Suami Tak Perlu Tampan Asal Bikin Bahagia

0
78

 Tak perlu tampan, tak perlu kaya, asal bisa bikin bahagia, Wiwin (62), nama samaran, mengaku sudah merasa sempurna hidup di dunia dengan sang suami tercinta, sebut saja Cuprit (65). Hidup sederhana dengan tiga anak yang mulai tumbuh dewasa, mereka pasangan suami istri yang selalu terlihat ceria.

    Menjadi objek di setiap obrolan bersama tetangga dan masyarakat, Wiwin tak pernah terbawa arus gosip tak sedap, apalagi sampai ribut-ribut hanya karena masalah sepele. Menganggap enteng semua persoalan dengan menghadapi penuh ketenangan, baik Wiwin maupun Cuprit sering menjadi tempat curhat orang-orang. Widih, kayak ahli psikologi saja, Teh!

    “Ya saya juga kadang bingung, kebanyakan orang tuh bawaannya gelisah terus kalau ada masalah. Padahal kan bisa dibawa santai dan enggak harus ribet,” ungkapnya.

    Namun, meski selalu menunjukkan sikap santai, setelah ditelusuri, Wiwin pun mengaku kalau dahulu ia juga termasuk orang yang gampang waswas alias gampang panik. Katanya, ia bahkan melebihi paniknya orang-orang di sekitar ketika ada masalah. Tapi, semua sifatnya itu hilang setelah bertemu dengan Cuprit. Wih, masa sih Teh?

    “Ya begitulah, Kang. Meski waktu awal-awal sempat kesal juga, saya pusing mikir ini-itu, dia asyik saja senyum-senyum. Malah saya dibilang orang formal lah, tegang lah, segala macam,” curhatnya.

    Seperti diceritakan Wiwin, Cuprit yang dikenalnya tak lama sebelum putus dengan sang mantan, memang terkenal ramah dan humoris. Memiliki banyak teman mulai dari yang seusia sampai jauh di atasnya, Cuprit kerap menjadi pusat perhatian ketika sedang berkumpul bersama masyarakat kampung.

    Terlahir dari keluarga sederhana, ayah pekerja dan ibu penjahit rumahan, Cuprit memiliki masa muda berwarna. Ya, meski dari segi ekonomi biasa saja, tapi anehnya, kalau untuk urusan cinta, ia dikelilingi banyak wanita. Tak heran, ketika sudah berumah tangga, Cuprit kerap dapat titipan salam rindu dari mantannya yang kebanyakan menjanda. Oalah, wah bahaya itu Teh!

    “Ah kalau untuk urusan wanita yang titip salam, saya sih enggak masalah, saya yakin dia setia. Itu mah sudah kita bicarakan dan saling mengerti,” kata Wiwin.

    Wiwin bukan perempuan biasa. Meski terlahir dari keluarga sederhana, tapi karena status sang ayah sebagai tokoh masyarakat, ditambah sosok Wiwin yang manis dan menarik, membuat orang-orang menaruh hormat padanya. Tidak sembarang melayangkan rayuan gombal, para lelaki di kampung mengagumi secara diam-diam.

    Memiliki tubuh ideal dengan kulit nan putih tak membuat Wiwin sombong kepada para pemuda kampung. Kerap menebar senyum dengan sapaan hangat, Wiwin menjadi wanita incaran banyak pria. Katanya, dulu sampai ada yang kirim-kirim surat ke rumah. Widih, romantis amat ya.

    Sampai usia beranjak dewasa, Wiwin sempat mengalami peristiwa menyedihkan saat menuju pelaminan. Ketika kedua keluarga sudah saling sepakat menuju tanggal pernikahan, kejadian yang tak diinginkan semua calon pengantin terjadi padanya. Sang calon suami membatalkan pernikahan secara sepihak. Parahnya, ia melakukan hal itu karena pengaruh sang mantan tercinta. Astaga, kok bisa sih, Teh?

    “Ya waktu itu sebenarnya saya sudah curiga dari awal, dia kayak enggak semangat begitu. Dan ternyata benar, pas dekat hari H dan undangan sudah disebar, main ngebatalin gitu saja,” curhat Wiwin mengenang masa lalu.

    Namun, kesedihan itu tak berlangsung lama. Sebulan setelah peristiwa batal menikah, Cuprit datang menawarkan kebahagiaan. Ditemani ayah serta paman yang ternyata kenal dekat dengan ayah Wiwin, Cuprit percaya diri melamar sang wanita idaman.

    Meski awalnya sempat ragu, tetapi Wiwin tak bisa berbuat banyak lantaran sang ayah sudah mengeluarkan lampu hijau. Maka, seolah tak menunggu waktu lama, pesta pernikahan pun terlaksana. Mengikat janji sehidup semati, Wiwin dan Cuprit resmi menjadi sepasang suami istri.

    Di awal pernikahan, tidak seperti pasangan baru pada umumnya, Cuprit tampak tak begitu canggung kepada keluarga sang istri. Santai dan banyak bicara, Cuprit pandai mencuri hati. Berbaur dengan ayah mertua sampai ke pembantu rumah tangga, Cuprit menunjukkan sosok hangat dan ramah.

    Tapi yang namanya rumah tangga, pasti tak lepas dari urusan ekonomi. Nah, di sinilah Cuprit tak berdaya untuk memberi nafkah lebih bagi istri. Bekerja sebagai pegawai di salah satu perusahaan swasta di Kota Serang, Cuprit berjuang meraih kebahagiaan istri.

    Tapi, yang namanya wanita. Terlebih tipe seperti Wiwin yang biasa hidup sederhana dan tentu ingin meningkatkan kualitas hidup bersama suami, di awal-awal mengaku menaruh harapan besar pada Cuprit. Namun apalah daya, bagai membeli kucing dalam karung, Wiwin justru sempat kecewa.

    “Ya kalau boleh jujur sih dulu saya memang sempat punya pikiran begitu. Soalnya waktu itu masih kepikiran mantan yang gagal menikah itu. Dia punya banyak uang, tapi Kang Cuprit, ya begitulah,” akunya.

    Hingga peristiwa menegangkan itu terjadi. Di malam dengan deras hujan mengguyur Kota Serang, Wiwin dikagetkan dengan raut wajah sang ibu yang penuh cemas sambil berbicara di ponsel. Kekhawatiran itu jadi kenyataan, dikabarkan kalau sang ayah sedang di kantor polisi lantaran baru saja menabrak ibu-ibu.

    Sontak seluruh keluarga kaget. Mereka menjemput. Parahnya, meski kondisinya tak apa-apa dan hanya lecet sedikit serta basah diguyur hujan, tuntutan keluarga korban jauh di atas kewajaran. Mereka menuntut ganti rugi puluhan juta. Padahal saat itu ekonomi keluarga sedang minim.

    Di tengah situasi tegang itu, Wiwin dan keluarga mendengar suara orang tertawa di dalam ruangan. Dan salah satu di antara mereka, yakni Cuprit. Hebatnya, tak ada angin tak ada badai, keluarga korban mencabut tuntutan dan berakhir dengan jalan damai. Rupa-rupanya, sang ibu merupakan pemilik warung langganan Cuprit. Tak hanya itu, ia juga tampak akrab dengan anggota polisi bahkan sampai asyik mengobrol sambil tertawa.

    Sejak saat itu Wiwin mulai tertarik dengan sosok Cuprit yang asyik. Perlahan ia mengikuti alur sang suami yang sederhana dan apa adanya. Hingga dua tahun berjalan, mereka dikaruniai anak pertama. Membuat hubungan semakin mesra. Hebatnya, entah karena takdir atau kebetulan belaka, Wiwin mendapat kabar kalau sang mantan cerai dengan istrinya. Waduh.

    Sejak saat itulah Wiwin sadar kalau kebahagiaan tak selamanya diukur dari harta, tapi juga bisa dari kesederhanaan dan sikap humoris sang suami tercinta. Subhanallah.

    Semoga Teh Wiwin dan Kang Cuprit bahagia selamanya. Amin. (daru-zetizen/zee/ira)