Siswa Tak Setuju Sistem Zonasi

0
211 views

SERANG – Pemberlakuan sistem zonasi pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) baik tingkat SMP atau SMA menuai pro kontra di kalangan masyarakat. Termasuk di kalangan siswa.

Namun, berdasarkan survei yang dilakukan Radar Banten sejak 1 hingga 20 Juli 2019 menunjukkan bahwa mayoritas siswa menolak sistem zonasi. Alasan utamanya karena sistem zonasi itu membuat nilai menjadi tidak penting.

Responden yang ditanya sebanyak 1.029 orang dari siswa SMP dan SMA se-Banten untuk menanyakan tentang pendapat mereka seputar zonasi PPDB ini (hasil lengkapnya lihat grafis).

Pada awalnya, target responden hanyalah 1.000 orang. Namun hingga 20 Juli 2019, data yang terekap melalui Google Form sebanyak 1.029 orang.

Sistem survei zonasi ini menggunakan rekapan Google Form. Namun di luar itu, memakai kuisioner yang disebarkan melalui WhatsApp baik secara personal maupun chat grup. Target sasarannya siswa SMP dan SMA di Banten yang terkena dampak zonasi ini. Chat melalui WhatsApp ini dilakukan oleh tim Zetizen Radar Banten yang sehari-hari bergelut dengan tren remaja yang diangkat menjadi bahan liputan di koran Radar Banten, halaman Zetizen.

Selain chat WhatsApp, Radar Banten pun mendatangi langsung beberapa sekolah saat masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) untuk menjaring jawaban kuisioner. Data hasil kuisioner visit sekolah dan WhatsApp ini di-update lagi di Google Form, bersatu dengan data yang sudah diisi langsung para siswa saat mengklik link kuisioner di Google Form.

Dari 1.029 siswa yang ditanya, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang yang paling banyak respondennya. Ini cukup beralasan. Di dua daerah ini, keberadaan sekolah favorit dan unggulan umumnya ada di pusat kota. Belum lagi ketersediaan pilihan sekolah favorit dan unggulan yang tidak banyak dan lokasinya lumayan jauh. Sehingga sekolah idaman siswa berprestasi yang jaraknya jauh, menjadikan kendala tersendiri. Lain halnya dengan Kota Serang, Cilegon, atau Tangerang Raya. Sekolah unggulan baik negeri dan swasta, jumlahnya lebih memadai.

Siswa yang ditanya untuk kuisioner ini yakni kelas VII, VIII, dan IX SMP. Karena mereka yang akan menjalani sistem zonasi tahun yang akan datang. Rasa cemas setidaknya menggerogoti mereka untuk tak bisa mendapatkan sekolah favorit. Sedangkan kelas X atau kelas 1 SMA, menjadi sampel responden yang telah mengalami sistem zonasi pertama kalinya.

Fajar Aditya, siswa SMPN 5 Kota Serang saat ditanyakan mengatakan, tidak setuju dengan sistem zonasi. “Nilai menjadi tidak penting untuk diterima di sekolah negeri apabila rumah dekat dengan sekolah sehingga anak jadi malas belajar karena udah pasti masuk sekolah itu,” tukasnya. Berdasarkan responsden itu, siswa yang tidak setuju dengan sistem zonasi ada 64,7 persen.

Sementara Riska Nurrahmi, siswi SMPN 7 Cilegon mengungkapkan setuju sistem zonasi jika tujuannya bisa menyadarkan masyarakat kalau enggak ada perbedaan antara sekolah pusat dan pinggiran. “Sebenarnya menurut saya sistem zonasi menguntungkan bagi yang rumahnya dekat kayak saya. Kemendikbud tahun ini peraturannya bagus, kayak tidak membanding-bandingkan kepintaran, kekayaan tapi justru mereka peduli terhadap rumahnya deket dengan sekolah,” jelasnya.

Menurutnya, sebelumnya sistem zonasi diterapkan, banyak orang tidak berduit terkalahkan dengan orang yang berduit ketika mendaftarkan anaknya di sekolah favorit. “Kan sekarang banyak tuh para orangtua enggak setuju sama sistem zonasi dengan alasan anak saya pinter, enggak keterima di SMA favorit karena rumahnya jauh. Alasan lain, anak saya nemnya besar enggak keterima sedangkan rumahnya yang dekat langsung keterima,” ujarnya. (zee-nna/air/ags)