Ilustrasi: pixabay

Kalau dilihat dari penampilan, Wiwik (52) nama samaran memang terlihat sederhana. Tapi, ketika ditemui di rumahnya di salah satu kampung di Kota Serang, tempat tinggal beserta kendaraan pribadinya berbanding terbalik dengan gaya berpakaian wanita ramah itu.

Maklumlah, ia memang sebenarnya berasal dari keluarga berada. Puas merasakan hidup bergelimang harta, Wiwik bercerita, dahulu ia pernah mengalami peristiwa memilukan bersama lelaki yang pernah jadi suaminya, sebut saja Wowo (53).

“Ya namanya juga kehidupan, memang enggak ada yang sempurna. Dia ninggalin saya begitu saja. Waktu itu usia 35 tahun dan Kang Wowo 36 tahun,” kata Wiwi kepada Radar Banten.

Wiwi bukan perempuan biasa. Meski terlahir dari keluarga berada, tidak membuat dirinya sombong dan angkuh. Selalu memberi senyum sapa nan hangat kepada teman atau tetangga, itulah pribadi Wiwi yang memesona. Dengan status sang ayah sebagai pengusaha dan terkenal di kampungnya, membuat orang-orang menaruh hormat padanya.

Singkat cerita, sampai usia beranjak dewasa, kedua orangtua menginginkan Wiwik segera menikah. Karena pribadinya yang pendiam dan jarang bergaul bersama teman-teman, ia saat itu belum memiliki pasangan alias jomblo. Apalah daya, tak ada yang bisa dilakukan Wiwi selain terus berdoa sambil memperbaiki diri.

Hingga suatu hari, datanglah dua lelaki mengaku ingin meminang Wiwik. Untuk hal ini, ia tak ingin menyebutkan nama. Wiwik hanya mengizinkan ditulis ceritanya saja. Oke deh. Jadi begini, dua lelaki itu datang bagai malaikat penyelamat saat Wiwik galau menanti datangnya pengeran pendamping hidup.

Lelaki pertama datang membawa kedua orangtua dan menyampaikan tujuan ingin meminang. Namun, katanya, pihak keluarga sang lelaki menginginkan anaknya menunda pernikahan lantaran sang anak harus menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu. Hal ini yang membuat Wiwik berpikir dua kali.

Sedangkan lelaki kedua datang bersama wali yang merupakan kakak tertua. Ia adalah pengusaha dari Kalimantan. Tentu saja, mereka datang untuk tujuan sama, yakni melamar Wiwik menjadi istri. Tapi, ada syarat yang harus dilakukan. Jika bersedia, Wiwi harus mau diajak tinggal di kediaman sang lelaki. Sedangkan ia menginginkan hidup di rumah bersama ibu dan ayah. Oalah.

Bagai menggantung kepastian, Wiwik meminta waktu menentukan pilihan. Datangnya dua lelaki yang hendak menikahi bukannya bahagia, ini malah semakin membuat galau tingkat dewa. Wiwik pun berulang kali curhat pada orangtua dan saudara, hasilnya, mereka menginginkan Wiwik menikah dengan lelaki kedua yang berprofesi sebagai pengusaha.

Namun apalah daya, di tengah kebimbangan menentukan pilihan, datanglah lelaki ketiga, nah, inilah dia yang menjadi lelaki pilihan paling potensial bagi Wiwik, Wowo datang memberi harapan. Dikenalkan lewat peran seorang teman, Wowo memberi kesan positif saat pertama kali berjumpa. Bertegur sapa di acara pernikahan salah satu teman sepermainan. Lantaran kagum dengan sosoknya yang sederhana dan hangat, Wiwik tersipu malu ketika Wowo dengan gagah berani meminta kontak dan alamat rumah. Wih, luar biasa banget nih Kang Wowo.

“Wah, saat itu dia ramah banget. Gaya bicaranya juga asyik, sopan, dan bikin nyaman. Temen-temen juga pada bilang kalau saya cocok sama dia,” ungkapnya mengenang masa lalu.

Terlahir dari keluarga sederhana, ayah buruh tani dan ibu tak bekerja, Wowo memiliki masa muda berwarna. Ya, meski dari segi ekonomi biasa saja, tapi anehnya, kalau untuk urusan cinta, ia dikelilingi banyak wanita. Tak heran, saat baru pertama kali bertemu pun, ia langsung berani to the point pada Wiwik.

“Hahaha, saya juga waktu itu enggak sadar, kayak di sinetron ya, Kang. Ya sebenarnya sih saya enggak nyangka dia bisa seberani itu, tapi saya enggak peduli, lagian juga saya suka tipe cowok kayak dia,” terang Wiwik.

Singkat cerita, tiga bulan menjalani masa pendekatan, lantaran sang ayah sudah mengeluarkan lampu hijau. Maka seolah tak menunggu waktu lama, mereka sepakat menuju pelaminan. Pesta pernikahan pun terlaksana. Mengikat janji sehidup semati, Wiwik dan Wowo resmi menjadi sepasang suami istri. Lah, terus yang dua lelaki sebelumnya itu gimana Teh?

“Ya saya bilang baik-baik kalau sudah ada yang cocok. Meski yang pengusaha itu sempat marah dan bikin saya emosi, tapi waktu itu saya enggak peduli,” terang Wiwik.

Di awal pernikahan, mungkin kecewa dengan keputusan Wiwik memilih Wowo sebagai suami, kedua orangtua dan saudara memberi sikap berbeda kepada rumah tangga mereka. Tak pernah memberi perhatian bahkan terkesan menjauhi, hubungan Wiwik dan keluarganya tak harmonis lagi

Hingga dua tahun berjalan usia pernikahan, Wiwik melahirkan anak pertama, membuat Wowo bahagia. Parahnya, dengan kehadiran sang anak pun, sikap orangtua Wiwik tak berubah pada Wowo. Akhirnya, mungkin lantaran tak nyaman, sang suami memutuskan pindah ke rumah kontrakan sederhana.

Tiga tahun berlalu, Wowo dan Wiwik hidup dengan anak yang mulai tumbuh balita, mereka pasangan suami istri yang tidak diperhatikan orangtua.

Seiring berjalannya waktu, Wowo dan Wiwi terus bersabar menjalani hari. Meski mereka hidup sederhana dengan mengandalkan penghasilan suami sebagai buruh tani. Rasa kepercayaan atas cinta yang sudah terbangun membuat rumah tangga kuat.

Dan suatu hari, tak bisa dimungkiri, beratnya ekonomi menibulkan keretakan antara Wiwik dan suami. Tak ada lagi kata saling memahami, mereka mulai merasa hidup bak di tengah padang pasir nan gersang. Wiwik sibuk mengurus sang anak, sedangkan Wowo tak berdaya memikirkan besok makan apa.

“Ya saat itu saya mencoba sabar. Tapi dia kayak enggak ada usaha. Harusnya tahu punya anak satu, dia ngelakuin apa kek cari kerjaan lain yang lebih bagus,” curhatnya.

Apa mau dikata, ujung-ujungnya, emosi pun menguasai. Jika sudah begitu, tak ada jalan lain, bagaimana pun juga, Wiwik yang masih memiliki orangtua, mengadu pada ibunya. Namun, seolah serbasalah, meski diberi uang, tapi ia harus menerima cacian dari sang ibu dan keluarga. Aih, kok gitu Teh?

“Ya ibu nasihatin sambil nyindir kesel gitu. Biasa, ngebahas pernikahan dengan Kang Wowo,” ungkapnya.

Tak disangka, Wowo yang memang sudah terbawa emosi, mendengar apa yang dikatakan sang ibu mertua. Mungkin kecewa, keesokan harinya, seolah tak mau lagi menatap wajah Wiwik, ia tinggalkan cincin dan sepucuk surat permintaan maaf. Wowo pergi entah ke mana, meninggalkan Wiwik dan anaknya. Astaga.

“Ternyata dia kerja di Sumatera. Setahun kemudian, kata orang-orang dia sudah punya anak istri di sana,” terang Wiwik mengakhiri kisah pilu rumah tangganya. (daru-zetizen/zee/ags)