Siksa Mertua Tinggal Kenangan (Bag 1)

Ilustrasi Love Story (Dok. RB)

Suhu udara siang itu cukup menyengat. Dewot (34), bukan nama sebenarnya, sekadar selonjoran di rumah kontrakan dengan anak semata wayangnya. Tangan memegang koran, ia kibas-kibaskan ke badan yang kala itu sedikit berkeringat. Padahal kipas angin sudah dinyalakan, tapu tidak cukup untuk mengusir suhu panas yang menyiksa.

Sudah dua tahun Dewot tinggal di rumah kontrakan itu bersama Ucin (36), nama samaran suami Dewot. Meskipun hanya rumah kontrakan, tapi Dewot merasakan kebahagiaan hidup berumah tangga. “Rumah mewah atau uang banyak itu enggak menjamin kebahagiaan rumah tangga Mas. Hidup seperti ini pun bisa bahagia, asalkan rumah tangga berjalan sehat,” katanya.

Di sudut rumah, Ucin tersenyum mendengar omongan Dewot. Sambil mengutak-atik motor matik, Ucin yang tahu akan masa lalu Dewot yang kelam menimpal. “Iya dong, rumah tangga tuh harusnya kaya kami begini. Jangan seperti orang itu,” kata Ucin.

Orang yang Ucin maksud adalah Jendol (38), nama samaran mantan suami Dewot. Ucin terbilang benci kepada Jendol, lantaran keluarga besar sang mantan suami telah menorehkan luka cukup dalam pada istrinya. “Orang-orang kaya mereka pantasnya dikutuk jadi batu,” ketus Ucin.

Wah, memangnya apa yang terjadi ketika Dewot menjadi istri Jendol. Ucin mengatakan jika banyak miliki Dewot telah direnggut oleh keluarga besar mantan suami. “Hidupnya, hartanya, masih banyak lagi yang seharusnya menjadi milik Neng Dewot dirampas mereka. Sayang kami miskin, kalau saya punya uang banyak, ingin rasanya sewa pengacara untuk merebut kembali apa yang seharusnya jadi milik Neng Dewot,” tuturnya.

Dewot lalu mulai membuka luka lamanya bersama Jendol. Katanya, ia telah mengabdi kepada Jendol selama 12 tahun. “Saya menikah dengan Mas Jendol sejak usia 20 tahun. Waktu itu saya sedang bekerja di sebuah perusahaan, lalu berhenti setelah menikah,” ujarnya.

Rumah tangga Dewot sempat bahagia bersama Jendol. Keduanya tinggal di rumah Dewot, di mana hanya ada ibu Dewot yang tinggal bersama bersama pasangan ini.

Namun kebahagiaan itu sirna ketika ibu Dewot meninggal dunia. Dewot yang selama ini terbiasa hidup berdua dengan ibunya, tidak kuasa menahan sedih kala kehilangan. “Ibu, manusia paling saya sayangi meninggal. Kehilangan ibu membuat saya labil, sebab saya belum pernah ditinggal sendirian,” katanya.

Kehilangan orangtua membuat Dewot merindukan sosok ibu. Lantaran itu, ia meminta ibu Jendol untuk tinggal bersamanya. Sayang di luar dugaan, undangan Dewot untuk mertua ternyata awal dari bencana lebih dahsyat. Dewot tidak tahu jika sang mertua, sebut saja Ninik (58), adalah wanita licik dan jahat. “Saya enggak pernah menyangka ada perempuan kaya bu Ninik. Kira saya, orang seperti itu hanya ada di film-film,” tuturnya.

Ketika Ninik pindah ke rumah, Dewot mulai sering diperintah macam-macam. Mulai dari memasak, mencuci, menyapu, dan hal-hal lain yang sebelumnya sering dilakukan ibunya Dewot. “Bu Ninik bilangnya mau ajari saya untuk jadi istri sejati. Yakni pintar masak, bersih-bersih, dan bikin anak,” terangnya.

Nah untuk pintar memasak, Dewot diperintahkan untuk memasak setiap hari. Persoalan pintar bersih-bersih, mulai dari mencuci baju hingga lantai rumah harus dikerjakannya juga. Bersambung…