Sikap Mahasiswa Banten, Pilpres Tanpa Fitnah dan Singgung SARA

SERANG – Pilpres 2019 akan diikuti dua pasangan antara petahana Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. KPU RI tinggal menetapkan keduanya sebagai pasangan capres-cawapres pada Kamis (20/9).

Pasca keduanya didaftarkan sebagai pasangan calon oleh masing-masing partai politik (parpol) koalisi pendukung, para simpatisannya sudah mulai melakukan kampanye. Padahal, tahapan kampanye secara resmi baru dimulai pada Minggu (23/9).

Sambutan simpatisan yang berlebihan itu, kerap tidak terkontrol dan menimbulkan kegaduhan yang rentan merusak persatuan bangsa. Menyikapi hal tersebut, sejumlah aktivis pergerakan mahasiswa di Provinsi Banten menyerukan agar masing-masing pihak pendukung dapat lebih mawas diri.

Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Banten Asep Rahmatullah mengatakan, pilpres menjadi hajat bersama bangsa Indonesia untuk menghasilkan pemimpin sesuai cita-cita bangsa. “Prosesnya harus dilakukan secara ideal. Mulai dari pihak penyelenggara, parpol, tim sukses kedua belah pihak, juga masyarakat secara luas,” katanya kepada Radar Banten.

Asep mengatakan, pilpres harus menjadi ajang adu gagasan dari pasangan calon dan juga seluruh komponen pendukungnya. “Gagasan memajukan bangsa itu yang ditunggu masyarakat. Bukan dengan cara menampilkan segala bentuk agitasi, proganda. Jadikan pilpres ini no fitnah, hoax, SARA (sentiman berdasarkan suku, agama, ras, dan antar golongan), dan ujaran kebencian yang akhirnya memecah belah kesatuan dan persatuan Indonesia,” serunya.

Menurutnya, munculnya dua fenomena gerakan #2019GantiPresiden dan gerakan #JokowiDuaPeriode menjadi dinamika kompetisi dan partisipatif masyarakat dalam demokrasi. “Kita semua sebagai warga harus belajar lebih bijak dan dewasa dalam menyikapi proses demokrasi ini. Mari kita rawat jaga dan tampilkan bersama nilai-nilai kebaikan, ide, gagasan dalam kampanye,” seru Asep.

Ketua Umum Aksi Kesatuan Mahasiswa Muslim Indonesia (Kammi) Serang Fitria Nugraha juga mengatakan hal senada. Kata dia,masing-masing kubu harus bisa saling menjaga diri. Tidak melakukan kampanye sara, ujaran kebencian dan fitnah dalam bentuk apa pun. “Pemilu harus menjadi ajang adu gagasan dan narasi tentang memimpin. Bukan saling menebar kebencian,” ujarnya.

Kedua pasangan memiliki kekuatan politik yang berimbang. Menurutnya, petahana memiliki pengalaman, dukungan parpol lebih banyak ditambah pasangannya Kiai Ma’ruf Amin menjadi modal yang kuat. Di satu sisi, Prabowo yang memilih Sandiaga Uno sebagai pasangannya, sebagai pengusaha muda sukses dan juga mendapatkan perhatian lebih dari generasi milenial. “Keduanya memiliki peluang yang sama dalam memenangkan Pilpres,” katanya.

Terpisah, Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Serang Arman Maulana mengatakan, yang lebih penting bagi masyarakat adalah menjadikan momentum Pilpres ini sebagai titik baru perubahan sejarah. “Perhelatan demokrasi besar ini harus jauh dan steril dari isu SARA dan tetap menjaga persatuan bangsa,” katanya.

Menurutnya, antusias masyarakat dalam politik dan demokrasi sudah mulai semakin baik. Namun, masih ada negatif seperti munculnya isu sara yang rentan akan perpecahan. “Harusnya semua timses, calon, dan partisipan harus memberikan pendidikan membuka pandangan politik dan demokrasi yang baik dan sehat’,” sambungnya.

Lebih jauh, ucap Arman, perhelatan pilpres harus memberikan cahaya baru dari kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat, perbaikan sistem ekonomi dan kebijakan ekonomi yang lebih pro pada masyatakat tertindas. “Penerapan ideologi Pancasila bukab hanya sekedar penerapan hapalan, pemerintah dalam mengelurakan kebijakan sesuai dengan Pancasila,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Serang Abu Jihad Amin mengatakan, pemilu harus bisa memberikan pendidikan politik ke masyarakat agar demokrasi menjadi sehat. Para calon dan timnya haru harus bisa mengampanyekan program nyatanya. “Jangan sampai pipres atau pilpres cuma jadi seremonial pemilihan tanpa ada perdebatan gagasan. Para pendiri bangsa lebih dikenang sebagai negarawan ketimbang politisi karena yang mereka seterukan soal gagasan kebangsaan,” katanya.

Mahasiswa Untirta itu juga mendorong agar para calon dan timnya tidak menggunakan isu kekerasan, diskriminasi, dan pelecehan yang didasarkan pada sentimen SARA. “Isu sara sering kali muncul saat bersaing merebut suara massa. Ini harus kita lawan, dan elit politisi harus menjadi teladannya,” ujar Abu.

Kata dia, politik pada prinsipnya jalan kebaikan mempertarungkan gagasan. “Perbedaan sudah jadi keniscayaan, tapi jangan sampai pecah karena isu-isu SARA,” katan Abu. (Supri/RBG)