Sindikat Pemalsu Tes Swab Dibongkar

0
1476
Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar (Kombes) Pol Yusri Yunus (tiga dari kiri) didampingi Kapolres Bandara Soetta, Kombes Pol Adi Ferdian Saputra (empat kiri) menunjukan barang bukti surat hasil swab test palsu, di Mapolresta Bandara Soetta, Senin (18/1).

TANGERANG – Sindikat pemalsu surat bebas Covid-19 di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Kota Tangerang, dibongkar polisi.

Sebanyak 250 penumpang pesawat berhasil lolos ke luar kota menggunakan tes swab palsu tersebut.

Sindikat ini berjumlah 15 orang. Belasan orang itu adalah pekerja dan mantan pekerja di Bandara Soetta. Belasan pelaku itu berinisial MHJ, M, ZAP, DS, U alias B, AA, U, YS, SB, S, IS, CY, RAS, dan PA.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar (Kombes) Pol Yusri Yunus mengatakan, komplotan ini telah beraksi sejak Oktober 2020 lalu.

Ratusan orang telah berhasil terbang ke luar kota dengan menggunakan jasa mereka. “Dari pengakuan mereka, sudah beroperasi sejak Oktober 2020 sampai Januari. Kita masih dalami lagi, dan kita masih melakukan pengambangan apakah ada lagi atau tidak,” kata Yusri kepada Tangerang Ekspres (Radarbantengroup)di Mapolresta Bandara Soetta, Senin (18/1).

Dijelaskan Yusri, setiap pelaku memiliki peran masing-masing. Sehingga kejahatan mereka yang rapi dan teroganisir itu sulit dicium petugas Bandara Soetta. “Semua tersangka, merupakan pekerja di Bandara Soekarno-Hatta atau pun pernah bekerja di Bandara Soetta. Makanya, para tersangka tahu alur dan administrasi soal pemeriksaan kartu sehat bebas Covid-19 kepada penumpang,” ungkap Yusri.

Kata Yusri, otak kejahatan tersebut adalah DS. Dia adalah mantan relawan validasi KKP Bandara Soetta.

“Rupanya dia belajar dari dalam dan coba bermain. Untuk meyakinkan para petugas validasi dokumen di Bandara Soekarno-Hatta, DS sampai membuat cap palsu, kop surat palsu, sampai mempunyai PDF asli untuk dipalsukan,” ungkapnya.

Belasan pelaku ini bakal dijerat UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, UU Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular, serta Pasal 263 dan Pasal 268 ayat (1) KUH Pidana. (ran/nda)