Suka Duka Bertugas di Pos Penyekatan Arus Mudik 2021

0
1880

Dicaci Pengendara, Dikomplain Istri

Bagi petugas kepolisian menjalankan tugas selama dua pekan menjaga pos penyekatan arus mudik Lebaran Idul Fitri merupakan kewajiban. Berbagai persoalan pun ditemui di lapangan saat bertugas, mulai dari dicaci pengendara sampai dengan dikomplain istri saat pulang bertugas.

FAUZAN DARDIRI – Serang

Mudik bagi sebagian orang menjadi kewajiban. Tak lain, untuk bertemu orangtua, keluarga serta kerabat di kampung saat Idul Fitri tiba. Pandemi Covid-19 mengubah segalanya. Lebaran tahun 2021, pemerintah mengeluarkan larangan mudik bagi masyarakat yang tinggal di zona merah Covid-19 sejak 6-17 Mei 2021.

Peraturan ini disertai dengan adanya aturan teknis. Di mana pemerintah daerah bekerja sama dengan pihak TNI-Polri mendirikan pos penyekatan di titik-titik yang biasanya digunakan masyarakat melintas. Tujuannya, mengantisipasi adanya pemudik yang melintas dari daerah terlarang.

Bagi petugas yang berjaga di pos penyekatan, menghalau gelombang arus mudik langkah antisipasi menjadi kewajiban. Kondisi ini berlangsung selama dua pekan terakhir. Banyak cerita yang dialami petugas saat menjalankan tugas mengantisipasi wabah Pandemi Covid-19.

Salah satunya dialami oleh Bripka Yoyok Heri Prabowo anggota unit pengaturan, penjagaan, pengawalan dan patroli (Turjawali) Polres Serang Kota. Cerita suka dan duka pun diungkapkannya selama bertugas di Pos Penyekatan Palima Kota Serang. “Persisnya begini dukanya, dicaci pengendara, dikomplain isteri,” ujar pria yang akrab disapa Prabowo saat berbincang dengan Radar Banten, Senin (17/5).

Suasana Lebaran membuat masyarakat merencanakan banyak kegiatan. Seperti mudik Lebaran ke kampung halaman sampai dengan agenda mengisi Lebaran dengan berkujung ke tempat wisata. “Saya bertugas untuk setelah Lebaran H+ di Pos Penyekatan Palima. Ya, cacian pengendara jadi langganan. Tapi namanya tugas harus dilakukan,” terang pria kelahiran Ngawi 1986 itu.

Selain itu, duka lainnya yang ditemui yakni, tidak bisa berkumpul bersama keluarga, tidak bisa bertemu sanak saudara di kampung kelahiran di Ngawi Jawa Timur. “Sudah dua kali Lebaran semenjak pandemi Covid-19 ini tak pulang. Biasanya kumpul semua bareng orangtua,” katanya.

“Tahun ini, bertugas di Pos Penyekatan sama sekali buat ketemu buat istri di rumah saja susah. Hanya ketemu paling dua tiga jam berangkat bertugas lagi,” tambah Prabowo.

Pulang tugas, tak bisa berjumpa dengan istri dan anak. Pada jam kerja dan sehabis bertugas pada waktu istirahat. Di mana, berangkat pukul 06.00 WIB dan pulang sampai pukul 22.00 WIB. “Istri terkadang komplain (ngomel-red). Saya jawab saja dengan santai ini sudah tanggungjawab dan resiko,” terangnya sambil tertawa.

     Saat bertugas, tak jarang para pengendara memberikan cacian. Terlebih, saat Pemprov Banten mengeluarkan penutupan sementara tempat wisata di akhir pekan kemarin. “Kalau cacian banyak. Saya juga maklum. Karena memang kondisinya seperti itu. Jadi saya niatkan menjalankan tugas, agar tidak terbawa emosi,” katanya.

Tak hanya duka, bagi Prabowo, saat menjalankan tugas ada juga sukanya. Berkumpul bersama tim di lapangan untuk memberikan pelayanan bagi masyarakat menjadi cerita tersendiri. “Sukanya kami bisa membantu masyarakat mengurai kemacetan dan bisa berkumpul dengan sesama teman di lapangan,” terangnya.

Terpisah, Wakapolres Serang Kota Kompol Feby Haryanto mengatakan, Polres Serang Kota menerjunkan sebanyak 221 personil yang di tempat di pos-pos penyekatan selama 6-17 Mei 2021. “Hari ini pukul 00.00 WIB tugas untuk penyekatan berakhir. Dilanjutkan dengan monitoring,” ujarnya usai menghadiri rapat koordinasi virtual bersama Presiden Joko Widodo di Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Serang.

Kata dia, polisi bekerjasama dengan instansi lainnya membuat Pos Penyekatan, apabila ada yang mudik, kami bertugas untuk melakukan penyekatan dengan mengarahkan pemudik untuk memutar balik. “Secara umum bisa dikendalikan dengan baik. Sesuai dengan arahan pimpinan. Tugas kepolisian lebih pada penertiban protokol kesehatan,” terangnya. (*)