Ilustrasi.

Lima tahun mencari nafkah di negeri orang, Culay (36) dan Amoy (35), keduanya nama samaran, harus menerima kenyataan bahwa uang tabungan terkuras untuk bayar utang. Anehnya, mereka berdua merasa tidak pernah meminjam uang. Usut punya usut, sang kakak yang mengurus anak mereka selama menjadi TKI mencatat semua pengeluaran sang anak selama ini.

Padahal, setiap bulan Culay rutin mengirimi uang kepada kakaknya untuk biaya hidup anaknya. Namun apalah daya, namanya juga manusia, dengan alasan masih kekurangan, ia menuliskan semua pengeluaran sang anak mulai dari yang besar sampai hal terkecil sekali pun.

Waduh, pelit amat sih tuh orang.

“Saya kirimin setiap bulan supaya enggak ngeberatin hidup dia, eh ternyata masih kurang juga. Yang bikin saya kesal, bahkan minum air putih pun itu dihitung, belum biaya menginap semalam di rumahnya,” kata Culay kepada Radar Banten.

Kaget akan daftar uang yang harus dibayar, Culay sempat berontak dan tak mau membayar. Parahnya, seolah tak lagi menganggap saudara, sang kakak mengancam akan membawa kasus itu ke ranah hukum. Apa mau dikata, tak ingin berusan dengan kepolisian, Culay pun menuruti.

Apesnya, keputusan menuruti kemauan sang kakak tak direstui istrinya. Amoy tak rela kalau harus membayar uang kepada sang kakak ipar yang jumlahnya sangat besar. Ketika ditanya, mereka tak memberi tahu berapa jumlahnya, tapi kalau ditaksir, katanya sih bisa sampai membeli rumah.

Oalah, besar banget berarti.

“Masalah ini bikin saya stres, Kang. Pulang ke kampung bukannya senang hidup sejahtera, ini malah tambah menderita. Kalau kayak begini, mending enggak usah kerja di luar negeri,” keluh Culay. Sabar, Kang. Istigfar!

“Kalau saya enggak diajari ilmu agama sejak kecil, mungkin sudah main bacok-bacokan kali sama saudara sendiri. Sudah pusing mikirin utang, istri juga ngamuk-ngamuk. Wah, ruwet deh pokoknya,” tukasnya emosi.

Ibarat nasi yang sudah menjadi bubur, pernyataan Culay yang menyanggupi pembayaran kepada sang kakak ipar pun dilaksanakan. Akibatnya, terjadilah keributan antara Culay dan Amoy. Meski ia hanya membayar tak lebih dari setengahnya, Amoy tetap tak rela. Ia pergi dari rumah.

Waduh, kok jadi merambat begitu ya masalahnya.

Sambil mengemasi barang-barang, Amoy menggerutu memarahi sang suami. Meski sempat ditahan-tahan oleh Culay agar tidak meninggalkan rumah, sang istri tetap tak peduli, amarahnya tak tertahankan lagi. Seolah tak bisa menemukan solusi, Culay pun berpasrah diri. Melepas Amoy dan sang buah hati meninggalkannya sendiri.

“Waktu itu saya mikirnya sudah enggak mungkin bisa bertahan lagi nih rumah tangga. Saya pasrah, mau cerai, cerai dah sekalian. Sudah tahu keadaan lagi rumit, dia malah pergi,” ungkap Culay.

Seperti diceritakan Culay, sejak kecil kakaknya memang termasuk orang yang perhitungan. Namun, ia tak pernah menyangka kalau sampai seperti itu perlakuan terhadap adiknya sendiri. Bukannya mendukung Culay yang sedang merintis hidup sejahtera, ini malah semakin membuat sengsara.

Ia pun sebenarnya memaklumi apa yang dirasakan Amoy. Sebagai istri yang sudah memiliki anak, Amoy tentu memikirkan keberlangsungan hidup sang anak serta rumah tangga. Bekerja keras dengan berani menanggung risiko besar, ketika mendapat hasil malah harus diserahkan kepada orang lain. Pasti siapa pun tak akan terima.

Selain cantik, Amoy juga termasuk wanita baik. Terlahir dari keluarga sederhana, tidak miskin dan juga tidak kaya, Amoy sejak kecil hidup sederhana. Setelah ayahnya meninggal, kehidupan wanita asli Serang itu semakin membuatnya harus bekerja keras. Sempat menjadi karyawan di toko pakaian, Amoy memutuskan berhenti bekerja setelah dipinang seorang lelaki. Ialah Culay.

Dipertemukan berkat peran seorang teman, Amoy dan Culay memiliki rasa yang sama, keduanya saling jatuh cinta pada pandang pertama. Tiga bulan menjalani fase pendekatan, Culay pun mengutarakan perasaan. Seolah menanti hal itu terjadi sejak lama, Amoy langsung menerima. Mereka pun jadian.

Hebatnya, seolah tak sabar ingin segera menghalalkan, Culay langsung melamar. Meski awalnya Amoy menganggap itu terlalu cepat, tetapi akhirnya ia menerima juga. Mereka pun menuju jenjang pernikahan. Dengan menggelar pesta sederhana, hanya mengundang teman dan sanak saudara, Culay dan Amoy mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, Culay menjadi suami yang perhatian. Meski keadaan tak memungkinkan, tapi ia selalu berusaha menuruti semua kemauan sang istri tercinta. Amoy pun terbuai asmara. Sempat menggarap sawah warisan orangtua, Culay menghidupi rumah tangga dengan susah payah.

Dua tahun usia pernikahan, Culay dan Amoy dikaruniai anak pertama, membuat hubungan mereka semakin mesra. Hingga sang anak beranjak balita, masalah rumah tangga semakin pelik menerpa. Kebutuhan ekonomi yang semakin meningkat membuat Culay terpaksa menggadaikan sawahnya. Ia pun tak punya pekerjaan lagi.

Sejak saat itulah, muncul keinginan bekerja di luar negeri. Meski sempat tidak direstui keluarga dan saudara, tetapi Culay tetap menguatkan hati demi anak istri. Hingga mendekati tanggal keberangkatan, tak disangka, Amoy ingin mengikuti langkah sang suami. Mereka pun pergi dengan menitipkan sang buah hati kepada kakak Culay.

Lima tahun bekerja di luar negeri, sempat terdengar kabar Amoy mendapat masalah dengan majikannya. Entah karena tak tahan bekerja atau rindu anak tercinta, Amoy dan Culay memutuskan pulang ke Indonesia. Apesnya, rencana ingin membangun rumah dan hidup sejahtera sirna lantaran sang kakak ipar menagih uang pengeluaran biaya hidup anaknya.

Tak rela membayar uang tagihan yang cukup besar nilainya, Amoy mengamuk memarahi Culay. Rumah tangga mereka hancur berantakan. Saat keadaan memanas antara Culay dan sang kakak, Amoy malah pergi bersama sang buah hati.

Hebatnya, tiga bulan berpisah, tak membuat sikap Amoy berubah kepada suaminya. Terbukti, datang dengan membawa sisa uang tabungan yang sudah terkuras untuk bayar utang, Culay masih diterima sang istri. Setelah berdiskusi terkait masa depan rumah tangga, Amoy dan Culay kembali membangun semuanya dari awal. Mereka memutuskan menjual rumah lama dan pindah dari kampungnya.

Semoga Kang Culay dan Teh Amoy tetap tegar menghadapi cobaan, sehat selalu, dan tetap harmonis. Amin. (daru-zetizen/zee/ira/RBG)

BAGIKAN