Dahulu, ketika Juki nama samaran berusia 39 tahun, ia begitu amat terpukul saat sang istri tercinta, sebut saja Leli meninggal di usia 38 tahun terkena serangan jantung. Kesedihan begitu amat dirasakan olehnya. Cinta yang begitu besar kepada Leli membuat ia kehilangan separuh belahan jiwa.

Namun, siapa sangka bukannya setia dengan tetap menjaga cinta, beberapa tahun lalu, di usianya yang sudah mencapai 60 tahun, Juki malah menikah lagi sampai hampir empat kali.  Aih, ini sih namanya tua-tua keladi, makin tua makin jadi.

“Saya juga bingung. Dia jadi gampang tertarik sama cewek yang lebih muda,” kata istri Juki yang ketiga, sebut saja Minah (31).

Penasaran dengan kisah Juki? Mari kita mulai kisah ini dari istri yang kedua, sebut saja namanya Popi (40), ia adalah janda beranak dua. Semenjak cerai dengan suami, Popi hidup seorang diri dengan berjualan sayuran di pasar. Waktu itu Juki memang sedang terpuruk. Sekira satu bulan semenjak istrinya meninggal, Juki sudah mulai bertingkah seperti biasa.

“Ya, dia mulai bisa ketawa-ketiwi dan mau ngobrol sama orang. Sebelumnya enggak bisa, mukanya muram terus,” kata Minah kepada Radar Banten.

Singkat cerita, Juki bertemu dengan Popi. Pada pandangan pertama, ia langsung bisa merasakan getaran di dada. Sejenak semua kisah pilu masa lalu hilang terbawa angin yang melintas siang itu. Hebatnya, Juki sudah berani main ke rumah, bertemu dengan anak-anak dan sanak keluarga. Seperti tanpa beban, Juki langsung mengajak menuju pelaminan.

Apa mau dikata, Popi yang masih betah hidup sendiri pun kaget dengan pernyataan Juki. Namun, sebagai wanita ia tak bisa berbuat banyak, apalagi ketika saudara dan tetangga terus-menerus menekan agar menerima ajakan Juki. Ya sudah, pernikahan pun terjadi.

Dua tahun membangun rumah tangga, mereka dikaruniai satu anak. Juki menjadi suami yang baik bagi Popi. Ya, maklumlah Juki memang termasuk lelaki penyayang wanita. Pokoknya jika dilihat dari caranya memberi perhatian, Juki memang pandai menciptakan kenyamanan. Tapi, entah karena masalah apa, Minah pun tak terlalu mengetahuinya, Juki menceraikan Popi. Pekerjaannya yang hanya sebagai buruh, terkadang juga menjadi sopir sewaan, membuat ekonomi keluarga morat-marit, akhirnya mereka pun berpisah.

Entah bagaimana kabar Popi saat ini, yang jelas setelah cerai, tentu bebannya semakin bertambah seiring dengan kondisinya sebagai janda beranak tiga. Duh, tega banget tuh Kang Juki. Habis manis sepah dibuang.

Cerita pun berlanjut. Kini giliran Minah, istri ketiga yang juga awalnya seorang janda. Meski punya anak satu, sang anak ikut dengan mantan suaminya yang kini sudah beristri. Soalnya, dulu nikah karena kecelakaan alias hamil duluan. Ujung-ujungnya cerai juga deh. Weleh-weleh.

Katanya, di antara ketiga istri Juki, Minah-lah yang paling muda. Saat itu usianya masih 25 tahun. Tentu bodi dan parasnya juga masih kencang dan menggoda. Itu menurut pengakuan Minah, ya. Lantaran orangtua menanggung malu akibat kisah masa lalu Minah, akhirnya mereka justru menjodohkan anaknya dengan Juki, sang duda tua bangka.

“Sebenarnya waktu itu saya enggak mau, Kang. Meski janda, saya masih ingin hidup senang-senang. Tapi, orangtua maksa menikah dengan Kang Juki. Mending duda kaya, ini biasa saja,” kata Minah.

Akhirnya Minah pun tak bisa membantah. Pasrah dengan keadaan, mereka pun menikah. Meski tetap dengan tingkahnya yang cuek terhadap Juki. Apalah daya seorang istri, toh jika sudah dipinang, apa pun semua tergantung suami. Begitulah akhirnya, setelah dua bulan menjalani hidup bersama, Minah mulai menerima Juki dengan setulus hati.

Di awal pernikahan, mereka hidup bahagia. Seperti yang dijanjikan Juki, ia akan menuruti semua permintaan Minah. Mulai dari membeli make-up, baju baru, jalan-jalan ke mal dan lain-lain, semua dilakukan demi membahagiakan istri tercinta. Anehnya, ada saja uang untuk membiayai itu semua, padahal penghasilan saja pas-pasan. Itulah hebatnya Juki, selalu bisa membuat wanita nyaman saat bersamanya.

Hingga setahun kemudian, Juki mulai menunjukkan sikap aneh. Tidak seperti biasanya, sang suami menjadi pendiam. Lebih tepatnya sih bersikap acuh tak acuh terhadap Minah. Selidik punya selidik, rupanya Juki sedang dekat dengan janda kampung yang baru saja ditinggal mati suami. Alamak, sudah kecantol lagi?

“Padahal baru setahun. Harusnya tuh kita lagi mesra-mesranya, eh kenapa dia malah sibuk ngejar wanita lain, janda lagi!” curhat Minah.

Hingga suatu hari, Minah merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Hampir setiap hari ia merasa mual. Sudah dikerok bahkan sampai diurut, mualnya tak berhenti. Hingga sang ibu membawanya ke klinik. Saat itulah Minah dikabarkan hamil.

Sebagai wanita tentu Minah bahagia. Sebentar lagi ia akan memiliki keturunan dari sang suami. Hingga malam harinya, dengan wajah berbinar penuh kebahagiaan, Minah memberitahu Juki. Apalah daya, bagai tak dihargai, Juki yang seharusnya senang mendengar kabar baik ini, nyatanya hanya bersikap dingin, seolah tidak ada sesuatu yang terjadi.

Minah sedih. Aroma keretakan rumah tangga sudah mulai ia rasakan. Hal itu diperkuat dengan tingkah Juki yang kerap pulang malam. Ketika ditanya, alasannya kerja, padahal main ke rumah janda.

Parahnya, sebulan setelah kelahiran sang anak, Juki tega mengatakan ingin menikah lagi, meminta persetujuan Minah untuk punya istri dua. Bukan kepalang deritanya, tak sanggup menahan emosi, akhirnya Minah minta cerai. Beruntung, setelah dinasihati keluarga serta saudara, Juki membatalkan niatnya. Ia pun meminta maaf pada Minah.

Oalah. Sabar ya Teh Minah! Semoga Kang Juki enggak begitu lagi. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)