Ilustrasi.

Ijab kabul bisa disebut sebagai pintu menuju dunia rumah tangga. Dalam akad nikah, ijab kabul merupakan rukun paling menentukan. Ini lantaran ikrar yang diucapkan adalah kunci untuk menjadikan apa yang sebelumnya haram menjadi halal. Ketika haram disebut kumpul kebo, setelah halal disebut kumpul keluarga.

Pada ijab kabul, akad ijab diucapkan oleh wali nikah sementara akad kabul diucapkan oleh calon suami. Saat ijab kabul berlangsung, wali nikah dan calon suami bersalaman dan saling bertatapan. Di situlah kadang kala kemistri antara calon mertua dan menantu terjadi. Banyak kejadian bila para pengantin pria menjadi super gugup hingga ijab kabul pun terkendala.

Bahkan yang terjadi pada Barong (25), nama samaran, sungguh-sungguh sebuah petaka. Ia mengalami kegagalan saat ijab kabul. Gara-gara itu, ia batal mengikat Minah (20), nama samaran, sebagai istrinya. Astaga, kok bisa begitu ya? “Mas Barong gagal ucapkan akad kabul hingga belasan kali. Gara-gara itu kami jadi batal menikah,” jelas Minah.

Kegagalan fatal Barong, adalah tidak mampu menyebutkan nama calon mertua, sebut saja Virho (46). Sebab Barong selalu keseleo lidah setiap kali menyebutkan nama bapaknya. “Kalimat yang seharusnya diucapkan Mas Barong itu, saya nikahkan Minah bin Virho. Tapi saat akad, dia terus saja bilang, saya nikahkan Minah bin Piro. Jadinya selalu salah,” kata Minah.

Sepertinya, ini ada kaitannya dengan lidah orang sunda pedalaman. Segelintir orang sunda memang ada yang kesulitan menyebut V atau F. Lidah mereka terbiasa dengan huruf P. Sehingga kalimat film saja mereka sebut pilm atau fitnah menjadi pitnah.

Karenanya, dilema berkepanjangan menimpa Barong ketika ijab kabul berlangsung. Meskipun sang penghulu telah berkali-kali memberikan waktu istirahat, namun lidah Barong yang kelu tetap tidak bisa menyebut nama camernya dengan benar.

Gara-gara insiden ini, akad nikah Barong dan Minah sempat berjalan kurang lebih dua jam. Sang penghulu cukup sabar mengupayakan pernikahan itu berakhir dengan kemenangan. Sayang hal itu tidak pernah terjadi. Sebab Barong tetap tidak bisa menyebut nama Virho, calon mertuanya itu.

Setelah ditelisik, ternyata ada faktor lain yang menyebabkan Barong tidak mampu menyebut nama camernya dengan baik. Itu adalah rasa takut, mengingat Virho adalah bosnya Barong.

Di sini, Minah berbicara panjang lebar, sebab ada sejarah tentang bagaimana Barong dan Minah bertemu. Ini dimulai dari Virho yang merupakan seorang juragan beras. Ia memiliki beberapa petak sawah di kampung. Penghasilan utama Virho memang dari bercocok tanam padi di sawah.

Nah, salah satu anak buahnya di sawah adalah Barong. Pemuda ini ikut menggarap salah satu sawah milik Virho. “Mas Barong membantu orangtuanya menggarap salah satu sawah milik ayah. Orangtuanya memang sudah bertahun-tahun menggarap sawah ayah,” jelas Minah.

Sejak kecil Minah dan Barong memang sudah saling kenal. Ketika keduanya beranjak remaja, ada benih-benih cinta yang nyangkut di hati mereka. Pasangan ini berpacaran sejak Minah duduk di bangku kelas 3 SMP. Hubungan mereka berlangsung rahasia, istilahnya sih backstreet. “Saya ini sudah pacaran lama, kelas 3 SMP. Tapi backstreet, sebab ayah pasti tidak suka saya pacaran sama anak petani,” aku Minah.

Nah, persoalan muncul ketika Minah lulus SMA. Virho punya rencana menjodohkan Minah dengan pria pilihannya. Tahu akan dijodohkan, Minah buru-buru menolak. Sebab ia sudah empat tahun berpacaran dengan Barong.

Karena situasi itulah, Minah mengakui hubungannya dengan Barong. Bahkan ia melebih-lebihkan seperti apa Minah dan Barong selama berpacaran. “Saya bilang telah diperawanin Mas Barong, biar ayah tidak memisahkan kami. Padahal aslinya enggak. Mana berani Mas Barong kurang ajar sama saya? Ayah saya kan galak,” terang Minah.

Ckckckck, langkah Minah membuka rahasia hubungan dengan Baron sih sudah benar. Namun pada sisi melebih-lebihkannya itulah, Minah berbuat kesalahan. Gara-gara itu, Virho marah bukan kepalang. Ia mendatangi rumah Barong dan mengamuk.

Barong dipukuli habis-habisan, Virho kecewa karena Barong disebut menodai kesucian Minah. Barong sendiri kebingungan mendengar ocehan amarah Virho, sebab selama ini dia telah menjaga Minah dari ujung kuku hingga rambut.

Di ujung amarahnya, Virho meminta Barong untuk menikahi Minah. Nah, inilah yang diharapkan oleh Minah, usai eksekusi terjadilah lamaran pernikahan.

Namun di luar dugaan, jalan cerita sampai muncul kalimat pernikahan ini menimbulkan trauma pada diri Barong. Ia menjadi sangat takut kepada Virho, karena calon mertuanya itu telah membuatnya babak belur.

Gara-gara itulah, Barong tidak mampu memusatkan hati dan pikiran untuk bisa mengucapkan kalimat V. Jangankan bisa fokus menyebut V, melihat calon mertuanya saja hati Barong sudah ketar-ketir.

Insiden lain terjadi ketika akad nikah berlangsung. Ini ketika Virho kehilangan kesabaran terhadap Barong. Calon menantunya ini disentak agar bisa mengucapkan ijab kabur dengan benar. Suaranya keras sampai membuat tamu undangan terkaget-kaget. “Ngomong yang benar!! Masa cuma ngomong V aja enggak becus,” gertak Virho seperti yang digambarkan Minah.

Menerima gertakan keras tidak membuat Barong termotivasi. Sebaliknya, dia makin ketar-ketir. Bahkan Barong kabur dari lokasi akad nikah. Ia lari tunggang-langgang menuju pematang sawah. “Mas Barong ketakutan setelah disentak ayah. Dia loncat lalu lari ke sawah, dia dikejar ayahnya tapi tidak mau kembali ke pelaminan,” akunya.

Gara-gara itu, akad nikah antara Barong dan Minah batal. Untuk memenangkan sang ayah, Minah akhirnya mengaku jika dia tidak pernah dijamah Barong. Namun tetap saja Minah tidak ingin dijodohkan. Meskipun Minah berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan Barong. “Sekarang saya melanjutkan pendidikan, saya sedang kuliah. Ini juga sekalian cari jodoh yang lebih bagus, yang kira-kira disetujui ayah,” kata Minah.

Ooo, anak juragan sawah ini kemudian kuliah sambil mencari jodoh. Ayooo, siapa yang mau jadi mantunya Virho? Siap-siap disentak ya saat ijab kabul, hihihi. (quy/zee)