Sopir Pikap Maut jadi Tersangka

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol Harry Kurniawan (kedua dari kiri) menunjukkan barang bukti dalam kasus kecelakaan maut di Green Lake, Rabu (28/11).

TANGERANG – Polres Metro Tangerang Kota menetapkan pengemudi pikap, Rizki Fahmi Azim (20), sebagai tersangka kasus kecelakaan di jembatan layang Green Lake City, Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Kecelakaan tersebut mengakibatkan tiga santri meninggal dan 20 orang luka-luka.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol Harry Kurniawan mengatakan, telah menetapkan satu tersangka atas kecelakaan maut yang menimpa puluhan santri Miftahul Huda, Semanan, Jakarta Barat, seusai menghadiri acara Maulid Nabi Saw di  Kecamatan Kerangtengah, Kota Tangerang.

“Tersangka tidak memiliki SIM A dan KTP, hal tersebut melanggar Undang-Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan ancaman hukuman enam tahun penjara,” katanya kepada wartawan di Mapolres Metro Tangerang Kota, Rabu (28/11).

Harry mengungkapkan, penyidik terus melakukan pemeriksaan intensif terhadap tersangka yang baru saja mendapat perawatan dari rumah sakit. Kata dia, pemeriksaan dilakukan untuk melengkapi berkas penyidikan dan mempertimbangkan masalah penahanan.

“Terkait masalah penahanan, nanti kami diberikan 1×24 jam untuk melakukan pemeriksaan apakah tersangka wajib ditahan atau ada pertimbangan lain. Yang jelas sore hari ini (kemarin-red) kami melakukan pemeriksaan intensif kepada tersangka,” ungkapnya.

Harry menjelaskan, pikap dengan warna dominan merah itu mengalami kelebihan beban angkutan. Pikap bernopol B-9029-RV itu seharusnya mengangkut beban maksimal 700 kilogram, namun saat peristiwa itu terjadi beban muatan lebih dari satu ton. “Tapi pada saat dikendarai tersangka yang juga sebagai korban ada sekira 23 orang. Kalau dijumlahkan, per orang itu sekitar 50 kilogram, jumlahnya 1 ton 150 kilogram,” jelasnya.

Terlebih beban muatan tersebut bukan barang selayaknya fungsi pikap. Sehingga, kelebihan beban angkutan mengakibatkan rem kendaraan tidak efektif. “Kondisi lintasan jalan layang sedikit berbelok dan menurun, ini mengakibatkan kecelakaan maut karena mobil terguling hingga para santri yang ada di bak terbuka terpental,” pungkasnya.

Sementara itu, Tim Penguji Kir Dishub Jakarta Barat Andri S mengungkapkan, kelaikan kendaraan pikap berwarna merah jenis Kijang Super keluaran 1992 tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan bahwa sistem kemudi, penerus daya dan sistem pengereman dalam keadaan baik.

“Ada beberapa kabel rem baik, reservoir tank buat minyak rem itu kosong jadi masih ada sisa sedikit diakibatkan selangnya pecah dan patah. Itu karena kendaraan tersebut membawa muatan overload,” ungkapnya.

Andri menambahkan, pikap yang mengangkut santri Miftahul Huda itu dipastikan belum mengikuti uji berkala selama empat periode. Ia secara langsung menyatakan uji kir terakhir pikap itu pada 29 Mei 2016 yang berarti sudah 2 tahun atau 4 periode tidak melalukan uji. “Tapi kenyataannya di sini ada buku uji, hal ini kita serahkan kembali ke proses hukum yang berlaku,” ujarnya.

Saat rilis, Rizki terlihat murung dan menyesal atas kecelakaan maut yang terjadi. Ia mengungkapkan permohonan maaf. “Kepada seluruh masyarakat Indonesia saya minta maaf, Khususnya keluarga Miftahul Huda karena saya tidak bisa menjaga adik-adik saya,” ungkapnya.

Rizki merupakan salah satu santri senior di Pondok Pesantren Mifathul Huda pimpinan Ustadz Noval. Ia menjadi sopir saat kecelakaan terjadi setelah menghadiri peringatan Maulid Nabi Saw di Karangtengah, Minggu (25/11). Mobil yang ia kendarai membawa 22 santri dan terguling yang mengakibatkan tiga santri meninggal. (Alwan/RBG)