Syafrudin Minta Puskesmas Intervensi Balita Gizi Buruk

0
919 views
Walikota Serang Syafrudin berbincang bersama salah satu pasien, saat meninjau pelayanan kesehatan di Puskesmas, Kilasah, Kecamatan Kasemen, Selasa (11/2).

SERANG – Walikota Serang Syafrudin meminta Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pro aktif mengintervensi semua balita penderita gizi buruk di tahun 2020. Tujuannya, agar tak ditemukan lagi kasus gizi buruk di wilayah Kota Serang. Demikian diungkapkan Syafrudin saat mengunjungi Puskesmas Kilasah, Kecamatan Kasemen, Selasa (11/2).

“Mudah-mudahan 2020 sudah selesai (gizi buruk), dan kami juga akan mengunjungi puskesmas lainnya,” ujarnya kepada wartawan.

Kata Syafrudin, kedatangannya ke Puskesmas Kilasah untuk memastikan pelayanan kesehatan warganya. Baik untuk pelayanan umum maupun gizi buruk yang terus mendapatkan perhatian khusus. “Saya berkewajiban memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan dengan lancar,” terangnya.

“Alhamdulillah pelayanan tersebut berjalan semua, baik persalinan 24 jam, dokter gigi maupun rawat inap,” sambung Syafrudin.

Kepala Puskesmas Kilasah, Kecamatan Kasemen, Teti Mulyati mengatakan, jumlah kasus gizi buruk di wilayahnya mencapai sembilan kasus. Ia mengaku, telah melakukan intervensi terhadap tiga kasus dan tinggal menyisakan enam kasus lainnya. “Sisanya itu ada enam, tapi empat di antaranya karena ada penyakit penyerta yang menyebabkan gizi buruk. Sementara dua lainnya itu murni karena gizi buruk,” terangnya.

Kendati demikian, pihaknya telah melakukan beberapa langkah intervensi seperti, pemberian makanan tambahan di posyandu dan beberapa penanganan langsung. “Setiap posyandu kita berikan tambahan makanan untuk bayi-bayi yang dibawa ke posyandu. Ini diberikan dari pusat, provinsi maupun Pemkot Serang dalam bentuk biskuit,” terangnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kota Serang, Lenny Suryani mengatakan, kasus gizi buruk tersebut merupakan pendataan yang dilakukan di akhir tahun 2019. “Ya memang kasus ini cukup banyak, tapi kalau dibandingkan tahun sebelumnya ini lebih rendah. Sementara gizi buruk paling banyak di Kasemen ini merupakan pekerjaan rumah (PR) bersama,” katanya.

Dari total 101 kasus gizi buruk, kata dia, pihaknya telah melakukan intervensi dengan menaikan berat badan. Hingga kini yang tersisa masih 76 kasus yang perlu ditangani. “Kemarin juga ada di Puskesmas Banjar Agung, tapi sudah kami intervensi dengan penanganan dari ahli gizi. Mudah-mudahan tahun ini bisa kita intervensi 76 itu,” ujarnya.

Lenny mengatakan, untuk mengatasi hal tersebut pihaknya memberikan makanan tambahan merupakan bantuan dari pusat maupun Pemkot Serang. Kemudian pembuatan pos gizi dan pelatih gizi untuk penanganan gizi buruk. “Kami tidak tinggal diam, jadi bukan hanya penanganan tapi juga lakukan pencegahan dengan pelatihan ke kader-kader,” pungkasnya. (fdr/air)