SMKN 1 Lebakgedong Diusulkan Direlokasi

0
1209

RANGKASBITUNG – Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Banten Wilayah Lebak mengusulkan agar gedung SMKN 1 Lebakgedong, direlokasi.

Sekolah yang dihuni kurang lebih 138 siswa itu, kini kondisinya rawan longsor akibat adanya pergerakan tanah. Sehingga, jika dibiarkan sangat membahayakan keselamatan para siswa dan guru.

Kepala KCD Dikbud Banten Wilayah Lebak A Sirojudin Alfarisy menyatakan, bencana banjir dan longsor awal tahun 2020 lalu telah berdampak terhadap konstruksi gedung SMKN 1 Lebakgedong yang berada di Kampung Cinyiru, Desa Banjarsari.

Dinding bangunan sekolah tersebut retak-retak dan lantai keramik di beberapa ruangan sudah rusak. Sehingga, bangunan itu terpaksa diusulkan kepada Pemprov Banten untuk direlokasi ke lokasi yang lebih aman.

“Saya sudah cek ke lapangan. Kondisinya memang rawan longsor karena adanya pergerakan tanah. Karena itu, kita usulkan untuk direlokasi,” tandas Sirojudin kepada Radar Banten, kemarin.

Menurutnya, wilayah Cinyiru merupakan daerah rawan longsor. Terbukti, Jembatan Ciberang, rumah penduduk, dan fasilitas keagamaan di daerah itu kini kondisinya sangat memprihatikan akibat bencana longsor itu.

“Kami berharap, bisa secepatnya usulan tersebut direspons. Kepala sekolah, guru, dan komite sekolah telah menyampaikan aspirasi itu kepada kami,” katanya.

Selain SMKN 1 Lebakgedong, usulan relokasi bangunan juga terjadi pada bangunan SMAN 3 Cibeber. Oleh karena, beberapa ruangan sekolah tersebut, kini sudah rusak akibat longsor yang terus menerus terjadi pada saat hujan deras beberapa waktu lalu.

“Ada dua sekolah yang menjadi perhatian saya untuk direlokasi. Pertama di Lebakgedong dan Cibeber, keduanya rawan longsor karena pergerakan tanah. Kalau dibiarkan, saya yakin akan merusak semua konstruksi bangunan dan membahayakan para siswa,” ungkapnya.

Sementara, Kepala SMKN 1 Lebakgedong Sarjoko membenarkan, sekolah yang dipimpinnya rawan longsor. Penyebabnya, karena secara geografis, lokasi sekolah terletak berada di tepi tebing dan perbukitan.

Ditambah, wilayah Cinyiru merupakan zona merah bencana longsor dan pergerakan tanah. “Dinding bangunan sudah retak-retak. Bahkan, lantai keramik sudah rusak dan sampai sekarang belum ditangani,” katanya.

Sarjoko menyebutkan,  di SMKN 1 Lebakgedong hanya ada lima rombongan belajar (rombel) dengan jumlah siswa kurang lebih 138 orang. Kelas sepuluh sebanyak satu rombel, kelas sebelas dua rombel, dan kelas dua belas sebanyak dua rombel.

“Jurusannya pun cuma satu, yakni akuntansi. Karena itu, pada tahun ajaran baru nanti, saya akan menambah jurusan mesin sepeda motor dan tata boga,” katanya. (tur/zis)