Sudah Morotin, Ujung-ujungnya Ninggalin

Nahas bener nasib Een (27), nama samaran, uang yang dikumpulkannya untuk menambah biaya pernikahan, dikuras habis oleh lelaki idamannya, sebut saja Jaja (28). Ujungnya Een dikhianati dan ditinggalkan hingga rencana pernikahan pun gagal. Yassalam.

Perjuangan Een demi menjadi pendamping Jaja ternyata sia-sia. Een rela banting tulang dengan menjadi pedagang alat kecantikan dan makanan ringan demi bisa mengumpulkan uang untuk mengurangi beban calon suami dalam biaya pernikahan. Maksudnya Een ingin mengabdi terhadap Jaja yang menjanjikannya bakal menikahinya. Penasaran bagaiman kisahnya? kita simak yuk!

Diceritakan Een, kejadian dikhianati Jaja terjadi sekira lima tahun silam. Hubungannya dengan Jaja berlangsung sekira setahun. Selama menjalin masa pacaran, Een mengaku sering keluar modal banyak untuk Jaja, makan, belanja, dan segala macamlah. Namanya juga kepalang cinta, apa pun yang diminta Jaja pasti Een turuti. “Enggak nyangka dia bisa sejahat itu sama saya dulu,” sesalnya. Lagian cowok parasit diladenin Teh!

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Padarincang, paras Een cukup menawan dan tubuh ideal lengkap dengan pakaian gamis cokelat berbahan katun yang dikenakannya. Awalnya Een sempat menolak diwawancara karena ingin melupakan masa lalunya yang pahit. Sampai akhirnya Een bersedia bercerita panjang lebar soal kegagalan cintanya dulu dan kisah suksesnya bisa melupakan pacar yang nyaris jadi suaminya.

Een dari dulu dikenal cukup royal terhadap pasangan. Padahal, dia terlahir dari keluarga sederhana. Ayahnya hanya buruh pabrik dulu, sekarang malah sudah enggak kerja. Sementara ibunya cuma penjual gorengan. Di tengah hidup berkekurangan, Een bahkan harus membantu orangtuanya membiayai sekolah dua adiknya yang masik sekolah dasar (SD). Atas dasar itu, ia kemudian kerja keras membangun bisnis online untuk bertahan hidup hingga bisa memberi ini-itu buat pasangannya.

Sikap jahat yang dilakukan Jaja dulu sepertinya masih membekas di benak Een. Meski sekarang sudah move on dan sudah menjadi istri orang. Pertemuannya dengan Jaja berlangsung di sebuah pabrik di Cilegon. Een dan Jaja dahulu bekerja sebagai karyawan. Saat itu Een sering diantar Jaja pulang karena belum memiliki kendaraan. “Awalnya baik (merujuk ke Jaja-red), saya sering ditraktir makan dan dibeliin pakaian,” kenangnya. Modus buaya itu Teh.

Een semkin merasa ada kecocokan dengan Jaja karena sama-sama punya pengalaman pahit. Keduanya mengaku sama-sama pernah dikhianati kekasih. Aksi curhat-curhatan itu pun menjadikan keduanya nyaman. “Ya dia orangnya asyik, ngobrolnya juga enggak ngebosenin gitu,” ujarnya. Kena deh perangkap buaya!

Apalagi, Jaja ditunjang wajah yang tampan dengan dagu sedikit brewok menambah kesan maco di mata Een. Style Jaja juga selalu terlihat keren dengan tampilan jeans dan kemeja. “Dia pokoknya kelihatan dewasa banget,” pujinya. Hajar terus Ja!

Lantaran itu, Een tak bisa menolak ajakan Jaja untuk menjalin hubungan. Tiga bulan kemudian, perhatian dan kasih sayang terus ditunjukkan Jaja. Berawal dari status TTM alias teman tapi mesra, mereka akhirnya resmi pacaran. Setahun pacaran. Orangtua Een meminta Jaja menikahi putrinya. Namun, rencana mereka belum bisa diwujudkan dengan alasan biaya. Maklum, keduanya bukan berasal dari keluarga berada. Orangtua Jaja juga hanya buruh tani.

Kondisi semakin memburuk ketika Jaja mulai habis masa kontrak kerja. Een juga akhirnya mengikuti Jaja memilih berhenti kerja dan fokus membangun bisnis online. Masa-masa sulit mereka lalui bersama. Akhirnya mereka sepakat mengumpulkan uang untuk biaya pernikahan. Karena Jaja belum kerja, Een sementara yang mencari uang untuk biaya pernikahan. “Dihina teman sendiri, dibilang miskin, jualan enggak laku, semuanya sudah saya alami,” tukasnya.

Setahun kemudian, Een mampu mengumpulkan uang cukup banyak di tabungannya mencapai Rp10 juta. Ia pun lekas memberi tahu Jaja soal tabungan yang ia miliki. Bukannya membantu Een mencari biaya tambahan buat pernikahan mereka, Jaja malah gelap mata. Jaja jadi malah keenakan mengetahui ada uang tabungan Een dan mulai meminjam uang. Pengakuannya buat modal membuka usaha jualan kaos. Atas dasar cinta, ya tentunya Een kasihlah. “Dia minjemnya dikit-dikit tapi sering. Misalkan minggu ini Rp500 ribu, besok Rp1 juta,” kesalnya. Tanda-tanda nih.

Karena keseringan, Een mulai curiga dan tidak lagi meminjamkan uang kepada Jaja. Sikap Een pun malah membuat Jaja murka. Een tidak terlalu memedulikannya. Een malah memita kepastian kapan Jaja datang ke rumah melamarnya. Bukannya memberikan jawaban, Jaja malah banyak alasan dan terus menunda-nunda. Mendengar pengakuan Jaja membuat Een curiga. Een pun mulai mencari tahu kecurigaannya terhadap Jaja. Sampai akhirnya Een mengetahui kalau Jaja sudah memiliki kekasih lain. Een diam-diam memeriksa ponsel Jaja dan melihat isi daftar panggilan dimana terdapat nama wanita yang sering ia telepon. “Ada nama tulisannya Ay-ku. Pas saya telepon yang angkat cewek dan ngaku pacarnya Jaja. Kan emosi saya,” kesalnya. Tuh kan?

Een pun menyesal karena sudah menyerahkan setengah dari tabungannya untuk Jaja pinjam. Een akhirnya mencoba menagih utang sambil memutuskan hubungan dengan Jaja. Namun, Jaja hanya bisa diam dan tak memberikan kepastian soal pembayaran utang. “Untung uang saya belum habis semua. Jadi bisa buat biaya nikah sama yang lain,” umbarnya. Uang sudah habis setengahnya aja Teteh masih untung ya!

Sebulan pascaperistiwa nahas itu, Een bertemu dengan teman cowok yang sewaktu SMA pernah ia tolak cintanya. Merasa ada kecocokan dan dinilai setia, lelaki itulah menjadi pilihan Een dan kini menjadi suaminya. “Alhamdulillah, sekarang saya sudah punya suami yang baik dan setia,” katanya. Mudah-mudahan enggak salah pilih dan enggak diporotin ya Teh. Amin. (mg06/zai/ags)