Apalah daya bagi Cici (38), nama samaran, yang hidup serba kekurangan dengan segala tekanan yang datang baik dari keluarga maupun tetangga. Bukan hanya karena masalah ekonomi belaka, tapi juga akibat ulah suami tercinta, sebut saja Didi (40). Banyak diberi kesempatan oleh mertua, entah karena sial atau bukan rezeki, semua usahanya tak ada yang menemui hasil.

“Duh, Kang. Dia itu dulu sudah sering dimodali sama bapak saya. Jual kebun, jual sawah, dikasih uang tunai, semuanya enggak ada yang beres,” curhat Cici kepada Radar Banten.

Hebatnya, meski sering dimarahi, bahkan dibentak sang istri, Didi tak pernah balas memarahi apalagi sampai tega menyelingkuhi. Seolah pasrah pada apa yang terjadi, ia mampu menahan diri untuk mengerti kemauan Cici. Karena sikapnya itulah, rumah tangga pun tetap bertahan meski badai menerjang. Hidup kekurangan tak membuat mereka renggang. Widih, kok bisa sih?

“Gini ya, Kang. Kalau ribut-ribut mah kita juga sering, ya namanya rumah tangga mah ibaratnya kalau enggak ribut enggak seru. Tapi, semarah-marahnya saya atau suami, jangan sampai ngomong kata cerai. Apalagi sudah ada anak,” tutur Cici. Widih, bener juga ya, yang begini nih yang harus dipelajari!

Seperti diceritakan Cici, kisah cintanya bersama Didi dimulai sejak masa muda, mereka diam-diam saling memendam rasa. Terhalang rasa malu lantaran kedua orangtua saling mengenal, terkadang baik Cici atau pun Didi terpaksa memendam perih ketika salah satu di antara mereka memiliki kekasih. Hingga suatu hari, ketika usia tak lagi bisa disebut remaja, yang namanya masyarakat kampung, kedua orangtua menginginkan mereka segera menikah.

Lantaran masih belum menemukan pasangan alias jomblo, berawal dari comblang-comblangan biasa, mungkin karena terbawa perasaan, mereka pun jadian.  Apa mau dikata, pucuk dicinta ulam pun tiba. Orangtua dan saudara pun merestui hubungan mereka. Mengikat janji sehidup semati, Cici dan Didi resmi menjadi sepasang suami istri.

     Dengan pesta pernikahan yang digelar meriah, mereka tampak bahagia. Baik Cici maupun Didi tak henti-henti melempar senyum kepada setiap tamu undangan. Alunan musik dangdut pun menambah semarak hari bersejarah bagi keduanya. Orang-orang pun ikut merayakan sambil menikmati merdunya suara penyanyi dangdut.

Di awal pernikahan, keduanya sama-sama saling menjaga perasaaan. Didi memboyong sang istri untuk tinggal di rumah bersama keluarga. Didi terlahir dari keluarga sederhana, ayah pekerja serabutan dan ibu yang sibuk mengurus rumah. Meski begitu, dibanding kakak-kakaknya, Didi yang merupakan anak ketiga dari empat bersaudara itu, salah satu anak yang paling disayang orangtua karena sikap lembut dan penyabarnya. Kalau ada masalah apa pun, hanya ia yang bisa menyelesaikan dengan kepala dingin.

Lain Didi lain pula dengan Cici, katanya, wanita yang memiliki postur tubuh tinggi dengan kulit putih itu berasal dari keluarga berada. Tapi anehnya, ketika ditemui wartawan di kediaman Cici, ia berpenampilan biasa. Bahkan menurut keterangan yang dikatakan Cici, ayahnya hanya seorang petani dan rumahnya pun tak semewah pada umumnya.

“Ya, bapak memang enggak mau menunjukkan kekayaannya, Kang. Kita sekeluarga sepakat buat simpan uang tuh pakai cara investasi tanah. Jadi kan kalau suatu waktu butuh, ya tinggal jual dan harganya bisa naik,” terang Cici.

Tak heran, ketika perayaan pernikahan pun, keluarga sang wanita begitu sangat loyal dalam menyukseskan pesta bersejarah bagi Cici tersebut. Apalagi dengan status sebagai anak wanita satu-satunya, pastilah apa yang diminta akan terlaksana. Hingga setahun usia pernikahan, Cici dan Didi dikaruniai anak pertama, membuat hubungan semakin mesra.

Lantaran ingin hidup mandiri, Cici meminta tinggal terpisah dari keluarga. Didi yang hanya bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta pun tak bisa mengelak, dengan uang seadanya, ia memboyong sang istri dan anak tercinta pindah ke kontrakan sederhana. Parahnya, keadaan semakin tak nyaman ketika sang suami tak lagi bekerja karena dipecat tanpa alasan.

Sejak saat itulah peran keluarga datang memberi ketenangan. Sang ayah yang tak tega melihat kondisi rumah tangga Cici memberi modal kepada Didi untu membuka usaha. Karena sejak kecil senang menernak ayam, Didi pun membuka usaha peternakan ayam. Membuat kandang dan membeli pakan ayam, berjuta-juta uang dikeluarkan.

Sampai dua tahun kemudian, bangunan kandang ayam tak lagi bisa menghasilkan uang. Lantaran tak memahami pengelolaan peternakan, usahanya itu berantakan. Sedangkan saat itu, mereka sudah dikaruniai dua anak, membuat kebutuhan semakin meningkat. Hebatnya, meski pun gagal, saat itu Cici masih bisa bersikap lembut dan menerima keadaan.

“Ya waktu awal-awal sih masih bisa mengertilah, namanya juga orang usaha. Keluarga juga santai-santai saja,” terangnya.

Dengan keadaan yang penuh tekanan, akhirnya sang ayah pun rela membuatkan rumah untuk Cici dan suami. Mereka menempati rumah baru yang lebih nyaman. Bukan hanya itu, lagi-lagi seolah ingin hidup sang anak penuh kenikmatan, keluarga memberi kesempatan pada Didi untuk mencari nafkah. Namun, kali ini ia diberi amanah meneruskan usaha keluarga berjuaalan beras.

Tetapi apesnya, lagi-lagi, mungkin karena memang belum rezeki, toko beras yang awalnya berjalan baik dan lancar, sejak ditangani oleh Didi, perlahan menunjukkan penurunan. Hingga hampir setahun kemudian, usahanya gulung tikar alias bangkrut. Sejak saat itu, Cici mulai tak bisa lagi bersabar atas keadaan yang terjadi. Ia tak segan memarahi suami.

“Habisnya capek, Kang. Dia itu enggak mau belajar dari kesalahan. Sebelumnya gagal, besoknya gagal lagi. Kayak enggak ada peningkatan gitu. Kan saya juga yang enggak enak sama keluarga,” curhat Cici.

Ibarat hidup segan mati tak mau, di tahun kelima usia rumah tangga, Cici dan Didi seolah tak lagi menemukan chemistry. Sikap sang istri yang kerap emosi membuat Didi merasa tak dihargai. Meski begitu, beruntungnya ia termasuk lelaki yang terlatih bersabar. Sikapnya diam dan tenang meski keadaan penuh tekanan. Ya ampun, ngeri amat ya!

“Ya kadang saya juga heran sendiri, saya marahi berkali-kali, dia cuma diam dan enggak membalas. Sikapnya adem saja gitu, Kang,” tutur Cici.

Sampai suatu hari, ketika Cici bersilaturahmi ke rumah salah seorang guru bersama teman-teman dan juga saudara. Lantaran semua yang berkunjung merupakan wanita yang sudah berumah tangga, sang guru memberi wejangan nasihat tentang istri salihah. Entah ini yang disebut kebetulan atau memang hidayah dari Tuhan. Sejak saat itu, Cici sadar akan apa yang telah dilakukannya selama ini merupakan suatu yang salah.

Dan sampai saat ini, meski masih sering memarahi, tapi Cici tak lupa meminta maaf pada suami. Itulah yang membuat hubungan mereka tetap harmonis meski tekanan datang bertubi-tubi.

Subhanallah, semoga langgeng selamanya ya Teh Cici dan Kang Didi. Amin. (daru-zetizen/zee/ira/RBG)