Soraya Casandra, Lulusan Queensland Australia yang Banting Stir Jadi Petani

0
182
Aktivitas di Kebun Kumara, kawasan Situ Gintung, Ciputat.

Kebun Kumara memang tak sehebat Dunia Fantasi atau Trans Studio. Kebun Kumara sebuah kebun kecil yang mampu mengedukasi pertanian kepada banyak orang. Dibangun dari nol oleh Soraya Cassandra bersama suami dan adiknya.

Kumara diambil dari Bahasa Sansekerta, yang artinya generasi yang akan datang. Sandra berharap adanya kebun ini akan ada banyak generasi muda mengerti tentang pentingnya tumbuhan bagi kehidupan manusia.

Kebun yang terletak di kawasan Situ Gintung, Ciputat ini membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Selalu ada jalan ketika upaya dan kemauan disatukan. Begitu Sandra memiliki prinsip dalam membangun Kebun Kumara.

Sandra dan suaminya bukan lulusan pertanian. Menempuh pendidikan sarjana di jurusan Psikologi Universitas Indonesia dan The University of Queensland Australia. Namun kecintaannya pada alam dan suasana hijau mampu membuatnya bertekad dan hampir meninggalkan semua ilmu yang sudah dia pelajari semasa kuliah.

”Modalnya kemauan. Siapapun bisa asal mau, saya bukan lulusan pertanian, bahkan pengalaman saya dalam bertani bisa dibilang nol, suami saya juga demikan. Adik saya dokter, pokoknya memang enggak ada bekal membuat kebun kecil di sini,” kata Sandra saat ditemui di kebunnya.

Namun karena kemauan yang besar akhirnya dibangunlah kebun seluas 1,5 hektare ini. Awalnya Sandra resah terhadap dunia pertanian di Indonesia. Minimnya petani dan sempitnya lahan pertanian membuat dirinya kian resah. Manalagi permasalahan sampah yang menurutnya tak kunjung usai.

”Saya bingung, kalau nanti petani sudah enggak mau bertani, mau darimana kita makan? Kemudian permasalahan sampah yang setiap harinya membuat sesak napas. Permasalahan-permasalahan itu yang membuat saya berinisiatif, apalagi yang harus saya lakukan sehingga bermanfaat bagi masyarakat dan Indonesia?” kata mantan guru muda di Indonesia Mengajar ini.

Akhirnya bersama sang suami yang sama-sama memiliki hobi travelling Sandra memutuskan membuka kebun kecil yang bisa diakses oleh seluruh masyarakat untuk belajar. Dan juga menyalurkan inspirasinya tentang kebun ramah lingkungan.

Sandra benci sampah plastik, karena itu dibuatnya sampah menjadi barang-barang berguna seperti kursi, meja dan hiasan rumah. Ia juga benci pecahan kaca, sehingga dibuatnya semen organik dari sampah botol kaca. Dia melakukan segalanya untuk kebun kecil itu. Termasuk meninggalkan karirnya di Perusahaan Shell Upstream Indonesia dan kesempatan berkarir di Brisbane, Australia.

Menurutnya, keberhasilan dia bekerja bukan setinggi apa jabatan yang dia peroleh. Tapi sebanyak apa manfaat yang diberikan kepada masyarakat. ”Karena itu saya membuat kebun ini. Dengan modal sendiri, dengan kemampuan sendiri dan belajar secara otodidak, meninggalkan karier yang banyak perusahaan tawarkan” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 31 Juli 1988 ini.

Banyak sekali hambatan yang dia lalui saat membangun kebun ini. Salah satunya ocehan orang-orang pada saat dirinya harus memungut sampah plastik yang berserakan di sekitar tempat wisata itu. Tapi tekadnya kuat, meskipun sempat tersinggung, menyerah bukan pilihannya.

”Awalnya kesal, soalnya suka dibilang cantik-cantik kok mulung. Ucapan itu sudah masuk ke kuping kiri keluar dari kuping kanan, begitu terus. Sampai akhirnya saya buktikan saya mampu gitu menciptakan kebun ini,” ujar Alumnus SMA Al-Izhar Pondok Labu itu.
Sandra mengaku meskipun menemukan hambatan, dia menikmati proses yang terjadi. ”Saya enggak punya pengetahuan mengenai bercocok tanam dan bertani, proses itu yang mengajarkan saya, sehingga akhirnya seperti ini,” kata mantan None Kepulauan Seribu 2010 ini.

Saat ini, Sandra mengaku ada banyak fasilitas yang diberikan Kebun Kumara untuk banyak orang belajar mengenai pertanian dan proses daur ulang sampah. ”Kita punya Rumah Kompos, nanti juga kita akan buka kebun khusus sayuran dan hutan mini. Aku bertekad kalau rumah kumara ini memang harus besar. Untuk generasi yang akan datang nantinya,” ujar wakil Indonesia di ajang World Schools Debating Championship di Canada.

Tekad itu tak hanya isapan jempol, sampai saat ini dirinya berkomitmen mencurahkan hidupnya untuk Kebun Kumara. Termasuk ketika dirinya harus melepaskan karir gemilangnya di berbagai bidang bisnis. (Annisa Fitrah Laela/RBG)