Simak…Cerita Konsumen yang Memakai Krim Pemutih Abal-abal

Setelah Dioleskan Wajah Menjadi Perih

PAKAI KRIM: Salah satu model sedang mempraktikkan pemakaian krim pemutih wajah, Kamis (20/4). FOTO: SUSI KURNIAWATI

Krim pemutih abal-abal alias tidak memiliki izin edar masih banyak ditemukan di masyarakat. Selain harganya murah, hasil yang memuaskan menjadi alasan para pemakai memilih krim abal-abal.

SUSI KURNIAWATI – Serang

Kalau ada yang murah dan hasilnya bagus, kenapa harus beli yang mahal. Ini merupakan kalimat yang diucapkan salah satu pengguna krim pemutih abal-abal bernama Ayu, warga Puri Anggrek, Kota Serang, saat dimintai komentar tentang krim yang pernah digunakan.

Wanita asal Pandeglang ini terus menceritakan pengalamannya dalam menggunakan krim pemutih abal-abal. Ia memakai krim pemutih sejak duduk di bangku kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Serang. Ia tergiur menggunakan krim tersebut bukan hanya karena murah, tetapi ia menilai hasil dari pemakaian krim tersebut terbilang bagus.

Ia mengetahui krim pemutih dari rekannya yang terlebih dulu memakainya. Ia sengaja mencermati rekan yang menggunakan krim dan dianggap memiliki hasil yang memuaskan. Dengan testimoni dan fakta dari temannya membuat ia tertarik membeli dan mempergunakan krim pemutih.

Krim itu ia beli dengan harga yang terbilang murah yakni Rp10 ribu untuk setiap satu krim pemutih dengan label SJ. Selain harga krim yang terjangkau, alasan keuangan membuatnya lebih memilih krim pemutih abal-abal. Ia sendiri tidak bisa memastikan apakah krim yang digunakan terdaftar atau tidak di BPOM. Dengan begini, ia memang tidak mengetahui isi kandungan dari krim yang digunakan sehari-hari. Dalam benaknya yang terpikir krim murah dan hasilnya bagus.

Setelah pemakaian krim, wajahnya terasa perih selama seminggu dan kulitnya juga terjadi pengelupasan selama dua minggu. “Wajah memang menjadi putih dalam hitungan minggu,” katanya.

Dengan harga yang terbilang murah, ia sebenarnya menyadari bahwa krim yang digunakan termasuk krim tidak resmi dan berbahaya. Tergiur dengan harga murah dan hasil yang bagus, ia secara sadar mengabaikan dampak kesehatan akibat pemakaian krim abal-abal. “Namanya mahasiswi, jadi uangnya terbatas dan ingin punya wajah yang putih dan bersih,” katanya.

Seiring dengan penghasilan yang dianggap cukup, ia tidak lagi menggunakan krim abal-abal. Sejak dua tahun terakhir, ia menggunakan krim pemutih dari dokter yang dibeli dengan harga Rp350 ribu per paket.

Hal serupa juga diungkapkan Hayati, warga Jiput, Kabupaten Pandeglang yang menggunakan krim pemutih dengan harga yang terjangkau yakni sekira Rp12 ribu. Ia tertarik memakai krim dari testimoni rekannya dan ia melihat hasilnya lumayan bagus. “Akhirnya coba dan ternyata bagus,” kata ibu dua anak.

Dengan pengetahuan yang terbatas, ia sendiri tidak menyadari dampak negatif dari pemakaian krim abal-abal. Ia cenderung mementingkan hasil saat pemakaian dibandingkan efek ke depannya. Ia merasa selama pemakaian beberapa tahun terakhir tidak pernah terjadi masalah dengan wajahnya yang diakibatkan pemakaian krim.

Ia tidak memungkiri saat pemakaian krim terasa perih selama beberapa hari, merah, dan kulit terkelupas. Ia menganggap efek tersebut merupakan hal wajar dari setiap pemakaian krim pemutih.

Tidak bisa dimungkiri, kebiasaan orang Indonesia yang mayoritas ingin hasil instan memang banyak diminati. Tidak heran, produk krim pemutih menjadi incaran para wanita yang ingin memiliki wajah putih dan cerah dalam hitungan minggu. Di era digitalisasi ini, masyarakat bisa semakin cerdas dalam menggunakan produk krim pemutih yang aman bagi wajah sehingga tidak memberikan efek di kemudian hari terutama kanker kulit.

Sementara Syifa Najia, siswi kelas XIII Jurusan Tata Boga SMKN 1 Kota Serang menuturkan, hingga sekarang belum pernah menggunakan krim tertentu baik yang legal atau pun ilegal. Usia yang masih belia menjadi salah satu alasan ia tidak diperbolehkan oleh sang ibu.

Ia mengatakan, sewaktu SMP pernah menggunakan sabun pembersih muka, tetapi justru timbul jerawat sehingga pemakaian dihentikan. Untuk merawat kulit wajahnya, ia cukup menggunakan pembersih muka khusus remaja agar kulit lembutnya tetap terjaga. (*)