SERANG – Situs kepurbakalaan Istana Kaibon, di Lingkungan Keroya, Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, kembali tergenang banjir, Rabu (11/2/2015). Situs bersejarah di Banten ini menjadi langganan banjir lantaran saluran air yang berada di bagian belakang area situs lebih rendah dari air sungai yang meluap akibat curah hujan yang deras terjadi
mulai kemarin dan pagi tadi.

Sebelumnya, situs yang masuk dalam cagar budaya yang dilindungi ini pernah diterjang banjir cukup parah pada tahun 2012 lalu. Air sungai meluap dan air masuk ke area situs hingga menrendam pondasi hingga tembok bangunan. “Biasannya lebih parah akibat sungai meluap dan air masuk ke dalam bangunan,” terang Mulangkaran, petugas keamanan Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang, kepada radarbanten.com, ditemui di sekitar situs Kaibon, Rabu (11/2/2015).

Mulangkaran menceritakan, pada September 2012 lalu dilakukan perbaikan tanggul yang berada di belakang area Kaibon. Namun demikian tanggul itu tak berpengaruh banyak karena air hujan tetap tergenang pada area bagian dalam bangunan.

“Kalau dulu air sungai masuk ke area dalam. Ini air hujan aja,” kata dia sambil menunjukkan genangan air yang merendam pondasi.

Ia khawatir, jika kondisi ini terus berlangsung hingga berhari-hari, bangunan bersejarah itu akan rusak. “Ya, riskan bangunan ini kan dari bata terakota. Itu rapuh kalau kerendam setengah bulan saja bisa terancam keselamatannya,” paparnya.

Dia berharap ada solusi untuk kondisi ini. Saran dia untuk mengatasi genangan air hujan pada bagian dalam adalah dengan membuat pipa bawah tanah yang disalurkan ke Sungai Cibanten yang jaraknya sekira 150 meter dari lokasi. “Itu pun harus dibuat sistem buka tutup. Lokasi pembuatannya juga harus tepat. Cari titik yang aman untuk membuat galian, supaya tidak mengenai struktur bangunan. Jangan sampai pipa dibuka sementara kondisi sungai sedang naik. Bisa-bisa malah air sungai masuk lagi ke dalam bangunan,” katanya.

Sementara untuk peninggian area dalam bangunan dirasa tidak mungkin dilakukan. “Karena dulu sengaja kita tampakkan bangunannya, pondasinya supaya terlihat bangunannya. Kalau diurug peninggian malah tidak terlihat pondasi bangunannya. Jadi kecil kemungkinan kalau diurug,” jelasnya.

Pantauan di lokasi, dinding dan pondasi terandam air hujan. Ketinggian air di area bagian dalam mencapai 60 senti meter. Kondisi batu bata merah yang sudah tua, sangat mengkhawatirkan akan rusak oleh genangan air. (Wahyudin)