Suami Tua dan Menderita, Tetap Setia

Leha (34), nama samaran, saat ini hanya bisa meratapi penyesalan bisa berumah tangga dengan lelaki yang jauh lebih tua darinya, jaraknya sepuluh tahun, sebut saja Jaka (44). Leha enggak pernah memilih Jaka jadi suaminya, melainkan hasil perjodohan. Gara-gara itu, sekarang Leha berjuang sendirian mencari nafkah dengan menjadi pedagang emperan akibat suaminya didera sakit-sakitan karena faktor usia. Meski begitu, Leha tetap menjaga kesetiaan terhadap suaminya. Subhanallah.

 Leha mengaku kurang menikmati kebahagian selama berumah tangga dengan Jaka. Karena, saat dinikahkan usianya masih sangat belia, baru 14 tahun. Namun, soal urusan produksi anak jangan ditanya, subur. Hasil pernikahan dengan Jaka, Leha dikarunia sampai lima anak. Ow ow ow. “Itu karena dulu suami masih kerja, bertani. Jadi masih ada penghasilan, ngasih nafkah. Makanya, kesedihan saya sedikit terlupakan,” akunya.

Sekarang, Leha merasakan antara menyesal dan pasrah, sering menangis sendirian tengah malam merenungi nasib masa depan anak-anaknya yang masih kecil. Puluhan tahun berumah tangga dengan Jaka, ekonomi mereka tak kunjung berubah. Rumah saja masih menumpang di saudaranya. “Saya pengen marah ke diri sendiri, tapi percuma juga,” keluhnya. Sabar Teh, nanti juga ada waktunya.

Saat ditemui Radar Banten di wilayah Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Serang, penampilannya tidak menunjukkan ada kekurangan pada diri Leha, orangnya terlihat muda dan segar. Kulitnya putih, mulus, penampilannya juga seksi. Kecantikan wajahnya juga cukup memancar. Sekilas tak ada yang menyangka kalau Leha sudah mempunyai lima anak. Lain dengan Jaka, kata Lela, suaminya sudah tua dan tak kuat lagi berjalan jauh. “Keseharian suami lebih banyak dihabiskan di kebun dan tiduran. Tubuhnya juga kurus kering, kepalanya botak, dan sering sakit-sakitan,” bebernya.

Walau begitu, Jaka termasuk sosok suami bertanggung jawab sebelum sakit. Jaka mau kerja bantuin garap kebun orang. Leha mengaku bertemu dengan Jaka di rumahnya. Lela dipanggil kakaknya saat sedang asyik bermain bersama teman-teman seusianya. Leha diminta pulang ke rumah dan berdandan. Siapa sangka, kehadiran Leha sudah ditunggu banyak orang di ruang tamu, yakni Jaka dengan kedua orangtuanya. “Nama orang zaman dulu mah, kalau dijodohin enggak bisa nolak, ya sudah deh diterima,” ujarnya. Berarti suka dong kalau gitu.

Seminggu kemudian, Leha dan Jaka menikah dengan pesta sederhana, hanya mengundang tetangga dan saudara. Meski begitu, keduanya menampakkan rona kebahagiaan. Mengawali rumah tangga, Leha tinggal di rumah Jaka selama setahun. Kemudian, mereka pindah ke rumah keluarga Leha setelah ayahnya meninggal dunia. Selama menjalani status sebagai istri, Leha cukup telaten melayani suami. Meski terkadang kebingungan dengan kemauan Jaka yang sering marah-marah tidak jelas. “Awal-awal saya kayak tersiksa gitu, belum tahu apa-apa,” kesalnya. Masih polos ya Teh. 

Leha mengaku sempat nekat kabur ke Jakarta untuk menghindari amukan suaminya yang sering marah-marah tak keruan. Leha datang ke rumah pamannya dan mengadu atas perlakuan Jaka yang kasar. “Soalnya kalau ngadu ke ibu atau saudara, enggak pernah diladenin,” keluhnya. Sudah tua, kasar pula, nasibmu Leha.

Setelah mendapat nasihat dari pamannya, Leha diantar pulang lagi menemui Jaka. Pamannya sempat menasihati dan memarahi Jaka. Setelah saling memaafkan, Jaka dan Leha kembali menjalani hari-hari bersama. Nasihat pamannya cukup manjur. Terbukti, keduanya menjadi produktif soal urusan anak. “Dia jadi baik dan lembut, jadi sering minta naik ranjang,” bebernya mesem-mesem. Jadi pengen.

Seiring waktu, lahirnya anak pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya sampai lima anak. Jangka kelahiran anak-anak tak terlalu jauh. Setahun setelah melahirkan, Leha sudah mengandung lagi alias tunji (setahun siji). Setelah melahirkan anak kelima, Jaka mulai sakit-sakitan. “Mungkin karena kecapean kali ya, dia sudah enggak kuat kerja keras lagi,” ucap Leha. Sudah tua kali.

Kondisi itu berdampak pada perkonomian rumah tangga Leha semakin sulit. Sedangkan kebutuhan hidup mereka semakin bertambah, anak-anak mulai masuk sekolah, belum makan sehari-hari dan keperluan lain yang membuat Leha pusing tujuh keliling. Akhirnya Leha berinisiatif membuka warung jajanan dengan modal seadanya. “Cuma jualan snack sama kopi, mau jualan gorengan belum punya modal,” keluhnya. Sabar Teh.

Kendati begitu, Leha tak menyerah dengan keadaan. Leha tetap setia terhadap suaminya. Meski ia hanya mendapat uang Rp5.000 sampai Rp20 ribu sehari, bahkan tak dapat sama sekali, Leha tetap menjalankan usahanya, berharap rezeki yang lebih besar datang untuk biaya anaknya sekolah dan makan. “Saya bersyukur sajalah. Yang penting masih bisa bertahan hidup walaupun susah,” ucapnya pasrah. Tenang Teh, nanti juga ada jalan. (mg06/zai/ags)