Sidang Tahunan Jangan Terjebak pada Agenda Rutin dan Seremonial

Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr Ahmad Tholabi Kharlie SH, MH, MA.

JAKARTA – Pidato Presiden Joko Widodo pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD dalam rangka HUT Ke-75  Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Jumat (14/8), mendapat tanggapan dari Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr Ahmad Tholabi Kharlie SH, MH, MA.

Menurut Tholabi, model sidang tahunan yang berisi laporan lembaga-lembaga negara selama setahun terakhir yang diwakili oleh Presiden dirasa tidak tepat. Secara susbstansial, cabang-cabang kekuasaan melalui trias politica telah dipisah melalui mekanisme separation of power. “Presiden tidak bisa mewakili lembaga legislatif maupun yudikatif. Termasuk Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Ke depan perlu diatur mengenai pelaporan tiap-tiap lembaga untuk menyampaikan secara langsung di hadapan sidang MPR,” kata Tholabi.

Tholabi berpendapat, ke depan materi pelaporan dalam Sidang Tahunan juga perlu ditekankan pada penyampaian kondisi obyektif tiap-tiap lembaga. Sidang Tahunan tidak hanya menyampaikan kabar gembira, namun tantangan dan persoalan di masing-masing lembaga sebaiknya disampaikan dalam forum Sidang Tahunan ini. Sidang ini dilihat oleh seluruh rakyat Indonesia. Rakyat berhak mengetahui bagaimana kondisi oyektif tiap-tiap lembaga negara. Upaya ini agar Sidang Tahunan tidak terjebak pada agenda rutin yang lebih menonjol sisi seremonial saja.

“Materi pidato Presiden yang menyebut pandemi ini dijadikan momentum kebangkitan baru untuk melakukan lompatan besar patut didukung. Kami menyerukan harus ada upaya “great reset” atau penataan ulang secara besar-besaran di semua sektor melalui jalur hukum. Hukum harus responsif atas persoalan pandemi dan dampak turunan akibat pandemi. Penataan ulang secara besar-besaran (great reset) harus diwujudkan melalui hukum dengan tetap menjadikan konstitusi dan demokrasi sebagai kompasnya. Jangan sampai langkah great reset justru terjebak pada pengabaian konstitusi dan demokrasi,” ungkap Tholabi yang juga menjabat Ketua Forum Dekan Syariah dan Hukum PTKI se Indonesia.

Dia menegaskan, titik tekan Presiden ke sejumlah sektor seperti pendidikan, penegakan hukum, pemebrantasan korupsi, legislasi tampak mengangabaikan realitas yang terjadi di lapangan. Seperti persoalan pendidikan, hari-hari ini siswa dan orang tua siswa termasuk kalangan perguruan tinggi di masa pandemi menjadi masalah krusial yang hingga saat ini belum menemukan format ideal. Begitu juga mengenai legislasi antara DPR dan Presiden, aspirasi masyarakat sipil mengenai pembahasan sejumlah RUU di DPR saat masa pandemi ini, luput dari cermatan Presiden. Aspirasi dari warga negara semestinya menjadi catatan penting bagi negara dalam perumusan setiap kebijakan publik, khususnya produk legislasi.

Kemudian, lanjutnya, pelaporan kinerja Mahkamah Agung (MA) dan Komisi Yudisial (KY) dalam sidang tahunan ini, Presiden semestinya turut mendorong reformasi di lembaga peradilan yang hingga saat ini masih menyisakan masalah serius. Dorongan lahirnya RUU Jabatan Hakim, menjadi salah satu embrio awal untuk kehadiran reformasi di lembaga peradilan. “Gagasan share responsibility antara KY dan MA diharapkan menjadi resep jitu untuk menempatkan hakim dalam marwah yang sejatinya,” kata Tholabi. (aas)