Penumpang kereta di Stasiun Gubeng. Foto: JawaPos.com

PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi (KAI Daop) 8 Surabaya memberlakukan sistem baru dalam pelayanan jasa kereta api.

Seperti bandara untuk pesawat terbang, kini stasiun menerapkan sistem check in dan boarding pass. Aturan tersebut merupakan inovasi baru untuk meningkatkan pelayanan bagi masyarakat. Sistem check in dan boarding pass tersebut di Surabaya baru diberlakukan di Stasiun Gubeng dan Pasar Turi sejak, Kamis (14/7) sebagai uji coba.

Nanti, seluruh stasiun juga menerapkan sistem tersebut. ’’Selambat-lambatnya hingga September 2016 seluruh stasiun sudah harus menerapkan sistem ini,’’ ujar Manajer Humas PT KAI Daop 8 Surabaya Suprapto dilansir JawaPos.com.

Sistem check in dan boarding pass sebelumnya diberlakukan di wilayah lain. Yaitu, Daop 1 Jakarta, Daop 2 Bandung, Daop 3 Cirebon, Daop 5 Purwokerto, Daop 6 Yogyakarta, dan Daop 7 Madiun.

Setelah Stasiun Gubeng dan Pasar Turi, rencananya Stasiun Sidoarjo menerapkan sistem yang sama akhir Juli mendatang. Begitu pula Malang yang masuk dalam wilayah Daop 8.

Suprapto menjelaskan, penerapan boarding pass sama dengan ketentuan di bandara. Calon penumpang yang telah membeli tiket di channel external harus melakukan check in di mesin cetak mandiri.

’’Tinggal scan barcode atau masukkan nomor kode booking yang tercantum di bukti transaksi, lalu mesin akan mengeluarkan kartu boarding pass,’’ terangnya.

Bagi penumpang yang bingung, ada petugas yang siap membantu untuk mengarahkan proses check in tersebut.

Atau, bisa juga menuju pusat informasi untuk mendapat bantuan sehingga dipastikan tidak ada kesalahan dalam check in hingga boarding pass tercetak.

Bagi penumpang yang membeli tiket pada hari keberangkatan atau go show, mereka akan mendapat dua kartu dari petugas. Yaitu, bukti transaksi dan boarding pass.

Fungsinya, menggantikan tiket yang selama ini menjadi syarat menggunakan jasa kereta api.

Check in, lanjut Suprapto, bisa dilakukan sejak 12 jam sebelum keberangkatan. Boarding pass tidak akan tercetak jika dilakukan lebih dari 12 jam.

’’Tapi, masuk ring II-nya tetap satu jam sebelum keberangkatan,’’ ujarnya.

Dia menjelaskan, sistem boarding pass diterapkan untuk menghindarkan adanya tiket palsu. Selain itu, meminimalkan penumpang yang naik pada waktu yang salah.

Sebab, mereka harus check in sebelum keberangkatan. Menurut Suprapto, pernah terjadi beberapa kasus penumpang yang berangkat tidak pada waktunya.

Jika petugas tidak cermat, hal seperti itu bisa saja lolos. Namun, dengan sistem boarding pass, hal tersebut bisa diantisipasi.

Setelah check in, calon penumpang menuju gate pemeriksaan, kemudian memasuki ruang tunggu. Boarding pass harus selalu dibawa.

Sebab, petugas akan kembali melakukan pemeriksaan di atas kereta. ’’Nanti boarding pass itu juga akan diperiksa petugas,’’ tandasnya. (ant/c5/end/sep/JPG)