Tak Kunjung Sidang Skripsi, Rupanya Uang Bayaran Ditilap Pegawai Kampus

0
141
Pengelola STMIK Triguna Utama menggelar pertemuan dengan mahasiswa yang diduga menjadi korban penipuan oleh oknum marketing kampus, di ruang rapat Kampus Triguna Utama, Tigaraksa, akhir pekan lalu.

 

TANGERANG – Dugaan penipuan yang melibatkan oknum marketing STMIK Triguna Utama terhadap puluhan mahasiswa kelas jauh di Balaraja menemui titik terang.

Ini terungkap, setelah manajemen kampus memanggil koordinator marketing STMIK Triguna Utama Tajul Muluk dan mahasiswa, Sabtu (23/9). Dari pertemuan tersebut, Tajul mengaku telah memakai nama kampusnya untuk membuka kelas jauh. Sementara pihak kampus dengan tegas bahwa mereka tak pernah membuat program kelas tersebut.

Mereka juga memastikan tidak pernah menerima uang untuk keperluan sidang skripsi dari mahasiswa yang telah disetorkan kepada Tajul.

”Kami jelas kecewa. Karena batas wewenang (marketing-red) ini disalahgunakan. Jadi yang bikin kecewa yakni tidak ada nomor induk mahasiswa (NIM) tapi minta diakui. Jelas kami merasa dirugikan,” ujar Ketua Yayasan STMIK Triguna Utama, Slamet Riyanto kepada wartawan.

Slamet juga menyayangkan ulah Tajul membuka kelas jauh dengan mengatasnamakan STMIK Triguna Utama. Padahal pihaknya tidak lagi membuka kelas jauh sejak 2013 lalu. Atas dasar itulah, pihak kampus dan mahasiswa meminta pertanggungjawaban dari Tajul. ”Karena niatnya kurang bagus, otomatis kewenangan marketing ya kita tutup,” ujar Slamet.

Disinggung, apakah pihaknya akan menempuh langkah hukum atas tindakan Tajul tersebut, Slamet mengaku akan menunggu perkembangan berikutnya.

”Kita lihat dulu itikad baik dari saudara Tajul untuk menyelesaikan permasalahan ini. Harapan kami, dia bisa menyelesaikan dan merealisasikan janjinya, kami akan menunggu,” tandasnya.

Dalam pertemuan tersebut, Tajul menjaminkan surat tanah dan rumah miliknya seluas 1.000 meter sebagai upayanya untuk mengganti uang mahasiswa yang sudah terpakai. Meski demikian, pihak kampus tidak mau begitu saja percaya, mereka juga harus mengecek keabsahan surat tanah milik Tajul yang ditaksir bernilai Rp400 juta tersebut.

Pihak kampus akan melibatkan tim appraisal untuk mengecek harga tanah itu, apakah nilai sesuai atau tidak untuk mengganti uang yang sudah disetorkan mahasiswa.

Diketahui, saat ini terdapat 22 mahasiswa yang terdaftar di STMIK Triguna Utama dan STIE ISM. Selama ini, para mahasiswa tersebut hanya membayar uang pendafataran awal yang nilainya Rp500 ribu-1 juta per orang. Sedangkan biaya administrasi untuk pelaksanaan sidang skripsi, pihak kampus belum pernah menerima dari tangan Tajul.

Padahal, ke-22 mahasiswa tersebut sebagian besar sudah menyetorkan Rp20,5 juta ke Tajul untuk selama menjalani perkuliahan hingga untuk keperluan sidang skripsi.

Sementara 33 mahasiswa yang mengikuti perkuliahan melalui Koordinator Kampus Necta di Balaraja (Mitra STMIK Triguna Utama-red), di bawah kendali Tajul, mayoritas telah membayar lunas biaya sidang skripsi untuk mendapatkan gelar sarjana.

Sementara, Urip Setiawan, salah satu mahasiswa di STMIK Triguna Utama mengaku, mereka juga dilibatkan dalam proses pertanggungjawaban Tajul membayar ganti rugi rekan-rekannya.

”Kami hanya meragukan apakah nilai tanah dan rumah yang dijaminkan oleh Pak Tajul bisa sepenuhnya mengganti uang yang sudah kami serahkan. Kami, akan tunggu hasilnya, mudah-mudahan ini bisa segera diselesaikan oleh dia,” tandasnya. (HENDRA/RBG)