Semua berawal ketika Kupret (49), nama samaran, memutuskan untuk menikahi Lala (46), bukan nama sebenarnya. Status sosial kedua keluarga yang jauh berbeda membuat hubungan mereka tak semulus sutra. Katanya, prahara sudah terasa saat sebelum pernikahan. Aih, kok bisa begitu sih, Teh?

“Ya kalau Kang Kupret enggak ngotot mah, keluarga dia enggak bakalan setuju nikahin saya sama dia. Sampai akhirnya, di usia saya ke-33 tahun dan Kang Kupret 30 tahun, kejadian itu hampir bikin rumah tangga hancur berantakan,” curhatnya kepada Radar Banten.

Lala bercerita, Kupret berasal dari keluarga berada, sedangkan ia hanya anak petani biasa di pedalaman salah satu wilayah Banten selatan. Mungkin memang sudah tabiat manusia, hanya karena urusan harta, keluarga Kupret tidak pernah menyetujui pernikahan mereka.

Seperti diceritakan Lala, Kupret memang termasuk lelaki tampan dengan gaya elegan ala-ala orang kaya. Meski begitu, bergelimangnya harta tak membuat ia sombong apalagi pongah. Sikapnya yang mudah bergaul dan menerima teman tanpa embel-embel kekayaan membuat Kupret diterima hangat oleh masyarakat.

Tapi, ya namanya juga manusia tentu Kupret tidak sempurna. Selain sikapnya yang keras kepala, sejak muda Kupret hobi berganti pasangan alias playboy. Katanya, kalau saja Kupret tak berjanji bakal tobat meninggalkan kebiasaan lama, Lela tak mau menerima ajakan berumah tangga. Edas.

“Iyalah, Kang. Ngapain terima kalau tahu akhirnya bakal menderita. Kan seenggaknya kalau sudah ada janji, wanita mah bisa sedikit tenang,” kata Lala.

Lala sendiri bukan perempuan biasa. Meski terlahir dari keluarga sederhana, ia dianugerahi wajah cantik memesona. Dengan sikapnya yang lembut dan ramah kepada setiap orang, Lala banyak diperebutkan pria. Jangan salah, katanya, setiap menjelang musim nikah, ada saja lelaki yang datang ke rumah. Widih, masa sih Teh?

“Duh, Kang. Kenapa saya sama Kang Kupret nikah muda tuh karena ya masalah itu. Dia takut saya digaet lelaki lain,” curhatnya. Widih.

Singkat cerita, meski pihak keluarga Kupret hanya datang pas akad dan tak menemani sampai perayaan pernikahan selesai, tak membuat Kupret dan Lala bersedih hati. Seolah sudah siap dengan konsekuensi atas keputusan yang diambil, mereka menikmati semua dengan senyum dan rona wajah penuh bahagia.

Di awal pernikahan, Kupret sempat bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta. Walau penghasilan masih di bawah standar, mereka hidup bahagia. Ya, Setiap kekurangan dan tekanan dihadapi bersama. Senyum, tangis, dan tawa dilalui penuh suka cita. Pokoknya, mereka menikmati betul lembaran baru kisah hidup berdua.

“Ya, waktu itu kita susah senang sama-sama. Pokoknya indah banget. Enggak ada yang ditutup-tutupi, makan cuma pakai sambel dan nasi pun jadi,” kenang Lala.

Setahun menjalani bahtera rumah tangga, lahirlah anak pertama membuat Kupret dan Lala semakin mesra. Hubungan mereka begitu harmonis. Bahkan, seminggu sekali mereka jalan-jalan bersama anak tercinta, memberi hiburan agar Lala tidak bosan di rumah.

Hingga suatu hari, cobaan datang menerjang. Kebahagiaan sirna saat Kupret dipecat dari tempatnya bekerja. Apa mau dikata, akhirnya ia menganggur dan mulai sulit mencari nafkah. Tiga bulan pasca pemecatan sih masih aman karena ada uang tabungan, tapi setelah empat bulan kemudian, mulailah ia merasa kesulitan. Parahnya, seolah tertawa di balik penderitaan, keluarga Kupret terutama kakak-kakaknya cenderung tak peduli. Aih, masa sampai segitunya sih, Teh?

“Ya, memang begitu yang saya rasain, Kang. Padahal mah keluarga saya selalu baik ke mereka, kadang kalau ada acara-acara juga sering dikirimin makanan,” terang Lala.

Beruntungnya, mungkin inilah yang dinamakan manfaat banyak pergaulan. Diajak teman untuk ikut berbisnis percetakan kaos dan berbagai hal di bidang industri kreatif lainnya, Kupret kembali mampu bertahan menghadapi cobaan. Meski pengahasilannya tak sebesar selama bekerja di perusahaan, ia dan sang istri tetap bersyukur menikmati rezeki.

Hari demi hari terus berjalan. Kupret dan Lala perlahan mulai mampu menerima setiap kondisi. Hebatnya, mungkin karena kerja keras dan keuletan Kupret, penghasilan di tempatnya bekerja meningkat setiap bulan. Terlebih, Kupret memang memiliki kemampuan di bidang desain dan mampu mengikuti tren zaman.

“Ya, waktu itu katanya dia sering dipuji temannya yang punya usaha itu. Alhamdulillah upah per bulan juga nambah,” katanya.

Namun, seolah cobaan tak pernah berhenti datang, lagi-lagi ketika mulai merasakan hidup tenang, masalah baru dengan segala konsekuensi menghampiri. Lala menyadari beginilah nasib menjadi istri dari seorang lelaki yang bekerja di bawah kuasa orang lain. Aih, kenapa sih, Teh?

“Waktu itu saya benar-benar enggak nyangka dia bisa ngomong kayak gitu. Iya sih kita memang lagi susah, tapi saya enggak rela kalau demi dapat hidup bahagia, harus ngorbanin cinta,” ungkapnya.

Mulailah Lala menggambarkan bagaimana adegan di siang hari penuh air mata itu. Ia tak tahu di luar kebiasaan Kupret pulang saat matahari masih gagah menyinari bumi. Mengaku sedang tak semangat bekerja, sang suami minta dibuatkan kopi sambil menonton televisi.
Kopi hitam panas pun terhidang di meja depan televisi. Dimintanya Lala duduk di samping kiri. Sambil menatap layar yang menampilkan acara berita salah satu stasiun televisi, Kupret berkata datar tapi menusuk hati. Katanya, ia akan jadi pemilik usaha percetakan seutuhnya dengan syarat menikahi adik perempuan sang teman. Astaga, kok gitu amat, Teh?

“Saya langsung naik darah, Kang. Saya ingin langsung datengin tuh teman dia. Yang bikin saya semakin sakit hati, Kang Kupret malah nanya mau dimadu apa enggak,” tukas Lala penuh amarah.

Beruntung meski sempat mempertibangkan, bahkan hampir-hampir mau menceraikan Lala, akhirnya mungkin tak tega melihat buah hati yang masih balita, Kupret melupakan tawaran temannya itu. Keesokan harinya, ia mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Kini ia dan sang istri membuka usaha percetakan sendiri di rumah.

Subhanallah, semoga langgeng selamanya ya Teh Lala dan Kang Kupret. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)