Soal Kematian Iman, Pra Rekonstruksi untuk Penetapan Tersangka Digelar

Iman Tarjuman Tewas
Anggota Polres Serang (kemeja putih) mengulang adegan penangkapan terhadap Muhammad Iman Tarjuman, Senin (13/6). (Foto: Istimewa)

SERANG – Penyidik Subdit II Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Banten menggelar pra rekonstruksi dugaan penganiyaan yang menyebabkan kematian Muhammad Iman Tarjuman (49). Tahapan penyidikan itu dilaksanakan di lokasi penangkapan korban, di sebuah kontrakan di Lingkungan Ranca Sawah, Kelurahan Panggungjati, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Senin (13/6).

“Betul, tadi (kemarin-red), pra rekontruksi. Sudah dua kali. Biar semuanya jernih karena ada keterangan berbeda-beda dari saksi dan pelapor,” jelas Kasubdit II Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Yul Hendri.

Dari pra rekonstruksi itu, Yul menyatakan, memperjelas kejanggalan keterangan para saksi. “Hasil pra rekonstruksi ini sebagai bahan evaluasi. Akan kami lakukan gelar perkara penetapan tersangka. Minggu ini,” tegasnya.

Seperti diketahui, Iman Tarjuman tewas sesaat setelah proses penangkapan oleh anggota Satreskrim Polres Serang pada Selasa (19/4). Kematian tersangka penipuan dan penggelapan itu diduga akibat kekerasan saat penangkapan.

Belakangan diketahui bahwa ada seorang oknum anggota Polsek Karawaci, Kota Serang, berinisial IA yang dilibatkan dalam penangkapan Iman Tarjuman. IA lah yang diduga memukul korban. IA merupakan keluarga Iin, warga Lippo Karawaci, Kota Tangerang, yang melaporkan Iman Tarjuman atas tuduhan penggelapan dan penipuan uang sebesar Rp160 juta untuk perekrutan calon pegawai negeri sipil (CPNS). Iman Tarjuman ditetapkan sebagai tersangka Pasal 372 dan 378 KUH Pidana oleh penyidik Polres Serang.

Kematian Iman Tarjuman kemudian dilaporkan oleh istrinya, Siti Masitoh, ke Polda Banten pada Rabu (20/4). Hasil autopsi oleh tim forensik Rumah Sakit Drajat Prawiranegara yang disebutkan bahwa penyebab kematian Iman Tarjuman akibat serangan jantung tidak menghentikan penyidikan. Terlebih, ada keterangan beberapa saksi yang berbeda soal oknum pemukul korban saat ditangkap.

Kakak kandung korban, Aan Asphianto, berharap penyidikan kasus ini segera rampung. “Kami berharap kepada Direktur Kriminal Umum Polda Banten Bapak Yus Fadillah, mohon jangan berlarut-larut menetapkan tersangkanya,” ujar Aan usai pra rekonstruksi.

Aan mengaku keberatan dengan pra rekonstruksi. “Yang ada itu rekonstruksi, itupun sudah diwakili melalui keterangan saksi-saksi. Tinggal nanti dikonfrontir, enggak usah diulang-ulang,” tukasnya.

Aan mengaku khawatir ketika pra rekonstruksi berulang, terlebih menghadirkan terduga di lokasi kejadian. “Ini seperti tidak ada kepastian. Kalau begini, ada kesempatan untuk direkayasa, karena keterangan berubah-ubah terus,” tegas Aan.

Padahal, menurutnya, duduk perkara yang menimpa adik kandungnya itu sudah jelas. Yakni, dengan kedatangan pihak keluarga IA untuk menawarkan sejumlah uang kepada keluarga Iman Tarjuman sebagai bentuk upaya suap untuk menutupi kasus tersebut.

“Sudah datang meminta maaf kepada keluarga saya sambil menawarkan sejumlah uang. Keluarga saya menolak,” tandas Aan. (Merwanda/Radar Banten)