Ilustrasi

Kalau dilihat dari fisik, Minah (32) bukan nama sebenarnya memang biasa saja. Tidak cantik tapi tidak bisa dikatakan jelek juga. Namun, di balik itu semua, Minah wanita baik yang peduli terhadap sesama. Jiwa sosialnya tinggi. Jika ada teman atau siapa pun sedang terkena musibah, ia tak segan membantu. Terlahir dari keluarga sederhana, Minah tumbuh menjadi wanita mandiri.

Namun sayangnya, Minah memang memiliki kekurangan yakni tidak terlalu nafsu makan. Tubuhnya kurus tinggi. Kalau membeli baju pun pasti memilih ukuran terkecil. Hal ini berbeda dengan sang suami, sebut saja Tono (33). Lelaki asli warga Tangerang itu bertubuh ideal, tinggi, dan kekar. Namun, kalau untuk ketampanan, ia juga tidak dianugerahi hal itu. Wajahnya biasa saja.

Dipertemukan kedua orangtua, mereka saling jatuh cinta. Maka tak butuh waktu lama bagi Tono dan Minah menuju pelaminan. Tiga bulan setelah perkenalan, mereka melangsungkan pesta pernikahan. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Ciyeee.

Seperti pernikahan pada umumnya, di awal-awal, Tono menjadi suami baik yang perhatian pada istri. Bekerja sebagai buruh pabrik di salah satu perusahaan elektronik ternama di Kota Serang, ia memiliki penghasilan lumayan. Tak jarang, setiap tanggal muda, Tono membelikan sesuatu untuk istri tercinta.

Kebahagiaan mereka bertambah dengan kehadiran anak pertama, membuat hubungan keduanya semakin mesra. Tinggal satu rumah bersama keluarga Minah, Tono diterima sebagai bagian dari keluarga. Dengan keharmonisan hidup sederhana, mereka menjalani hari-hari bersama.

Namun sayangnya, baru dua tahun menikmati masa indah berumah tangga, Minah merasa ada yang tak beres dengan sang suami. Bersikap cuek dan tak harmonis lagi, ia mengira Tono bosan dan tak bergairah. Mungkin memang lagi kecapean saja itu mah, Teh.

“Atuh kalau kecapean mah enggak akan cuekin istri juga kali, Kang. Memang dia tuh sejak lahir anak pertama jadi begitu. Beda sama waktu pertama-tama, uh pokoknya mesra banget,” terangnya. Wih, masa sih Teh?

“Iya, Kang. Beneran ini mah,” jelas Minah.

Dan peristiwa itu pun terjadi. Entah karena niat ingin mendua atau menjalin silaturahmi biasa, semakin hari Tono semakin akrab dengan saudara wanita anak kakak Minah. Sepulang kerja, bukannya langsung menemui Minah, ia malah ikut mengobrol dengan sang wanita yang juga ada ibu-ibu tetangga sambil ketawa-ketiwi. Aih-aih.

Parahnya, seolah tidak menghargai keberadaan Minah, Tono santai saja keluar rumah jalan bersama sang wanita. Alasannya hendak membeli mi instan, kenyataannya malah minum es kelapa berdua. Sontak Minah yang diam-diam mengintip dari persimpangan jalan, dibuat gelagapan. Sayangnya, ia tak berani mengungkapkan. Ya ampun, parah amat sih Teh!

“Saya enggak pernah nyangka dia setega itu, Kang. Apalagi selingkuhnya sama saudara. Jadi serbasalah, mau marah enggak enak, didiemin juga makan hati,” curhat Minah kepada Radar Banten.

Anehnya, orang-orang biasa saja melihat Tono jalan berdua dengan sang wanita, mereka mengira wanita itu adiknya, jadilah Tono bebas bepergian. Meski hanya keliling kompleks rumah, tapi bagi Minah nyeseknya luar biasa. Ya ampun, sabar ya Teh!

“Sabar mah sudah sabar banget saya, Kang. Sampai akhirnya waktu itu saya sudah enggak tahan, saya ngamuk ke tetangga,” curhat Minah. Waduh, kok ngamuknya ke tetangga segala, Teh?

“Ya habis mereka juga waktu itu bikin emosi, ya sudah deh sekalian!” tuturnya. Wih, kayaknya seru nih, coba dong ceritain, Teh!

Minah pun menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. Dipandanginya suasana sekitar rumah, seolah takut ada yang mendengar, Minah memulai ceritanya sambil berbisik. Mengecilkan suara dengan tetap mempertahankan intonasi pelan namun bikin penasaran.

“Saya enggak bisa terima pas dia berani datang ke rumah cuma untuk minta tolong dibuatkan tugas kuliah,” katanya. Oh, dia mahasiswi Teh? Weleh-weleh.

“Iya, kesalnya tuh dia dan keluarganya kayak enggak mikir gitu kalau Kang Tono sudah punya istri, sikap mereka biasa saja,” curhatnya.

Tak lama setelah azan isa berkumandang, kebetulan sang suami sedang mandi, terdengarlah suara pintu diketuk berbarengan dengan ucapan salam. Dari ruang tamu, Minah hapal suara sang wanita. Belum juga membuka pintu, emosinya langsung menggebu-gebu.

Bagai orang kesurupan, Minah membuka pintu dan langsung membentak sang wanita. Dengan suara keras ia menanyakan apa yang diinginkan dari suaminya. Apalah daya, di tengah caci-makian Minah, mungkin karena kaget dan tak menyangka, sang wanita langsung menitikkan air mata.

Tangisnya mengeras hingga akhirnya ia membanting buku dan pulpen sambil berlari mengadu pada ibunya. Tono yang terusik dengan keributan yang terjadi, lekas menegur sang istri. Bukannya dijawab, Minah malah balik memarahi. Tono hanya bengong dan akhirnya ikut terpancing emosi.

“Saya bilang saja, tadi ada selingkuhanmu datang. Malem-malem mau gangguin rumah tangga orang, dasar cewek murahan,” tukas Minah penuh emosi.

Tono langsung naik pitam, ia tak menyangka sang istri bisa mengatakan hal itu. Lekas ia balas membentak sambil menjelaskan kalau sebenarnya hubungan dengan wanita itu hanya sebatas teman. Saling membantu sesama saudara. Tono pun mengungkit-ungkit pesan Minah sebelum pernikahan. Wih pesan apa itu Teh?

“Ya memang sih saya pernah pesan, kalau sama saudara harus akur, jangan ribut dan harus saling bisa menghargai,” akunya.

Belum usai keributan mereka, datanglah ibu dari sang wanita yang tak lain kakak kandung Minah sendiri. Keributan pun terjadi, sang ibu tak terima putri kesayangannya dituduh merusak rumah tangga. Bukannya mengalah, Minah justru meninggi, amarahnya semakin menjadi-jadi.

Malam itu keributan mereka berhasil memancing perhatian orang, sampai akhirnya RT setempat datang melerai, keributan pun usai. Terjadilah musyawarah, Minah mengaku cemburu, sang wanita dan ibunya pun meminta maaf. Dan sang suami, ngambek dan pergi selama beberapa hari. Waduh, terus gimana tuh Teh?

“Syukurnya seminggu kemudian dia pulang, saya minta maaf, kita jadi baikan,” katanya.

Alhamdulillah. Semoga enggak terjaid lagi ya Teh. (daru-zetizen/zee/ags/RBG)