Suami Fokus Kejar Wisuda, Silvi Menderita

RINTIHAN tangis wanita di tengah malam memang suka mengundang pertanyaan, ini kuntilanak atau manusia? Tapi, setelah ditelusuri warga di salah satu kampung di Kabupaten Serang, itu rupanya suara Silvi (24) nama samaran, mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Banten yang sedang bimbang menentukan pilihan.

“Bingung, Kang. Kalau enggak nikah tapi sayanya udah terlanjur sayang, kan enggak mungkin pacaran, dosa,” katanya kepada Radar Banten.

Diakuinya, bukan suatu hal mudah menjalani rumah tangga sambil kuliah. Terlebih sang suami, sebut saja Mudi (24), juga masih berjuang menempuh pendidikan di tingkat semester yang sama. Apa mau dikata, sibuk mengurusi rumah tangga, terkadang kuliahnya terbengkalai.

Terlebih belum ada penghasilan untuk membiayai hidup bersama, terpaksa, Mudi dan Silvi masih meminta uang kepada orangtua. Namun, bagai nyala lilin yang semakin lama akan padam, sikap kedua orangtua pun demikian. Di awal saja bilang sanggup membiayai, tiga bulan setelahnya malah tak dihiraukan lagi.

Silvi termasuk mahasiswi berprestasi. Terlahir dari keluarga sederhana, ia tumbuh menjadi wanita mandiri yang berjuang guna memiliki kehidupan lebih baik. Bahkan, ia sempat berjualan produk kecantikan secara online untuk menambah uang jajan.

Dianugerahi paras nan cantik, tak membuat Silvi lupa diri. Sikapnya yang baik dan suka menolong orang lain, membuatnya memiliki banyak teman. Tak heran, ketika berlangsung pernikahan, banyak tamu undangan yang datang. Anak kedua dari lima bersaudara itu sosok wanita sempurna.

Tak jauh berbeda dengan Silvi, Mudi pun sebenarnya lelaki baik. Banyak teman Silvi mengatakan kalau hubungan mereka sangat cocok, dan inilah yang membuktikan kalau Tuhan itu Maha Adil, wanita baik pasangannya dengan lelaki baik juga.

Tapi seperti diceritakan Silvi, ya mungkin lantaran Mudi anak lelaki satu-satunya, ia sempat mendapat penolakan keras dari keluarga ketika memutuskan menikah di usia muda. Parahnya, sang ibu pun sebenarnya sudah menasihati Silvi ketika main ke rumah sang kekasih. Aih-aih.

“Ya kita sih dinasihati gitu, Kang. Kuliah dulu beresin, kalau sudah selesai, baru deh nikah. Ya itu mah biasalah, namanya juga orangtua,” kata Silvi.

Berparas tampan dan berpenampilan menawan, Mudi banyak digilai kaum hawa. Apalagi kalau sudah aktif berkegiatan di organisasi, uh, pesonanya luar biasa. Sampai-sampai membuat Silvi jatuh cinta. Berkenalan di kampus tercinta, keduanya saling memiliki rasa satu sama lain.

Hingga di semester V, mereka pun memutuskan melangkah ke jenjang pernikahan. Mengikat janji sehidup semati, Mudi dan Silvi resmi menjadi sepasang suami istri. Lantaran masih ingin meneruskan kuliah, keduanya tinggal di kontrakan sederhana.

Di awal pernikahan, Mudi menjadi sosok suami yang penuh perhatian. Ya meski terkadang masih suka kekanak-kanakan, ia mencoba mengubah sikap saat bersama teman-teman. Ini sih katanya komitmen bersama, maklumlah, di kampus kan banyak wanita yang jauh lebih menggoda. Eaaa.

Hal serupa dialami Silvi, ia yang sebelumnya sering kelayaban bersama teman-teman, semenjak menikah menjadi lebih banyak diam. Menjaga perasaan sang suami, Silvi tak pernah lagi berkumpul dengan teman-teman. Seiring berjalannya waktu, kabar membahagiakan itu datang, Silvi mengandung anak pertama.

Namun, siapa sangka, di tengah kebahagiaan itu ternyata tantangan semakin besar. Jadwal perkuliahan yang semakin padat, membuat Silvi kewalahan. Apalagi, saat menginjak semester tujuh, semua mahasiswa diwajibkan mengikuti kegiatan pengabdian di masyarakat.

Kondisi perut yang semakin membesar, membuat Silvi harus menunda kegiatan pengabdian di tahun depan. Parahnya, seolah lebih mementingkan kuliah daripada sang istri yang pasti butuh ditemani, Mudi memilih melakukan pengabdian dan menitipkan Silvi ke orangtua. Astaga, egois banget sih tuh Kang Mudi, mau bikinnya doang, pas hamil malah ditinggalin.

“Ya saya juga awalnya ngerasa enggak ikhlas, tapi dianya yang katanya sih ditekan sama ibunya. Jadi ya sudah deh,” curhat Silvi.

Hingga lahirnya sang buah hati, Mudi dan Silvi bahagia. Hubungan keduanya semakin mesra. Dengan kehadiran anaknya, Silvi semakin sibuk mengurusi si bayi yang perlu sentuhan penuh. Sedangkan Mudi mulai sibuk mengerjakan skripsi. Sejak saat itu, mereka memutuskan untuk tidak tinggal di kontrakan lagi.

Yang membuat Silvi geram, bukannya hadir di samping istri yang mengurusi sang buah hati, dengan alasan fokus mengerjakan skripsi, sang suami malah tinggal di rumah orangtua. Seakan tak ada tanggung jawab terhadap rumah tangga, Mudi mengelak ketika istrinya meminta ditemani. Aih-aih, ini sih namanya suami tak tahu diri. Skripsi sih skripsi, tapi kan anak istri jauh lebih berarti.

“Sudah pas mengandung dia enggak ada, sekarang pas ngurus bayi juga dia malah mau pergi lagi. Sakit hati saya, Kang,” kata Silvi emosi.

Melihat sang anak tak berdaya, naluri sang ibu muncul membela Silvi. Diantar keluarga dan saudara, sang ibu datang menemui Mudi. Meski awalnya berlangsung tenang, namun pertemuan malam itu berubah menjadi penuh ketegangan. Bukannya keluar menemui sang ibu mertua, Mudi malah mengurung diri di kamar.

“Dug, Dug, Dug,” suara pintu dipukul keras.

“Heh, keluar kamu Mudi, enak-enakan tinggal di rumah, enggak tahu apa anak saya capek-capek ngurus anak. Dasar suami enggak tanggung jawab,” begitu omelan sang ibu ketika menerabas masuk ke depan pintu kamar Mudi.

Tak terima atas kelancangan keluarga Silvi, ibunya Mudi menyeret paksa ibu Silvi. Keributan pun tak dapat dihindari. Kedua keluarga itu saling mencaci-maki. Seolah tak dapat lagi menemukan solusi, malam itu menjadi penuh dendam. Beruntung masih bisa dipisahkan warga.

Parahnya, sejak kejadian itu, bagai hilang ditelan bumi, Mudi tak pernah datang menemui Silvi. Hingga dua bulan kemudian, terdengarlah kabar kalau Mudi sudah wisuda. Hubungan rumah tangga yang tak jelas arahnya, akhirnya berakhir mengecewakan, Mudi memutuskan perceraian. Astaga.

Sabar ya Teh Silvi. Semoga diberi ketabahan dan ditemukan jodohnya lagi. Nikah muda itu baik, tapi alangkah lebih baik jika menyelesaikan terlebih dahulu apa yang harus diselesaikan. Jangan hanya karena alasan asmara atau hasrat menyatukan cinta, masa depan jadi taruhannya. (Daru-Zetizen/RBG)