Suami Penakut, Rumah Tangga Jadi Ribut

Kisah rumah tangga Surti (37) cukup menggelikan. Gara-gara mempunyai suami, sebut saja Tejo (38), sifatnya penakut, tak jarang rumah tangga mereka jadi sering ribut.

Surti merupakan warga Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang yang memiliki usaha rumah makan di kawasan wisata Anyar. Saat ditemui Radar Banten, Surti hanya mengenakan daster bermotif bunga-bunga dipadukan dengan kerudung warna merah muda tampak sibuk melayani pembeli. Meski usianya sudah tidak muda lagi, tetapi aura kecantikan Surti masih terasa. Usai mengenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tujuan, Surti langsung menyambut Radar Banten dan berkenan untuk menceritakan kisah rumah tangganya yang unik.

Kejadiannya sekira lima tahun silam. Surti mengaku kecewa dengan suaminya yang ternyata memiliki sifat penakut. Kondisi itu kerap membuat Surti dalam menjalani rumah tangga bersama Tejo tidak tenang. Gara-gara itu pula tak jarang di antara keduanya sering terjadi keributan karena Surti tidak merasa terlindungi oleh suami. Maklum, Surti kan cantik, pastinya banyak lelaki hidung belang yang suka menggodanya meskipun sudah berstatus punya suami.

Pertemuan dengan Tejo bermula saat kedua orangtua mereka bertemu di acara pernikahan kerabat. Kedua orangtuanya diam-diam menjodohkan mereka. Sepekan kemudian kedua pihak keluarga mengadakan pertemuan lanjutan di rumah Surti. Saat itu pula Surti dan Tejo berkenalan. Awalnya Surti sama sekali tidak tertarik dengan sosok Tejo. Wajar, saat mudanya Tejo orangnya culun, bukan tipe lelaki idaman yang didambakan Surti.

“Saya sempat nolak, pokoknya enggak mau nikah sama orang yang bukan pilihan aku. Lagian Mas Tejo kan gitu culun, kalau sama yang gagah ganteng sih mau,” ujarnya. Yang penting setia, daripada ganteng tapi buaya Mbak.

Namun, saat itu Surti tak bisa berkutik ketika sang ayah memaksanya untuk menikah dengan Tejo. Sebulan kemudian terjadilah proses lamaran. Surti pasrah dan mencoba menerima Tejo apa adanya. Seiring berjalannya waktu dan melakukan pengenalan lebih jauh di antara keduanya, Surti mulai merasa nyaman dengan sisi keromantisan Tejo. Sampai akhirnya hati Surti luluh lantak dibuatnya. “Dia bawain saya bunga, orangnya juga perhatian. Pokoknya dia bikin saya nyamanlah,” kenang Surti mesem-mesem. Mendingan bunga bank kali Mbak.

Sebulan kemudian, Surti terjerat cinta Tejo dan menerima untuk dipinang menuju pelaminan. Mengawali rumah tangga, mereka tinggal di rumah keluarga Tejo. Awalnya rumah tangga mereka diselimuti kebahagiaan. Tejo yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan jasa mampu memenuhi nafkah Surti. Setahun usia pernikahan keduanya dianugerahi anak pertama yang membuat rumah tangga mereka semakin mesra. Hingga suatu hari, Surti ingin mandiri tinggal jauh dari orangtua dan mencari rumah kontrakan yang akhirnya dikabulkan Tejo. “Enggak bebas gitu kalau tinggal sama mertua mah,” akunya. Asal jangan terjun bebas aja ya Mbak.

Sampai akhirnya mereka memutuskan mengontrak rumah sederhana di Cilegon. Kebetulan Tejo bekerja di perusahaan jasa tak jauh dari kediamannya. Mereka mengontrak rumah sederhana di pinggiran Kota Baja. Dari situ pula terjadinya keretakan rumah tangga mereka hingga nyaris cerai. Berharap bisa hidup tenteram dengan lingkungan yang aman dan nyaman, Surti justru terjebak dalam situasi. Surti sering digoda tetangganya yang cukup dihormati dan punya pengaruh besar di daerah itu, sebut saja Juhdi. Bagaiman tidak, Surti memang suka menjemur pakaian hanya mengenakan handuk dan kaus oblong dengan rambut terurai. Tentu saja, tubuhnya yang molek kerap menjadi santapan mata lelaki buaya. “Aku sering disuit-suit tuh (siul-red) ama si Juhdi, matanya suka genit, kadang nekat suka pegang tangan aku,” kesalnya. Bukan genit kali Mbak matanya, bisa aja kan cacingan.

Sayangnya, Surti tak punya pelabuhan untuk bersandar atas ketidaknyamanannya. Tejo sang suami orangnya penakut. Bukannya membela Surti yang suka digoda lelaki, Tejo malah diam. Beruntung Surti orangnya pemberani dan selalu mengambil tindakan atas ketidaknyamanannya. “Saya risi dan enggak nyaman. Akhirnya saya lapor RT, tapi malah saya yang disalahin. Maklum orang terpandang,” keluhnya. Sabar ya Mbak.

Sampai akhirnya Surti yang merasa tidak dilindungi suami melampiaskan kekesalannya kepada suami yang dianggapnya tak punya nyali. Tak terima dengan teguran Surti, Tejo emosi hingga terjadi keributan antara keduanya hampir setiap hari. Kondisi itu membuat rumah tangga mereka semakin tidak harmonis. “Habis saya ngadu sama Mas Tejo, eh malah diam. Makanya saya suka sindir-sindir suami penakut, eh malah emosi. Makanya jadi sering ribut,” kesalnya. Diam itu emas Mbak, Emas Tejo.            

Sejak kejadian itu, kehidupan rumah tangga Surti dan Tejo tidak pernah harmonis seperti dulu. Keesokan harinya tanpa sepengetahuan suami, Surti kabur dari rumah dan pulang ke rumah orangtua. Tejo menyusul Surti malam harinya. Setelah keduanya mendapat nasihat orangtua, Tejo dan Surti akhirnya memilih pindah dan dibelikan rumah baru oleh keluarga Surti di wilayah Anyar. “Dari situ kita kembali normal dan memulai hidup baru membuka usaha rumah makan,” tandasnya. Saya doakan semoga langgeng ya Mbak. Amin. (Haidaroh/RBG)