan bahwa Iman Ariyadi meminta bantuan sponsorship untuk Cilegon United (CU). “Saya, Pak Priyo sedang rapat. Pak Dita dan Pak Dony masuk ke ruangan Pak Wali minta bantu sponsorship,” kata Ani.

Seusai memberikan keterangan, Iman membantah bahwa permintaan sponsorship ke CU terkait perizinan Transmart. Dia mengaku dalam pertemuan tersebut, ia hanya meminta kesedian PT KIEC menjadi sponsorship CU. “Dalam pertemuan itu, saya sampaikan, CU yang tidak ada anggaran ke Sleman (Jogjakarta-red) sehingga (penawaran-red) untuk sponsorship dan KIEC bersedia menjadi sponsorship. Seingat saya tidak (membahas-red) izin Transmart,” bantah Iman. (Merwanda/RBG)